October 11th, 2009 by nakjaDimande
Judul yang sangat tidak mendidik dari bundo, duh! kenapa malas terus-terusan begini ya?
baiklah..! agar tetap update bundo mengambil petunjuk dari Nunik, ibu guru narablog itu. bahwa disaat malas kita masih bisa update dengan bermacam cara.. nunik menjelaskan ada 10 cara yang bisa digunakan [baca sendiri di blognya nunik ya]
salah satunya dengan upload foto saja
tapi kendalanya mau pasang foto siapa? tadi siang masih ada harapan akan memasang foto uda Vizon disini.. beliau dengan KD ada rencana mau bertemu, si bundo sudah titip kamera pada KD minta tolong jepretin inyiak surau tersebut.. tapi ternyata pertemuan tak terlaksana karena uda vizon harus segera melanjutkan perjalanan ke Duri.. hmm, tak mengapa.. semoga perjalanan beliau lancar, amiin..
***

akhirnya foto inilah yang terpilih..!
gadis cantik yang belum mandi diatas bernama Adinda Nazwa Rusli. Dinda adalah anak kedua yang bundo beli seharga 50 ribu [itupun masih hutang].. dulu bundo sudah pernah beli anak juga seharga segitu **ternyata harga belum pada naik
[Dinda, jadi total hutang bundo dengan traktiran hokben jadi berapa siyh? 75 ribu saja yaa.. dinda palingan cuman makan puding, mamaw pan lagi diet]
***

foto berikutnya, gambar kantor di sebelah rumah bundo.. yang perlahan-lahan hancur setiap diterjang gempa, nah ini kondisi terakhir kemarin.. masih berdiri tapi sudah tak digunakan lagi.
horeee..!!! akhirnya bundo update juga
October 6th, 2009 by nakjaDimande
tadi surat-suratan sama pakde cholik, memberitahu bahwa buku kiriman beliau sudah sampai.. terlambat 5 hari, mungkin karena jalan yang terputus. aku bilang pada pakde, bahwa aku akan membaca dan mempraktekkan isi buku tersebut dengan tekun.. sehingga mungkin beberapa saat kedepan takkan sempat bw dan hapdet **nyari-nyari alasan biar ga usah hapdet..
demi hapdet aku akan bercerita bahwa teman-teman yang bertugas kamis kemarin di pariaman sudah kembali dan digantikan oleh yang lain, Rio [dokter umum puskesmas] bercerita bahwa kamis itu pariaman belum tersentuh bantuan dari luar.. warga pariaman masih berusaha sendiri mencari keluarganya yang tertimbun. tim dibagi, ada yang bertugas di UGD rumah sakit, sebagian di lapangan.. ambulans untuk mengangkut korban masih sangat sedikit waktu itu, baru pada hari jumat datang banyak bantuan.. dari segi tenaga medis dan obat-obatan menurut Rio cukup berlimpah, hal penting yang sangat kurang adalah Bed dan selimut untuk pasien..
sayangnya banyak sekali daerah yang tak dapat ditembus lewat jalur darat, sehingga bantuan medis cukup sulit untuk sampai ke sana, diantaranya daerah kampung dalam, malalak, koto tinggi, cubadak aia, tandikek.. masih banyak lagi daerah yang terisolasi.. aku lihat di tv penyaluran makanan akhirnya bisa dilakukan dengan menggunakan helikopter..
aku tidak mendapatkan foto dari teman-teman, karena sudah tak sempat motret katanya.. menurut Eko [salah seorang petugas medis dari puskesmas] mandi juga tak bisa karena kesulitan menemukan air bersih, yang berkesan bagi eko adalah bahwa hari kamis itu pariaman sangat mencekam, bala bantuan kurang cepat menembus pariaman..
sebelum musibah ini terjadi, aku sudah pernah baca poin-poin penanggulangan bencana di blognya noe dan mas nur.. aku menganggap segalanya akan mudah ditangani karena kita sudah berulangkali mengalami hal ini..
ternyata kita memang lemah
terlalu lemah..
kemarin siang setelah pelayanan di puskesmas aku dan KD mengantarkan bahan makanan ke Padang, sahabat KD seorang relawan meminta dibelikan bahan makanan bayi, minuman, biskuit dan mie instan untuk diberikan pada sebuah kampung di Padang.. kota terdekat yang masih punya persediaan barang adalah bukittinggi
pemilik toko tempat KD belanja bilang bahwa sepanjang pagi sudah ada beberapa truk dari media indonesia yang mengambil barang dari Bukittinggi untuk dibawa ke pariaman.. dan persediaan di toko pun mulai menipis. tapi Alhamdulillah semua pesanan sahabat tersebut ternyata masih bisa dicukupi..
jam setengah dua kami berangkat bertiga, sangat beruntung masih bisa mendapatkan pinjaman mobil yg cukup besar dengan sopirnya [terimakasih untuk 'ayah'] antrian bensin tak lagi panjang seperti hari minggu.. perjalanan cukup lancar sampai akhirnya di dekat lembah anai ternyata ada dua titik longsor kecil.. sehingga harus menunggu cukup lama, karena jalan sedang dibersihkan oleh petugas..



