Taufik Ismail: kerendahan hati
August 13th, 2009 by nakjaDimande
kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tetapi belukar yang baik
yang tumbuh di tepi danau
kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
jadilah saja rumput
tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
jadilah saja jalan kecil
tetapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air
tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
jadilah saja dirimu…
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
::note:
seperti biasa.. puisi ini pasti ditulis Bapak Taufik Ismail untukku. terimakasih ya pak..



Bukan bundo, itu pasti buat aku..
perselisihan keluarga yang sebaiknya tidak dipublish di blog
Taufik Ismail itu mirip Gus Mus, karya-karyanya sederhana, tapi luar biasa, cocok untuk saya
jadi gak enak ati sama bundo
@vyan,
puisi bang taufiq di atas untuk bundo dan saya : perhatikan gravatar kami.
saya hanya mengutip komentar vyan di artikel ini
coba buka2 majalah horizon.. betapa dahsyatnya pengaruh puisi2 bang taufiq bg para pecintanya.
Itulah GusKar… seng ada lawan (sinyoambon=ON) ada seng lawan siapa?

Aduh.. kemaren abis lembur bayar malam jum’at wage yang terlewat…
Wah kok ada yang begitu pedenya ngomong begitu???
indahnya kata-katanya, mudah dimengerti dan menyentuh sampe ke sanubari, semoga bisa membuat diri ini menjadi rendah hati
Seandainya kita hanya sebuah mur kecil diatu pabrik yang besar, kita tetap berguna. Jangan sia-siakan sebuah mur yang kecil, jika ia melompat masuk sebuah mesin yang besar maka mesin itu akan hancur berantakan dan akan berpengaruh terhadap keseluruhan kinerja pabrik raksasa sekalipun.
Wah, saya kok bisa ngomong kayak gitu sih bu dokter.
Salam hangat dari Surabaya.
hadddiiiirrrrrrrr…..
puisi sederhana sangat sederhana namun sarat dengan makna
be your self… aihh, tapi berapa banyak orang nyang bisa menjadi dirinya sendiri..
cu…
Waah bagus banget puisinya..bisa dijadikan pelajaran niih
Wah…, Bundo ke-GR-an nih. Masa iya sih, pak Taufiq Ismail-nya nulis puisi tsb buat Bundo?
Puisi yang bagus dan inspiratif. Sebagaimana layaknya puisi, ia tak memberikan definisi, sebaliknya ia memberikan imaji…
Pesan yang bagus dari Taufik Ismail, jadilah diri sendiri.
Puisi Taufik Ismail memang menyentuh
Hmmm, no komeng deh! Salam kenal yah
Puisi Taufik Ismail selalu saja menebarkan nilai-nilai kebaikan. Bukan bermain kata-kata yang kosong makna.
ya ya ya pak toufik kan orang bukit juga bund.
walau kau bukan Istriku tapi Bunda adalah sahabatku
asiikkk.. padang rumput ini kembali disiangi sang bundo.. meski sempat rimbun oleh ilalang, tapi ilalangnya tetap memberi manfaat bagi domba-domba yang tersesat
Aku pernah membaca puisi itu Bundo, namun sudah lama sekali, dan dulu ketika aku membaca puisi itu aku menangis…Setelah sekian tahun dan ketika aku kembali membaca puisi tersebut di postingan Bundo,
masih saja aku menangis…Aku cengeng ya Bundo??
Puisi Pak Taufik tersebut begitu lugas dan menghunjam langsung ke palung hati terdalam…
Tak masalah di manapun posisi kita saat ini, selagi kita tetap berusaha meraih panggilan hidayahNYA, maka menjadi diri sendiri adalah sebuah kemestian…
Wooowww, Rita sudah mulai berfilsafat…
ya betul. puisi itu kutuliskan spesial buat dirimu. setelah itu aku berganti nickname saja
taufik ismail, idealisme seorang pujangga. mungkin tinggal dia seorang diri yang tetap berjalan lurus pada jalurnya, pada jalur pemikiran yang dianggap aneh bagi mayoritas masyarakat pragmatis sekarang ini.
Bundo, dapat puisi Bapak Taufik Ismail..??
Membuat saya ingat *puisi abangku almarhum,
puisi itu buatku..? Entah iya ..entah tidak… Entahlah!
Ini puisi itu Bundo,…
—- *0* —-
Indonesia Awal Alaf Ketiga…
Bahagia belum berita
Kemelut di singgasana
Intel tak cium bahaya
Badai menyerang dalam kabut rahasia
Sumpah serapah antara sesama
Saling benci dan curiga
Massa depan gelap gulita
Bahagia bukan berita
Indonesia hanya coba-coba jadi bangsa
Kanak dan remaja tidak pandai gelak
Pemuda tunggu-tunggu bayaran untuk bergerak
Kekayaan negeri dijarah sampai kerak
Bukan hanya kayu, ikan atau minyak
Malah gadis dan janda yang beranak
Dikirim ke negeri asing dihina dan diperbudak
Adakah bangsa lain yang dipermalukan macam kita?
Kita baru coba-coba jadi bangsa
Pada alaf ketiga bahagia bukanlah berita!
Sendi-sendi negara retak
Tiang-tiang persatuan berderak-derak
Tegur sapa santun berganti saling teriak
Musuh menyerang tanpa jejak
Singgasana dipenuhi orang-orang pemuja kuasa
Mereka bukan penyebar arif dan bijaksana
Ada korban api loba dan tamak di jantungnya
Penuh rapuh doa angkara murka
Katanya memberi tapi banyak menerima
Membantu untuk leluasa menjarah daerah
Berbeda cakap dengan sikap
Kita belum tua untuk menyerah
Mari kita bersatu dari bawah dari daerah
Menyusun kekuatan mengembalikan marwah
( * )… Puisi karya Rus Abrus abangku almarhum…/Tadi pagi,…aku berdo’a untuk dia, bayangannya muncul dlm mimpiku semalam,… aku baca ulang puisi diatas … dari buku “Rus Abrus, kumpulan karya sastra…” )
puisinya dalem… kerennn >_<
keren coi…
salam satu jiwa
haiyah bundo….
Awalnya udah syahdu dan penuh makna…
Ko ujungnya….matiin asa… Hahahaha
Bapak Taufiq Ismail saya ada kenangan tersendiri, dua kali bertemu dan dibacakan Sajadah Panjang, air mata tak terbendung. sekali di Jawa Tengah berikutnya di Kuningan, Jakarta Selatan
GR bangetik bu dokter ki
yapz,be ur self and i love the way i’m

