June 9th, 2009 by nakjaDimande

rintik, rintik
hanya serintik saja hujan tak deras
entah mengapa
hatinya mulai menggigil
lirik, lirik
hanya selirik saja lihat tak jelas
tapi entahlah rasa
hatinya ikut memanggil
menyahut, menyapa
bermekaran si bunga mungil..!
June 6th, 2009 by nakjaDimande

hanya duduk duduk saja sendirian di tembok hati memikirkan kata untuk puisiku yang terbengkalai.. kemudian sedikit riang diantara kejemuan saat kepik beritahu bahwa langit kali ini akan membiru tak seperti kemarin lalu, huh! jemu karena banyak ingin ini dan itu seolah semua berada digenggamanku.. bisakah bersabar tunggu senja saat langit kan lembayung pasti hibur hati yang sedang menunggu kabar, dan juga peluk cium.. langit.. langit.. maafkan aku yang banyak pinta, padahal sudah kutahu.. indahnya awan-awan berenangan di birumu.. tak seharusnya aku jemu..
June 5th, 2009 by nakjaDimande
Ough.. terlambat..!!! 15 menit dari pukul empat sore
waktu yang kau pesankan kepadaku
untuk menjemputmu di stasiun hall bandung..
bergegas ku sapu semua ruang pandang
kulihat wajah-wajah berlalu lalang
tak satupun yang seperti wajahmu..
lewat 30 menit dari pukul empat sore
saatnya kupastikan dimana kau berada
yupp..! sebuah suara menyahut disebrang sana
kudengar 3 kalimat diucapkan dengan nada datar
sungguh datar..
tercekat sejenak..
pandang sekelilingku, nanar..
tarik napas panjang, dan mulai tersenyum..
lalu melenggang aku, dengan riang
BEBAS..!!! kau baik sekali
sudah lepaskan aku..
June 2nd, 2009 by nakjaDimande
Perempuan dalam adat Minangkabau diungkapkan sebagai Limpapeh [tiang] rumah nan gadang, sumarak dalam nagari, hiasan di dalam kampuang, umbun puro pegangan kunci, kok hiduik tampek banasa, jiko mati tampek baniat, ka unduang-unduang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo.
Hmm, tak hendak menjelaskan makna kata diatas.. barisan kata-kata yang seharusnya indah itu sudah sangat biasa didapati disetiap pembahasan tentang perempuan minang..
Tak hendak pula membahas bahwa bangsa yang paling nyata menganut paham matrilinial ialah masyarakat Minangkabau. Keturunan yang dihitung menurut garis ibu. Garis keturunan ini amat penting **katanya** dalam menentukan suku dan urusan pewarisan pusaka suatu kaum yang disebut sako dan pusako.
Aku tak pernah peduli dengan kata-kata diatas.. karena sudah terlalu sering kubaca dan seringnya ditulis sebagai hiasan saja.. dan digunakan pada saat situasi menguntungkan bagi “satu pihak”
** sebenarnya aku malas bila harus menulis tentang suatu yang bernada tuduhan.. bisa merusak nuansa cinta bulan Juni ku
namun ingin berbagi kisah tentang Lian.. Lianku..
***
“ibu, sekarang Amak sudah tak ada.. Apak sudah menikah lagi, aku sudah berani bu.. aku akan pergi apapun tantangannya”
tak peduli lagi ancaman Rumah Gadang akan dibakar
bila dia berani tinggalkan rumah.. **ancaman dari para penguasa Lian
dulu.. ah rasanya sudah lama sekali 2 tahun berlalu
Lian harus putuskan kekasihnya, karena persyaratan itu
si gadis sama sekali tak diijinkan pergi tinggalkan kampung
sakit pasti.. rajutan masa depan hancur didepan mata
masihkah semua alasan itu berlaku..
alasan bahwa dia adalah limpapeh rumah gadang..
tak bolehkan dia menjadi tiang dirumah yang ingin dibangunnya sendiri
siapakah sebenarnya pemilik diri..???
Pergilah Lian.. pergilah.. aku, ibumu selalu doakan..
***
sedikit lemas karena membuatku teringat dakota fanning [lewellen] di hounddog **sama sekali tak usah kau tonton film itu.. gadis kecil yang terpenjara di rumah yang bukan ‘rumah’ dan semua biarkan jiwanya tersobek-sobek.. untuk kemudian membawanya pergi..
aku mengenal Lian, seorang Lewellen yang seharusnya biarkan dia pergi dari awal..
berbeda dengan Narumalina yang justru tolak tinggalkan lereng bukitnya.. aku juga mengenal seorang Narumalina lain, yang tak pernah bisa tinggalkan bukitnya terlalu lama, hmm.. hmm..
***
mengapa tak biarkan saja setiap diri memilih tempatnya sendiri
mengapa kita selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya
padahal dia bukanlah milik kita.. bukan milik siapa-siapa..
dan tak perlulah ku banyak bertanya, karena skenarioNYA memang selalu yang terbaik..
June 1st, 2009 by nakjaDimande
O, akhirnya..
hey Juni..!!!, senang sekali melihatmu datang
gelagapan aku segera kedepan cermin,
dan hmm.. satu tahun cukup, untuk merubah wajah dalam cermin
namun maafkan aku, tak ada lagi yang berubah..
aku masih yang kemarin, sama dengan setahun yang lalu
saat kau datang terakhir kali
tak lebih dewasa, tak lebih kuat..
masih serapuh jejak dipasir, yang mudah hilang oleh hujan
aku masih mencintaimu, Juni
walau setahun lalu kau beri hujan deras
hancurkan semua tanggul di ladang jiwaku
tak mengapa..
karena telah datang pelangi, kokohkan lagi semuanya untukku..
dan terus berbunga ladangku tunggu makna hadirmu setiap kali
Selamat datang, Juni.. smoga bisa kunikmati 30 kali pagi
dan saksikan 30 kali matahari terbit, bersamamu..