merindukan “Pujangga” tapi bukan ‘Pujangga Pemain Kata’ melainkan pujangga yang turun ke bumi nyata dari tahta untuk memberi bukti perbuatan
May 29th, 2009 by nakjaDimande
[syair oleh O.R Mandank.. judul syair tak kutemukan
]
Pujangga!, turunlah, O, Pujangga!
Dimanakah tuan lagi bertahta!
Saya hasrat hendak berjumpa
Menemui wajahmu, O pujangga!
Bukan pujangga pemain kata
Tetapi pujangga juru pencipta
Pembawa ujud bukti yang nyata
Yang bukan kata sekedar kata …
note:
karena mencari tentang Narumalina, bertemulah potongan syair O.R Mandank berpuluh tahun yang lalu.. itu adalah ungkapan hatinya.. untuk menyindir dirinya sendiri juga..
hmm, untunglah aku bukan pujangga.. aku hanya bisa tulis kata-kata kosong wahai Bapak Mandank.. tapi akan kucoba, agar tak terlalu banyak sampah.. terimakasih sudah ingatkan aku, walau aku bukan pujangga..



pujangga, layakkah diriku disebut pujangga?
Aku tak yakin sepenuhnya
ya..! mas narno InsyaAllah sudah pujangga bagi aku
karena sudah menulis dengan penuh tanggung jawab **tak apalah mas dipuji-puji dikit
saya menulis puisi sebagai buah keresahan pada keadaan, yang tak mengenak di hati. Dan yang kadang saya sendiri bingung, sebagian besar puisi-puisi saya menyebabkan orang yang membacanya menafsirkan dengan berbagai penafsiran. Ah biarlah orang memberi arti
disitu keunikannya mas.. tak selalunya orang lain tahu apa yang kita maksudkan di puisi itu..
dan memperkaya jiwaku saat tahu bagaimana cara orang lain mengartikan puisiku
itulah berkahnya saling berbagi..
Judulnya panjang sekaliii… ^^
sengaja, agar Me turun kebumi menyapa ladang ilalang..
selalu hadir
mengintip dewi penyair menjelma di ladang ilalang,
meski sapa hanya satu-satu
semoga bisa menyejukkan ladang…
*Me kan pemalu xixixi…
ah, sejuk sekali ladang ini.. bila penyair langit yang pemalu sudi mengintip ladang setiap saat
Kao A pujangga bukan?
ah, A jadi kuya -kuya dalam pelahu..
iyalah, A Pujangga Langit..
kalo rayya pasti bukan pujangga..
**tidak pantas sama sekali.. hehehh
Rayya pujangga hati bundo..