sampai di padang sudah maghrib sekitar pukul setengah tujuh, berarti butuh 5 jam untuk sampai, normalnya hanya 2 jam..
untuk pakde, asrama TNI disepanjang jalan aku lihat tidak hancur secara keseluruhan.. banyak rumah yang teras dan ruang tamunya hancur tapi bagian belakang masih utuh, rumah-rumah tua kebanyakan rata dengan tanah..
kami sholat maghrib dan menurunkan barang di sebuah rumah, disana sudah ada bungkusan-bungkusan kecil berisi beras.. umi [tuan rumah] bercerita bahwa sudah berapa hari ini warga saling berbagi, karena pembagian bahan makanan untuk tiap RT memang tak mencukupi.. Alhamdulillah ada saja warga yang membagi kelebihan berasnya, dibungkus dengan kantong-kantong kecil dan dibagikan pada tetangga..
karena listrik di sebagian daerah masih padam, jadi malam itu kami ngobrol ditemani lampu semprong.. kondisi yang memprihatinkan karena air juga sama sekali tak mengalir, mereka menampung air hujan yang turun hampir setiap hari..
mengingat perjalanan pulang yang mungkin saja masih ada hambatan longsor, kami pun segera minta ijin untuk pulang.
dan sampai sekarang rasa hati masih muram..
October 2nd, 2009 by nakjaDimande
selamat malam sahabatku semua..
terimakasih atas doanya untuk semua saudara kita yang terkena musibah.. semoga selalu diberi kesabaran, ketabahan dan menjadi lebih kuat lagi, amiin.
Bukittinggi ikut merasakan guncangan hebat itu, Alhamdulillah tak ada korban jiwa disini.. cerita KD bahwa saat itu motornya terasa sangat oleng sehingga harus berhenti dan KD baru sadar apa yang terjadi setelah melihat banyak orang berhamburan keluar rumah. sedangkan aku berada di rumah dengan ibu dan nenek, menurut ibu tanah serasa mau amblas..
saat gempa terjadi, listrik padam sehingga tak bisa nyalakan tv.. jadi kami sama sekali tidak tahu di mana sumber gempa terjadi, mau telepon juga tak bisa.. ajaibnya kami bisa terima telpon dari luar sumatera barat, sehingga kondisi keluarga di padang justru aku ketahui dari ‘mamaw’ adik iparku di Bandung. mamaw juga yang berbaik hati membalasi pertanyaan yang ada di wall FB aku dan KD.. malam itu kucoba buka blog ini lewat hp ternyata bisa walau cuma sebentar, untuk mengabari bahwa kami disini baik-baik saja.. dan sempat menanyai shige yang punya keluarga di pariaman.
hal yang cukup meresahkan adalah saat yolan, seorang sepupu yang sore itu sedang les bahasa jepang sama sekali tak diketahui keberadaanya.. kenyataan bahwa malam itu banyak pelajar yang terperangkap di sebuah gedung bimbingan belajar tentu saja sangat mencemaskan, puji syukur jam 2 malam yolan ditemukan juga bersama guru dan teman”nya..
kejadian seperti itu banyak terjadi, banyak orang tua yang bingung harus menjemput anaknya dimana.. karena telepon putus, listrik padam, hujan deras.. malam itu sungguh, subhanallah..
kemarin tim medis dari puskesmas sudah berangkat, bergantian sesuai jadwalnya masing-masing.. aku kebagian jaga puskesmas saja. teman-teman dari bukittinggi bertugas ke pariaman karena disana adalah daerah yang paling parah dan banyak yang belum tersentuh bantuan. tadi aku lihat metro tv sudah berhasil tembus ke daerah pariaman dan menyiarkan lokasi longsor di satu titik.. pemandangan sepanjang jalan sungguh porak poranda.
di Danau Maninjau, untuk kawanku amir azzam apakah sudah kontak dengan keluarga disana? ada beberapa bukit disekitar danau yang runtuh, semoga keluarga senantiasa dalam lindungannya. Amiin..
sedangkan kondisi di kota padang tentu bisa dilihat di tv bahwa evakuasi korban masih terkonsentrasi di reruntuhan hotel, gedung bimbel Gama dan STBA, Alhamdulillah hari ini beberapa korban ditemukan selamat.
jalan dari Bukittinggi ke Padang lewat Lembah anai yang terputus, kabarnya tadi sudah bisa dilewati lagi.. cukup mengkhawatirkan karena daerah itu rawan longsor apalagi hujan terus turun beberapa hari ini.
musibah.. pilu yang sama seperti kemarin di Tasikmalaya, seperti ketika itu di Jogja, seperti dulu di Bengkulu dan seperti yang sudah pernah terjadi di Aceh..
para ahli masih akan terus membahas, ini mengapa dan harus bagaimana, agar kedepan kita akan selalu bersiap dan terbiasa menghadapi musibah gempa ini..
beberapa sahabatku perantau di jakarta tadi siang bercerita, betapa mereka tak bisa menahan air mata ketika melakukan shalat ghaib seusai shalat jumat.. duka ini tentu saja tak hanya milik kami warga bumi andalas, terimakasih untuk semua sahabatku yang telah ikut merasakan duka yang sama..
dengan satu keyakinan bahwa semua hal ini terjadi berada di antara kita dan Tuhan.. tak lengah pengawasanNYA sedetikpun.