Limpapeh Rumah nan Gadang..
June 2nd, 2009 by nakjaDimande
Perempuan dalam adat Minangkabau diungkapkan sebagai Limpapeh [tiang] rumah nan gadang, sumarak dalam nagari, hiasan di dalam kampuang, umbun puro pegangan kunci, kok hiduik tampek banasa, jiko mati tampek baniat, ka unduang-unduang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo.
Hmm, tak hendak menjelaskan makna kata diatas.. barisan kata-kata yang seharusnya indah itu sudah sangat biasa didapati disetiap pembahasan tentang perempuan minang..
Tak hendak pula membahas bahwa bangsa yang paling nyata menganut paham matrilinial ialah masyarakat Minangkabau. Keturunan yang dihitung menurut garis ibu. Garis keturunan ini amat penting **katanya** dalam menentukan suku dan urusan pewarisan pusaka suatu kaum yang disebut sako dan pusako.
Aku tak pernah peduli dengan kata-kata diatas.. karena sudah terlalu sering kubaca dan seringnya ditulis sebagai hiasan saja.. dan digunakan pada saat situasi menguntungkan bagi “satu pihak”
** sebenarnya aku malas bila harus menulis tentang suatu yang bernada tuduhan.. bisa merusak nuansa cinta bulan Juni ku
namun ingin berbagi kisah tentang Lian.. Lianku..
***
“ibu, sekarang Amak sudah tak ada.. Apak sudah menikah lagi, aku sudah berani bu.. aku akan pergi apapun tantangannya”
tak peduli lagi ancaman Rumah Gadang akan dibakar
bila dia berani tinggalkan rumah.. **ancaman dari para penguasa Lian
dulu.. ah rasanya sudah lama sekali 2 tahun berlalu
Lian harus putuskan kekasihnya, karena persyaratan itu
si gadis sama sekali tak diijinkan pergi tinggalkan kampung
sakit pasti.. rajutan masa depan hancur didepan mata
masihkah semua alasan itu berlaku..
alasan bahwa dia adalah limpapeh rumah gadang..
tak bolehkan dia menjadi tiang dirumah yang ingin dibangunnya sendiri
siapakah sebenarnya pemilik diri..???
Pergilah Lian.. pergilah.. aku, ibumu selalu doakan..
***
sedikit lemas karena membuatku teringat dakota fanning [lewellen] di hounddog **sama sekali tak usah kau tonton film itu.. gadis kecil yang terpenjara di rumah yang bukan ‘rumah’ dan semua biarkan jiwanya tersobek-sobek.. untuk kemudian membawanya pergi..
aku mengenal Lian, seorang Lewellen yang seharusnya biarkan dia pergi dari awal..
berbeda dengan Narumalina yang justru tolak tinggalkan lereng bukitnya.. aku juga mengenal seorang Narumalina lain, yang tak pernah bisa tinggalkan bukitnya terlalu lama, hmm.. hmm..
***
mengapa tak biarkan saja setiap diri memilih tempatnya sendiri
mengapa kita selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya
padahal dia bukanlah milik kita.. bukan milik siapa-siapa..
dan tak perlulah ku banyak bertanya, karena skenarioNYA memang selalu yang terbaik..
Tags: adat, limpapeh, minang kabau, perempuan, rumah gadang, tiang



Era modernisasi ternyata belum mampu mengalahkan adat
*nggak nyambung ya*
modernisasi tak pernah bisa mengalahkan ‘faktor kepentingan’ masoglek..
“Tiang seri Rumah yang Besar”.
Tiang itu letaknya di situ,tidak mungkin ia ke mana?
Susah juga kan?
Bersilat biar berbunga,beradat biar beragama.
haruskah penjarakan fisiknya ditiang itu..??
kurasa dia bisa menjadi tiang walau raga pergi mengembara..
Adat bersendi syarak
syarak bersendi Kitabullah..
bila benar dijalankan.., senyumlah dibibir semua orang..
Benar katamu itu…

kita bisa menjadi tiang walau raga mengembara…
Makasih dah visit n kasih koment, tapi masih jauhan punya mbak deh hehehehe
Walah yoga.. ladang mbakmu kok dibilang jauh siy..
buktinya 1 detik yoga sudah sampai di ladang ilalang ini
kalau tidak salah banyak tokoh sastra lahir dari Minangkabau, dan jujur saya iri akan hal itu
benar mas.. . jujur aku lebih iri lagi.. hanya bisa menikmati tanpa bisa berkarya seperti mereka..
**paling berkesan Nur st Iskandar “salah pilih”.. aku ambil tanpa ijin dari lemari buku kakekku Alm, masih ejaan lama.. lembar kertas coklat dan bagian pinggir dijahit benang.. cerita yang begitu indah menurut aku yang waktu itu masih SD..
kalau di jawa dulunya jika bukan orang keraton tak kan diakui sebagai pujangga, sehebat apapun, maka amat sedikit penulis generasi sebelum 45, paling-paling nama-nama yang punya gelar kebangsawanan semacam Ronggowarsito
gpp mas.. itu proses waktu
yang penting sekarang banyak bertebaran pujangga-pujangga langit dari seluruh penjuru.. **mas narno juga
salam kenal
sesekali mbok nulis Sejarah tuanku imam bonjol atau kerajaan pagaruyung uni..!Supaya jiwa nasionalisme tetap tumbuh subur di jiwa anak nusantara.
wassalam
hmm, usul yang menarik mas Ngabehi
karena selama ini aku tulis yang ringan2 saja.. tapi harus mencoba, InsyaAllah..
hanya aku perlu belajar dulu agar bisa menulis dari sudut yg berbeda.. huh! memikirkan sudut yang berbeda itu sudah membuatku berat..
terimakasih kunjungannya..!!!
yang pasti.. rayya paling ga suka didikte.. hehehh,, biarkan kaki ini melangkah kearah yang dia suka..
**badung bangets ya anak mu ini bun,,.. lihat dia sudah minggat 2 minggu dari rumah,, tanpa kabar berita..
sungguh nakal, biarkan bundo masak dan cuci piring sendirian..
Mohon kiranya pemangku adat atau orang yang mengerti tentang adat istiadat Minagkabau selalu memberuikan pencerahan kepada anak2 muda baik dikampuang apolagi di parantauan, muatan lokal untuk sekolah tetap dipertahankan tetap ada di Minangkabau bahkan lebih ditingkatkan nak paham anak kemanakan kito tarutamo generasi penerus apo bana yang disabuik Limpapeh Rumah nan gadand serta adat basyandi syara`, syaea` basyandi kitabullah