pak taufik man9 yosssH daach bundo,makasi bundo
menerawang setiap bait yang terukir indah dalam penuturannya…mantafff Bundo…buat aku aja ya..??
-salam- ^_^
salam
Nah itu dia Bundo, apa pula yang baik yang ada dalam diri awak nie..he..he..*curcol mode*
Salam
Hihi Bundo ndak tahu curcol siy, tanya Mas Guskar aja deh
ney.. bundomu mmg begitu… curcolnya bisa jd puisi dan prosa yg sangat indah…

Salam
Boleh Bun, tapi maklum ya, entah kenapa belakangan ini udang rebusnya sudah berubah warna, merahnya diborong Mas Gus semua, itu tuh nempel di wajahnya wkwkakakak….*puas banget ketawanya*
Piss akh…
jadilah diri sendiri, dan jadilah yg tau diri akan keadaan
hmmmmm …
ilmu tawadhu niy bund… ^^
sulit,, harus punya ilmu ikhlas dulu… hehehhh
puisi in cocok sekali bagi pensiunan seperti saya, yang kadang2 merasa tak punya arti lagi …….. tapi dg puisi ini timbul kesadaran bahwa kita bisa punya arti sekecil apapun dengan menjadi diri sendiri amin
Puisi Pak Taufiq sangat menggugah sekali. beberapa kali saya kutip untuk kegiatan tertentu.
Puisi diambil dari kumpulan apa ya? setahu saya dalam MaJOI tidak ada puisi ini.
Bagi yang punya informasi boleh kirim ke email saya.
terima kasih