Tak ada padang ilalang di belakang rumahku..
May 21st, 2009 by nakjaDimande
Yang ada hanyalah batang labu siam yang merambat menutupi hampir semua pagar pembatas dengan kampung ujung.. ada sungai kecil pemisah.. dahulu sekali, aku menyeberang hati-hati melewati 5 batang bambu yang melintang di atasnya.. licin, apalagi setelah hujan
Sekarang sungai itu bertambah kurus.. rasanya dengan sekali lompat sampailah aku disebrang **tapi tak pernah kulakukan, karena aku tak pintar melompat
Kampung yang berada disebrang sungai itu disebut kampung ujung.. warganya pun kami sebuat ‘orang ujung’.. surau mereka, kami sebut ’surau ujung’.. ladang nenekku yang berada disana kami sebut ‘parak ujung’ disana ada sedikit tanaman wortel dan buncis..
sedangkan rumahku berada di kampung tengah.. jadi aku adalah ‘orang tengah’.., surau disebelah rumahku disebut ‘surau tangah’ padahal sudah lama diberi nama mushalla Darul Wustha.. tapi tetap saja disebut ‘surau tangah’.
tak mungkin ada padang ilalang dibelakang rumahku..
karena semuanya dipakai untuk sawah, tempat tinggal dan sedikit ladang.. dahulu sampai usiaku belasan tahun semua ladang masih berisi batang pisang dan rumpun bambu, itulah mengapa kampung kami disebut kampung Aur Kuning [Bambu = Aur] sekarang tak ada lagi, karena ladang sudah menjelma tempat tinggal. hmm.. entahlah, apakah ladang nenekku sebentar lagi juga hilang dari pandangan..?
Bukittinggi.., tanah disini mahal sungguh. Sehingga orang senang menjual sawahnya, lalu menjelmalah toko-toko besar itu.. sekarang sulit bagiku memandang langsung ke arah Marapi, harus pergi dulu kekamar atas agar bisa kulihat gunung dan sawah yang tersisa..
ahh.. aku hanya ingin memberitahumu bahwa dikebun belakang rumahku ada labu siam yang rimbun sekali.. dan semua dipersilahkan mengambilnya, bila tak punya sayur untuk makan siang nanti..
**hanya itu saja.. tak mau sakit hati bahas toko-toko tinggi besar itu.. semua orang memang perlu uang.. tak mengapa, hmm.. **tanpa ekspresi**



Salam tuan tanah…
Pasti ladang di belakang rumah tu punya memori yang cukup mengusik?
Ladang belakng rumah saya hanya mengajar saya bahawa pisau itu tajam dan melukakan. Bekas luka masih ada ditapak tangan… hehehe
aku bukan tuan tanah, aku menumpang tinggal dirumah usang..
berjalan dipematang sejak aku bisa mengingat sampai dewasa, apakah itu termasuk memori yang mengusik..??? sampai di ladang aku hanya ikut makan saja, jadi tak pernah ada bekas luka ditelapak tanganku
disebelah rumahku disebut ‘surau tangah’ padahal sudah lama diberi nama mushalla Darul Wustha.. tapi tetap saja disebut ‘surau tangah’.
“wustha itu kan maknanya pertengahan dan kesederhanaan”
barangkali kau masih bertuah,aku langsung tiada apa yg tinggal,yang wujud rumah batu deretan utk disewakan…parit kecil mengalir lesu biarpun hujan lebat…ermmm…hanya tinggal dalam kotak memori..
hey, aku baru tahu..!!! **tak ada hasil belajar bahasa Arabku
terimakasih encik..
tak mengapa bila hanya tinggal di kotak memori, diikhlaskan saja..
sudah cukup senang bila masih punya kenangan
bisa kau lukis kapanpun mau
sayang sekali.. hanya tinggal memori ya…
*teteup..
ada futu2 nya ga bun,,
walau tinggal ditengah hutan beton,, sekejap raya masih bisa lihat rumpun bambu dan ilalang (walo bukan ladang).. dipinggiran kali,, yang rencananya akan dijadikan saluran p’buangan air ke laut.. (banjir kanal barat & timur)…
tapi sayangnya ga bisa futu2,,krn lihat dari dalam busway..
nanti bundo cari foto2 lama lagi.. mudah2an belum pada jamuran
memang banyak yang harus mengalah ray, tak apalah demi kebaikan bersama juga agar jakarta tak banjir lagi..
kita cari ilalang di jalan tol cipularang saja
Ada perubahan seiring waktu
Dan ini semua sudah suratan
Semoga kenangan baik, tetap menjadi penyemangat senyum di kemudian
InsyaAllah A
perubahan adalah pembelajaran untukku, warga kampung dan pemerintah
dan aku yakin anak-anakku kelak pasti tetap punya kenangan manis tersendiri di masa masa mereka, karena Allah selalu Maha Adil.. amin
Salam .
kita belum Merdeka karena semua punyaan Raja …eeeee gak nyambung ya . itulo Bund tanahnya .
hehhhee, merdeka dong pak Doel.. harus merdekakan diri sendiri
“bagai aur dengan tebing”
ujung dan tengah tetap tak terpisah walau terpaksa melompat.
cuma mana pangkalnya?
ah, aku terlupa cerita pangkal..
bagian pangkal disebut kampung manggih
bagian atas disebut kampung mudiak.. dan lalu kampung hilia sebelah bawah
tapi sebenarnya bagian pangkal aur itu sudah habis aku masak jadi gulai Rebung..
[...] 23, 2009 oleh hutriest Senang rasanya membaca tulisan Bundo yang terakhir meski isinya adalah cerita sedih. Penggunaan dan penekanan kata-kata Bundo mengingatkan pada banyak [...]
ehm.. ehm..
waktu kecil aku suka mencari ilalang di samping kuburan untuk memenuhi keranjang untuk dibawa pulang sebagai pakan sapi
kuburan dan ilalang.. dan sapi **tq mas narno, bisa untuk puisiku nanti..
Mm.. Salah satu penyebab global warming tu buu…that all Just bcoz the money… Smoga dikaki gunung yg sblh sini gak dibangun toko2 yg kayak dikampung ibu yah (skalian mall maksudna he2). Btw kapan2 kita pesta labu siam ya bu ; )..
Kaki gunung sebelah sana belum akan dibangun mall.. mungkin sekitar 20 thn lagi sandra
pesta labu siam, hayuk.. jangan ibu disuruh masak yaa…
[...] cuci pakaian, cuci piring, mandi. Sekarang pun masih ada kolam-kolam yang digunakan untuk itu. Di kampung Ujung kebanyakan rumah masih mempunyai [...]