hujan dalam peran antagonis
August 13th, 2009 by nakjaDimande
hujan mungkin turun lagi senja nanti
menjelma arus liar, menyudutkan bening
terperangkap keruh bertemankan galau
untukmu kali ini, hujan dalam peran antagonis
aku mengerti pahit itu
kala perahu kertasmu hanyut dibawa deras hujan kemarin
kini kau terus menatap dari balik jendela
dan sudut matamu ikut mengalirkan sungai
menangislah yang deras, tapi jangan menghilang
sungguh, tak satupun ingin kehilanganmu..
~*Bukittinggi, 13 Agustus 2009*~
::note: mengapa tak kita cari saja perahu itu?
mungkin ia tersangkut ranting kurus yang rebah kesungai
atau kau buat lagi yang baru..? terserahlah.. tapi kumohon jangan menghilang..




Kehilangan pasti menimbulkan sebuah luka atau goresan walau tak panjang.
Kadang lebih baik ditebas dengan pedang daripada tergores dihati, yang mungkin lama sembuhnya.
Salam hangat dari Surabaya bu dokter
Siapa yang hilang itu, Bundo? Terlalu dalam sepertinya… Hingga tangis pun tak dapat mengobatinya…
Oh… Singgalang… Oh… Merapi…
Lihatlah Bundo-ku di Bukittinggi, diantara ketinggian kalian berdua…
Hapuslah jejak tangisnya…
(Padahal, di Pekanbaru payah hujan sekarang lho,
)
ditemani ’sadis’ nya Afgan puisi diatas terasa berbeda makna, dan sang sungai disudut mata tak sanggup lagi dibendung, halah
Setiap kita pastinya enggan untuk kehilangan, namun terkadang arah jalan hidup yang telah ditulis dengan ketetapanNYA membuat kita harus kembali menata hati bahwa kehilangan bisa jadi adalah satu tanda kasih sayang Tuhan kepada diri kita, meski perih, meski luka..Namun diujung jalan sana ada hadiah terindah yang telah DIA sediakan untuk kita…Dan kesabaran adalah perahu kita menuju ujung jalan itu…
evaluasi dan improve. bagaimana supaya perahu itu tetap berlayar dengan tetap beredar pada jangkauan mata memandang.
barangkali bisa ditambahkan tali untuk menambat perahu itu jangan sampai hilang di cakrawala pandangan…
Bundo, hujan sebentar lagi teduh,
kita cari perahu itu…kasiani ia,
susahkah? atau telah kehilangan jejak..?
jejak2 kehidupan ikut luntur tersapu air..?
jangan biarkan ia menghilang…Bundo.
“untukmu kali ini, hujan dalam peran antagonis”
yang pertama langsung ingat tulisan guskar pas bundo jadi bu direktur
sepertinya ada benang merah antara bundo, rein, dengan hujan. Duh, bahkan hati ini masih terlalu keras untuk memahami sebuah poet bundo, sudah baca berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, masih saja belum bisa tersentuh. Duh Gustiii…
^^ gambar dan tulisannya awesome
bukittinggi nun jaoh di mato…
apa yg bisa saya bantu kecuali mengirim puisi pak Sapardi : HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
tapi aku suka hujan, bundo…
sangat suka…
it helps me hide my tears…
gw disini ko bun… ga ilang…
cuma sedang menikmati hujan membasahi diri…
iiiihh… puisi bundo bagus-bagus! saya baru punya waktu buat baca sebagian pelan-pelan. duh, bundo itu dokter yang bener-bener art, deh!
ini puisi untuk siapa, bun? karena saya tak benci hujan, hanya agak takut kalau sudah disertai tokoh antagonis yang sesungguhnya: badai.
ini kah si sabai nan aluih itu bun?
hujan hanya sekedar menjalankan perannya bund..
semoga perahu yang hanyut segera tergantikan,, dan sang pemilik bisa tersenyum kembali..
**bundo.. rayya yang gaptek mo nanya,, ko bisa nampilin gambar dengan efek hujan turun..?? seperti dirumah rein juga…
hihihi.. maklum ilmunya masih cetek bundo..
menatap dari balik jendela
Bu, suatu saat benda apa saja nyang kita senangi atopun kita benci, lambat ato cepat akan kita tinggal ato lebih dulu meninggalken kita. Tul gak?
akuuu dataaann99999…
tenan9 bundo aku nda men9hilan9,cuma sembunyi sebentar 
buat perahu yan9 lebih kokoh,jika hujan datan9 men9hampiri takkan hanyut oleh rintik yan9 men9hantamnya…ayoo sman9aaddd..!!
jan9an biarkan diri lebur bersama rintik hujan..
tapi menarilah bersama rintik hujan yan9 turun
duuu…hhh Bundo,

air mata pun tak mampu ya utk mengobatinya.Mari Bundo, kita buat lagi perahu yg lebih kokoh…..
salam.
ada apakah gerangan yang membuat nya menghilang Bundo..??
-salam- ^_^
Salam
“tak usah kau cari makna hadirnya diriku, aku disini untukmu” begitu lirik sebuah lagu..
Btw, aku iri bundo, ini poem yang sangat indah..really!!!!
“Adakah memberikan kehilangan akan menyedarkan keberadaan?”
“Jika ya, maka aku hadiahkan buat kamu sebuah kehilangan.”
buku tu belum siap lagi.
tapi blog aku semacam sudah menghilang dulu. errmmm…
aku? di balik-balik apa ya?
singing:
”
sekian lamanya kita bersatu
bersama didalam satu perahu
berlayar di lautan suka duka
menghadapi ganas debur ombaknya …
ketika perahu semakin rapuh
tiang layar patah satu persatu
kau tinggalkan aku seorang diri
dengan lubang besar disana sini ….
Ku tetap berdiri
beribu luka dihati
ku tetap berdiri..
Ku tetap berdiri
walaupun ajal menanti
ku tetap berdiri …..
kini hari pun berganti
memanggil..
mengetuk hati
menantikan petualangan baru …
perahu baru
menunggu
senyumnya manis padaku
mengajakku untuk berlayar lagi ..
”
begitu kata Netral bundo … hehe ..
biarkanlah hari berganti
yakin deh.. saatnya nanti
akan ada perahu baru
yg senyumnya manis sekali dan hanya tuk bundo
dan ia akan mengajakmu berlayar lagi…
makasih bundo, dah kesasar di blog saia
tulisan ini mengingatkan bukunya dee terbaru - perahu kertas…
salam kenal…