Archive for
May, 2009
May 31st, 2009 by nakjaDimande

terdengar tarikan napas panjang dari seorang ibu lewat separuh baya, saat sampai di puncak tangga.. walaupun cukup lelah, namun salamnya terdengar cukup lantang, kami segera berdiri menyambutnya
ibu satu ini selalu bersemangat, walau datang sendirian tanpa ada yang mengantar.. tak membuatnya terhambat untuk datang belajar.. dan ga pernah terlambat dari waktu yang ditetapkan.. **huhu seringnya kita yang ngaret..
tapi ada yang lain pada kedatangannya kali ini. selain tas perlengkapannya, beliau membawa sebuah radio ditangan.. tanpa dikantongi..
radio itu, radio jaman dahulu.. aku ingat sewaktu SD nenekku juga punya radio seperti itu.. sebelum lohor muter drama radio “Butir-butir pasir di Laut..” dan abis Isya ada “Saur Sepuh”
setelah beliau duduk, kami tanya.. mau diapakan radio itu?
dan beliau bercerita, bahwa radio itu sudah seminggu rusak.. padahal radio itu adalah modal beliau untuk membangunkan anak-anak di pesantren kecil milik beliau..
wawww!!!, baru tahu beliau punya pesantren kecil khusus perempuan.. dan woww..!!! radio itulah yang membangunkan ank-anak itu shalat subuh.. Subhanallah..
beliau lah si cangkir kosong, yang selalu berikan ilmunya pada anak-anak pesantren itu.. kemudian mengisi cangkirnya kembali dengan ilmu, dari siapa saja..
walau di usia yang menjelang senja..
sungguh.., pokoknya aku suka gayamu, grandma..!!!
[sebenarnya mau ngomong “gw suka gaya lo, grandma..!!!” **ga berani**]
May 29th, 2009 by nakjaDimande
[syair oleh O.R Mandank.. judul syair tak kutemukan
]
Pujangga!, turunlah, O, Pujangga!
Dimanakah tuan lagi bertahta!
Saya hasrat hendak berjumpa
Menemui wajahmu, O pujangga!
Bukan pujangga pemain kata
Tetapi pujangga juru pencipta
Pembawa ujud bukti yang nyata
Yang bukan kata sekedar kata …
note:
karena mencari tentang Narumalina, bertemulah potongan syair O.R Mandank berpuluh tahun yang lalu.. itu adalah ungkapan hatinya.. untuk menyindir dirinya sendiri juga..
hmm, untunglah aku bukan pujangga.. aku hanya bisa tulis kata-kata kosong wahai Bapak Mandank.. tapi akan kucoba, agar tak terlalu banyak sampah.. terimakasih sudah ingatkan aku, walau aku bukan pujangga..
May 29th, 2009 by nakjaDimande
narumalina nama gadis cilik itu
rambutnya panjang lurus, muka bulat dengan mata yang sedikit sipit
tinggal di lereng bukit bersama ibu.. ayah tak pernah dikenalnya, pergi entah kemana
narumalina dan ibu hidup dari hasil ladang di lereng bukit
sekali sepekan turun ke desa menjual hasil ladang
sampai suatu hari..
narumalina turun ke desa sendirian
hati bertanya..? ternyata ibu telah pergi untuk selamanya
sekian hari narumalina terus hidup sendiri, lalu datang seorang bibi hendak membawanya pergi
si gadis kecil menolak, menangis tak henti.., tak bisa tinggalkan lereng bukit dan ladang.. tak bisa tinggalkan pusara ibunda
[sayangnya.., tak ada yang mengerti narumalina.. semua berfikir untuk membawanya pergi]
dan tibalah saat itu,
beberapa orang menjemputnya ke lereng bukit
[aku sungguh tak tega bercerita bagian akhir ini..]
karena Narumalina ternyata sudah terbujur kaku disamping pusara ibunda
NARUMALINA takkan pernah tinggalkan lereng bukit itu..
note:
1. Narumalina, buku karya O.R Mandank [tahun 1932]
2. Aku membacanya saat kelas 3 SD.. sekitar tahun 1983.. buku yang mengguncang keceriaan kanak-kanak aku.. endingnya itu cukup lama mempengaruhi aku. ‘Ama yang bawakan buku itu, dan ‘Ama menganggap cerita itu cocok untuk aku baca..
3. Aku tak menemukan buku itu lagi.. sudah bongkar-bongkar lemari tak bertemu.. sudah pindah tangan ke tukang loak, mungkin.. padahal ingin aku ulang baca lagi untuk memastikan jalan ceritanya.. gambaran cerita diatas.. hanya berdasarkan tangkapan seorang anak kecil.. dan gambaran fisik Narumalina itu adalah aku..
