pembaca yang terkhianati
January 10th, 2009 by nakjaDimande
apa dayaku menjadi pembaca
datang berkunjung dari satu bilik, ke bilik yang lain
berjalan sore ke taman di ujung sana
atau kadang melewati surau dipinggir kampung..bilik itu bukan milikku
taman itu bukan lamanku
surau itu, pun bukan guraukuapa daya bila berlalu.. dan tak terdengar apapun lagi
taman tak lagi dibuka untuk umum
dan surau pun tak lagi untuk berjamaahbolehkah: pembaca merasa terkhianati..?
| RSS | Category: akudanPuisi, tentangLadangjiwa
Tags: bilik, ditutup, pembaca, puisi, surau, taman, terkhianati
Tags: bilik, ditutup, pembaca, puisi, surau, taman, terkhianati



Ouw… Melayu bangetz.
Sebenernya, aku tak benar-benar paham. Yang aku tahu, tampaknya beberapa dari kita tak lagi berminat bersama-sama sebagai manusia lagi. Mungkin, sebagai yang lain. He he….
Arif, iya nih.. susah sekali untuk tak melayu bangetz..
hehhhee makaciiii kunjungannya
sebenarnya puisi itu hanya sebentuk kekhawatiran
akan ditutupnya mungkin beberapa taman dan surau
harusnya saya tak gelisah karena memang taman dan surau itu bukan milik saya
tetapi saya terlanjur menikmati indahnya dari kejauhan..
,
, 
ahh.. begitulah neraka bila mengikatkan diri
sapa yg bilang tamannya kepompong mau tutup..??? wong baru dibuka kok..
tante nakja tenang aja.. kan masih bisa maen ke taman kami..
[...] halnya dengan sicindai, membaca tulisan pembaca yang terkhianati, **sedikitĀ ge-erĀ ** , analogi yang pas bun.. saya lebih memilih ini adalah surau, dimana [...]
Di fikiranku…
Seringkali, sejak kita pandai berfikir
Kita merasakan ada saja yang mengkhianati
Mungkin kerana apa ya?
Adakah kita belum mengerti dunia sepenuhnya?
Atau saja, dunia belum mengerti diri ini?
Ah, kalau dipusing-pusingkan bisa runsing
Duduknya kita di bawah, tak layak memahami yang di atas
Maka, dikhianatilah. Fikir kita.
Cuma dalam hati saja.
Imran,
merasa dikhianati biasanya wujud kelemahan diri
tak mau dan tak berani ditinggalkan sendiri
memang semestinya
mengikatkan hati hanya pada yang SATU,
yang takkan pernah meninggalkan diri
kepompong..,
tak mungkin untuk tak melongok ke tamanmu
kabarnya ada kupu-kupu yang berwarna pink
hmm.. perlu untuk dilihat
aku sendiri bingung tante nakja..
kenapa wujudku sering berubah
berbalas pantun yang indah atas sebuah tulisan. Subhanallah.
Aku tak punya sebaris pun pantun untuk menyambung keindahan kata
Hanya hati yang ikut merasa
kehilangan
ketika harapan tak lagi ada
Aku tak punya seuntai kalimat pun untuk menerang khianat
Hanya hati yang ikut merasa
sepi
ketika harapan tak lagi ada
Aku tak punya …
Maka aku tak kehilangan
Maka aku tak khianat
Maka aku…tak punya
hmm.., tepat teh
bila tak punya
maka tak hilang
maka tak terkhianati
karena memang tak punya..
tapi, orang macam mana yang tak punya kata dan kalimat
sementara hati tetap ada??
tak punya, harapan
hatinya sudah terhanyut
belum lemas
tak punya, harapan
hatinya pernah terkhianat
belum mati
tak punya, harapan
hatinya sudah mati
belum kebumi
hatinya sudah tak kenal
erti harapan, lupa asal
muncul lagi kalimat ajal
tak punya, harapan
hatinya ibarat mati
jasanya mengharap mati
Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun
*pembetulan
tak punya, harapan
hatinya ibarat mati
jasadnya mengharap mati
heheh
speechless..
terimakasih imran