sajak ‘lumayan’ indah untuk si penyair tua..
May 20th, 2009 by nakjaDimande
kali ini merindu..
rindukan sahabatku si penyair tua
kemarin sore aku masih bicara pada matanya
dan tetap kulihat senyum dari huruf –huruf yang terpahat
namun seringkali aku ragukan itu..
aku ingin menuduh camar telah patuk luka dimatanya
ingin caci maki ombak terlalu deras sulit ditebak
namun tak bisa karena akulah itu, sang terpidana
[dia tertawa setiap kali aku salahkan diri..]
hey, penyair tua..!!!
pinjam saja buku itu dari sang legenda Iwan fals
lalu kan datang burung senja mengepakkan sayap
tulis sajak indah
hanya untukmu seorang
tentang mimpi-mimpi malam
note: aku sudah sering tulis sajak indah untuk si penyair tua.. walau dia tak pernah berkata indah, hehhhe…



saya belum menjadi tua, tapi ijinkan saya mengatakan bahwa tulisan di atas itu indah
suatu saat nanti ketika kau sudah menjadi tua
ambil lah puisi ini untukmu..
hehhhee, makaciy antown
salam…
indah sememangnya hadiah yang cukup lumayan kan?
salam, syirfan..
semoga saja cukup, namanya saja penyair tua.. sudah terlalu banyak kata dikepala. sehingga sajak yang hanya ‘lumayan’ ini belum tentu terlihat olehnya
mungkin belum cocok dengan jiwanya biarpun “lumayan”.
barangkali mahu kau terus berusaha.
cocok atau pun tidak..
sebenarnya aku hanya ingin mengganggunya saja
tapi senang juga berlatih membuat puisi
dengan cara mengganggunya begini.. bila tak ada inspirasi lagi
si penyair belum tua ko’ bun.. kan ktnya masih imut2..
uwhhh,, kapan ya raya bisa bikin kata2 seindah itu.. *jealous :mode
n
hehe Rein yang panggil dia penyair tua.. karena bagi rein dia sudah tua..
bagi bundo sih emang masih imut
raya juga bisa
cobalah tulis saja.. apapun..
bahkan sumpah serapah bisa terdengar indah
dan jadikanlah siapapun, apapun.. jadi sumber inspirasimu
**sudah banyak yg jadi korban puisi picisan bundo
Terima kasih untuk selalu membangunkan si penyair dari kantuknya. Bukan karena ada apa atau karena siapa namun rasa malas yang masih mengalir dalam jiwanya…
rupanya si penyair masih mengantuk..
hati-hati berjalan keluar ladang, khawatir tak terlihat jalan setapak
Kantuk bukanlah penghalang langkah, si penyair tua sudah sangat hapal dengan ladang dan sekitarnya kok bun.. tak kan tersesat
semoga
hmm …..
memang hmm..