4. Sudah cek ke om google, tak bertemu apa-apa kecuali tahun terbit.. dan aku baru tahu nama lengkap O.R Mandank adalah Oemar gelar Datuk Radjo Mandonk dilahirkan di Kota Panjang, Suliki, 1 Januari 1913.. hmm usia belasan beliau sudah jd penulis Balai Pustaka
5. Sekarang.. diusia 9 tahun anak-anak tak lagi memegang buku cerita.. sibuk membuat PR dan diselingi menonton sinetron-sinetron aneh..
May 28th, 2009 by nakjaDimande
bersama Richard Gere semalam, ehm.. 
**walau mendadak kedatangan pasukan 7 orang bocah yang siap bergadang mau tonton Bola.. mereka aku ungsikan menonton di TV belakang
sudah tua dia sekarang.., bagaimana bisa? O..o.. aku juga sudah tua ternyata 
berkisah tentang seorang dokter bedah berpengalaman.., yang diluar dugaan pasiennya tewas di meja operasi
Hal seperti ini, seorang dokter yang sudah bedah ratusan pasien.. tiba tiba tersandung pada sebuah operasi biasa.. operasi yang sangat biasa, hanya perlu membuang bisul yang ada di wajah seorang wanita. Dan dia kehilangan pasien itu di meja operasi karena ada kelainan yang tak terdeteksi, berhubungan dengan anestesi..
ffiiuuuhhh.., sekian lama hal yang sama menghantui aku
Sering berpikir, dari sekian pasien yang aku hadapi setiap hari.. adakah satu yang akan membuat aku tersandung.. setiap melakukan anesthesi yang walaupun hanya lokal.. tetap membuat aku bertanya-tanya..
Bila sedang paranoid seperti itu, rasanya mau berhenti saja.. 
Tapi tak bisa begitu, jalankan tugas ini adalah butiran tasbihku
Aku hanya perlu mohon perlindungan pada Yang Maha Menjaga, apapun itu takkan pernah diluar KehendakNYA, yang pasti selalu untuk kebaikkan hambaNYA
Tugasku adalah terus belajar, selalu hati-hati dan teliti ** uuuhhh inilah tantangannya.. hati-hati dan teliti.. harus.. harus..
“Ya Rabb.. bimbinglah aku dan semua teman-teman lakukan tugas sebaik-baiknya, amiin..”
Kembali ke Richard Gere semalam
**Diane Lane juga deng.. 
Film ini tak membahas banyak tentang hal kematian pasien tersebut, lebih banyak tentang pendekatan sang dokter kepada keluarga pasien , hubungan ayah dan putranya, ibu dan putrinya.. lalu sisanya, melulu drama romantic.. my favorite, hehhhee
**dan KD pun tersenyum sambil gelengkan kepala, takjub melihatku berderai air mata.. halah
May 27th, 2009 by nakjaDimande

Ehm.., hanya ingin berbagi pemandangan ruang kerjaku yang baru.. berada persis disamping sawah. hampir sebulan aku bertugas disini.. **terlewat sudah kisah aku menangis terisak-isak tinggalkan Puskesmas lamaku yang berada ditengah rumpun bambu..
Semoga jadi penambah semangat.. dan pengingat bahwa disini aku dipinjamiNYA sajadah yang indah.. apakah aku masih setengah hati gulirkan butiran demi butiran tasbih..
la hawla wa la quwwata illa billah..
there is neither change nor power except by means of Allah.
there is no transformation or strength except through Allah.
there is neither progress nor might except through Allah.
May 26th, 2009 by nakjaDimande
Aku adalah pengamat status FB seorang biyan.. gaya bahasanya yang halus namun menghujam tajam
Akhir-akhir ini apalagi, sangat menarik.. terasa sungguh bila sigadis belasan tahun ini sedang jatuh cinta.. kadang aku menggodanya sesekali
“.. teruslah jatuh cinta, biyan..” pesanku padanya dahulu
berapa hari yang lalu, entah angin apa biyan menulis kepadaku
Biyan: dulu bundo pernah bilang sama biyan “teruslah jatuh cinta..”
tapi tenyata jatuh cinta beneran itu susah ya bundo??
agak ribet gmn gt..hhe
[sebagai ABG, biyan menulis dgn singkatan2 yg bisa membuat orangtua spt saya pusing]
Aku: semua jatuh cinta itu beneran biyan..
biyan harus gali terus hakikat jatuh cinta yang sesungguhnya…
belajarlah terus..**jatuh cinta itu kudu pake belajar juga 
yang beri rasa itu SIAPA..???
tak mungkin rasa datang dengan sendirinya
SIAPAKAH DIA
yang beri rasa itu agar biyan berpikir
sambil tersenyum, sambil tertawa.. sambil menangis..
Biyan: tapi kenapa harus sambil menangis bundo??
Aku:memang begitu biyan.. 
biyan harus menangis dan tertawa, karena DIA tak pernah beri satu rasa saja
lengkap.. lebih lengkap dari warna pelangi
setelah berapa jam kemudian.. aku kembali baca statusnya:
Biyan: Just crying again and again!!
Tersenyumlah aku, nah kubilang juga apa..!!!
Biyan, biyan.. sudahkah kau cari nak.. SIAPA yang beri rasa itu..???
Rasa yang setengah mati membunuhmu..
Sudahkah kau tanya pada hati, seberapa banyakkah ia bisa memuat..???
Dan sudahkah ia menjawab bahwa , Hati Hanya muat satu cinta..
SATU CINTA yang tak kan pernah membuatmu lelah dan bersedih..
Temukanlah SATU itu..
and.. you’re in love in every way.. **Jason Mraz akan beritahu..
May 21st, 2009 by nakjaDimande
Yang ada hanyalah batang labu siam yang merambat menutupi hampir semua pagar pembatas dengan kampung ujung.. ada sungai kecil pemisah.. dahulu sekali, aku menyeberang hati-hati melewati 5 batang bambu yang melintang di atasnya.. licin, apalagi setelah hujan
Sekarang sungai itu bertambah kurus.. rasanya dengan sekali lompat sampailah aku disebrang **tapi tak pernah kulakukan, karena aku tak pintar melompat
Kampung yang berada disebrang sungai itu disebut kampung ujung.. warganya pun kami sebuat ‘orang ujung’.. surau mereka, kami sebut ’surau ujung’.. ladang nenekku yang berada disana kami sebut ‘parak ujung’ disana ada sedikit tanaman wortel dan buncis..
sedangkan rumahku berada di kampung tengah.. jadi aku adalah ‘orang tengah’.., surau disebelah rumahku disebut ‘surau tangah’ padahal sudah lama diberi nama mushalla Darul Wustha.. tapi tetap saja disebut ‘surau tangah’.
tak mungkin ada padang ilalang dibelakang rumahku..
karena semuanya dipakai untuk sawah, tempat tinggal dan sedikit ladang.. dahulu sampai usiaku belasan tahun semua ladang masih berisi batang pisang dan rumpun bambu, itulah mengapa kampung kami disebut kampung Aur Kuning [Bambu = Aur] sekarang tak ada lagi, karena ladang sudah menjelma tempat tinggal. hmm.. entahlah, apakah ladang nenekku sebentar lagi juga hilang dari pandangan..?
Bukittinggi.., tanah disini mahal sungguh. Sehingga orang senang menjual sawahnya, lalu menjelmalah toko-toko besar itu.. sekarang sulit bagiku memandang langsung ke arah Marapi, harus pergi dulu kekamar atas agar bisa kulihat gunung dan sawah yang tersisa..
ahh.. aku hanya ingin memberitahumu bahwa dikebun belakang rumahku ada labu siam yang rimbun sekali.. dan semua dipersilahkan mengambilnya, bila tak punya sayur untuk makan siang nanti..
**hanya itu saja.. tak mau sakit hati bahas toko-toko tinggi besar itu.. semua orang memang perlu uang.. tak mengapa, hmm.. **tanpa ekspresi**
May 20th, 2009 by nakjaDimande
kali ini merindu..
rindukan sahabatku si penyair tua
kemarin sore aku masih bicara pada matanya
dan tetap kulihat senyum dari huruf –huruf yang terpahat
namun seringkali aku ragukan itu..
aku ingin menuduh camar telah patuk luka dimatanya
ingin caci maki ombak terlalu deras sulit ditebak
namun tak bisa karena akulah itu, sang terpidana
[dia tertawa setiap kali aku salahkan diri..]
hey, penyair tua..!!!
pinjam saja buku itu dari sang legenda Iwan fals
lalu kan datang burung senja mengepakkan sayap
tulis sajak indah
hanya untukmu seorang
tentang mimpi-mimpi malam
note: aku sudah sering tulis sajak indah untuk si penyair tua.. walau dia tak pernah berkata indah, hehhhe…
May 16th, 2009 by nakjaDimande
koran hari ini berkata merah putihku terpuruk
tak pahamlah aku maksudnya, terpuruk sejak hari ini atau sudah dari lama
ah, mungkin tak usah baca koran lagi
besok pasti dia berkata merah putihku sudah tersobek-sobek
lapuk, luntur atau entah apalagi..
bagiku, merah putih tak pernah pupus
masih selalu ada, disini..
tidak harus dalam simbol bendera
tapi pada langkah setiap jiwa yang kutemui
masih ada merah pada jiwa-jiwa yang berani berbuat untuk sesama
masih ada putih pada jiwa-jiwa yang selalu menghadap diri pada yang SATU
tak perlu kau bilang merah putihku terpuruk
saat kenyataan ternyata tak sesuai harapmu
jangan lalu kau duduk sendiri, ayolah bersama..!
dan kau akan lihat merah putihmu berkibar
tak lagi terpuruk..
May 15th, 2009 by nakjaDimande

gadisku meminta untuk pergi ke sawah nenek, cukup jauh di ladang ujung
“ayolah, kaka ingin tau rasanya ‘mairiak padi’ ..” rengeknya pasti, tanpa manja
jadilah jalan beriringan melewati pematang, hmm.. pematang selalu memberikan rasa rindu..
sampai disana gadisku mencoba dengan gagahnya, mairiak padi.. melepas bulir demi bulir padi dari batangnya.. “tak adakah cara yang lebih mudah dari ini..?” si gadis mulai kepayahan.. tapi dilanjutkannya lagi “ah, nanti biar kaka bikin sendiri alatnya..” cukup percaya diri..
sembari nenek si gadis mengingatkan tentang nasinya yang kadang bersisa, tak dihabiskan.. padahal susah payah menghadirkan sebutir nasi itu untuk sampai dihadapannya.. rupanya cukup mempan, menasihati gadis itu dengan langsung melihat kenyataan yang ada dihadapannya.
aku sesekali meliriknya.., tetap gemulai ditengah kegagahannya itu.. seperti biasa dikepala ini akan muncul lagu yang sesuai untuk mengiringi situasi saat itu.. Dara, Harvey Malayholo..!!! **mau bagaimana lagi, si bundo hanya punya file lagu lama dikepalanya..
Dara, aku melihatmu
Hanyut dalam gerakanmu
Gemulai kau menari
Seiring nada syahdu
Aku termangu-mangu
Dara, kau sungguh jelita
Anggun dan penuh pesona
Binar bola matamu
Dan senyuman menawan
Menggetarkan jiwa
Oh dara…
Kau pikat hati yang tak mengerti
Apa arti senyum di sela-sela tarianmu
Namun sikap wajarku tlah hilang
Ditepis gairah cinta yang begitu dalam
Kucari kau ke sana
Kucari kau ke sini
Ke ujung dunia pun tak peduli
Hmm.., lagu yang indah..
Makan siang ditengah sawah setelah ikut bekerja, sungguh dinanti.. hiruk pikuk berganti dengan wajah-wajah antusias menghadapi lauk yang hanya sederhana.. tapi penuh kenikmatan..
dan O..o.. mana gadisku..? dia sudah kembali tekun dengan benda kesayangannya
nak, sementara ini takkan kukenalkan FB padamu..
nanti aku buatkan blog untukmu, agar kau tak telat menulis catatan perjalanan cintamu..
dan saat aku mengkritiknya tentang kukunya yang merah itu, langsung dijawab : “Lhah.. kan bundo sendiri yang kasih kaka inai dari mekah kemarin..”
huhu, aku saja tak pakai.. gadisku memang sudah remaja
kaka nanti segera pake jilbab yaa.. pasti tambah cantik..
May 15th, 2009 by nakjaDimande
diakhir mimpi, saat malam masih mentah merangkak
aku mendengar raungan keluar dari mulutku
sekuat tenaga ku katakan tidak pada sesuatu yang hendak merampas
entah merampas apa, tak dapat kumengerti
yang pasti aku tak rela hingga terus meraung-raung
terbangun,
takjub dengan airmata yang ternyata benar-benar hadir disudut mata
dan laki-laki disebelahku berkata dengan penuh kasih
“adinda dan DIA masih saling memiliki, sama sekali tak ada yang hilang”..
lalu kuteruskan tangisku, sampai subuh
beritahu aku wahai..
bagaimana hentikan tangis ini
tangis yang bukan karenaMU
tangis yang bukan karena takut kehilanganMU
tolong aku wahai..
karena satu yang kutahu, hanya kepadaMU tempat memohon pertolongan.
« Previous Page