Archive for
February, 2010
February 28th, 2010 by nakjaDimande
..ada beberapa hal, ada sesuatu — sebuah rasa, yang meskipun seluruh kata di dunia ini dihimpun menjadi satu, tak ada satu pun yang dapat mewakili untuk dapat menggambarkannya. Karena itulah manusia menangis. Untuk sesuatu yang tak tertanggungkan, tak terkatakan.
Air mata menetes, dan hati ini bersedih. Namun, sesungguhnya aku tidak akan mengucap sepatah kata pun melainkan perkataan yang diridhai Allah. Demi Allah, wahai Ibrahim, sungguh kepergianmu membuatku sangat bersedih.
[ucapan Rasulullah SAW pada saat kepergian putranya, Ibrahim - Elegi Cinta Maria]
Untuk sahabat tercinta yang telah kehilangan lelaki ciliknya hari ini
hanya mampu kutatap gigil tubuhnya menahan rasa dalam deras air mata
Innalillahi Wa Innalillahi Rajiun
February 26th, 2010 by nakjaDimande
Insan Utama
Oleh: Hadad Alwi
Engkau mengenalnya
Insan yang utama
Lelaki pilihan
Menjadi utusan
Ia menunjukan
Jalan kebenaran
Baik hatinya (Baik hatinya)
Santun perangainya (Sungguh santun perangainya)
Jujur katanya (Tak pernah dusta)
Kita menyayangnya (Bersholawatlah baginya)
Ia teladan bagi kita semua (Ia-lah teladan kita)
Sebagai karunia yang diberikan Allah bagi semua
Muhammad namanya
Ikuti jalannya

Bukittinggi berseri dua hari ini, acara peringatan kelahiran Rasulullah SAW diisi oleh Bapak Ir. Agus Mustofa dari Surabaya. Dimulai semalam di Mesjid Agung dan dilanjutkan tadi pagi di auditorium Perpustakaan Bung Hatta, berbagi ilmu tentang beberapa hal yang dibahas pada buku-buku beliau [semua ada 25 judul] yang seringnya kontroversial tersebut. Salah satunya adalah Metamorfosis Sang Nabi. Tentu saja aku tak hendak menuliskan tentang segala kontroversi tersebut, pastinya malah bikin kacau dengan pengetahuanku yang masih sangat sedikit ini.
Cukuplah dengan satu pertanyaan, bagaimanakah sebaiknya kita di hari kelahiran Rasulullah SAW? Apa yang seharusnya dilakukan, hanyakah sekedar peringatan saja?
Pak Agus menjelaskan dengan satu ayat:
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS 21 : 107)
Bahwa Rasulullah SAW dihadirkan di muka bumi ini tak lain adalah untuk menjadi rahmat. Rahmat bagi seluruh alam, tanpa kecuali. Tidak hanya untuk satu kaum saja.
Karena ia-lah teladan
Sebagai karunia yang diberikan Allah bagi semua
Dia, Rasulullah SAW
Ikuti jalannya
Kembalilah, ikuti jalannya. Hanya itu yang seharusnya aku lakukan.
February 23rd, 2010 by nakjaDimande
Bila di rahim Minang bersemayam diriku yang pertama
Dari rahim Bandung telah lahir diriku yang kedua
Mereka dua kekasihku yang tak mampu untuk kupilih
Dan tak kuasa untuk kusatukan..
[Bukittinggi, 16 Februari 2006]

Bukittinggi, tepianku yang selalu mendendangkan rabab ’tuk memanggil pulang.

Bandung, rantau-an hati. Belum pernah merantau lebih jauh lagi, di sana kuhitung jejak langkah yang beberapa dibiarkan hilang. Kunikmati menghafal semua persilangan gang dan jalannya seumpama urat di telapak tangan, dan kubiarkan Bandung melebur dalam suka dan dukaku.
sedang merindukan bandung..
February 22nd, 2010 by nakjaDimande
Sebuah konspirasi di akhir pekan yang indah.
Jumat 19-2-2010
Pelaku : Saia berniat menjahili seseorang hari minggu nanti, bisakah anda membantu mendeteksi keberadaan korban pada hari minggu tersebut?
Perantara : Akan saya coba, dengan persyaratan tentunya
Pelaku : Ok, apa syaratnya?
Perantara : Jangan pernah ajak orang lain menjahili saya!
Pelaku : Siipp, saia tak pernah berniat menjahili anda. Suerr!
[Sang perantara pun mulai menanyai korban, agak berbelit-belit dan tampaknya berhasil membuat korban sedikit gusar. Sengaja menyebutkan ada kiriman barang dari seorang teman agar korban percaya bahwa hal ini serius. Percakapan pihak Perantara dengan Korban dapat diikuti disini.]
Sabtu 20-2-2010
Perantara : Korban berada di rumah sekitar pukul 5 sore, rencana anda seperti apa?
Pelaku : Rencana awal saia ingin melibatkan polisi, biar korban agak panik.
Perantara : Hati-hati loh, korban sudah sepuh.. kuatir jantungan.
Pelaku : Hahhh iya gitu? ya sudah saia pake cara yang manis saja.
Perantara : Cara yang manis pun pasti tetap akan bikin korban gusar. Sukses ya! Selamat berjuang..
Minggu 21-2-2010, sekitar pukul 15.00
[Sore itu sang perantara agak kuatir bahwa pelaku bakal nyasar, kuatir juga korban bakal telat pulang. Halah, mau ngerjain orang kok malah cemas siyh?]
Pelaku : Saia sudah dalam perjalanan, mohon bantuan petunjuk arah menuju ke rumah korban
Perantara : ok, sebentar saya tanyakan
[Satu jam kemudian perantara mendapatkan kepastian bahwa korban sudah berada di rumah. Pada detik-detik pertemuan antara pelaku dan korban tersebut, sang perantara duduk terdiam ikut berdebar sambil menatap hape.]
Pendek sekali jeda waktu saat pelaku sampai di rumah korban, tiba-tiba ada sms:
“Pakacil sudah datang!”
[Buyar semua bayangan sang perantara tentang pergulatan yang alot dalam perkenalan antara Pelaku dan Korban. Pelaku terlalu cepat menyerah.]
Perantara : Saya agak kecewa mengapa anda mudah sekali menyerah dengan korban yang ini, tidak biasanya anda begini.
Pelaku : Saia sunguh tidak tega melihat ekspresi kebingungan dari korban yang ini. Cukuplah segitu saja sudah bikin beliau bengong cukup lama.
[Perantara hanya berharap Pelaku sempat mengabadikan wajah bengong Sang Korban]
~*
*~

Pelaku

Korban

Perantara
terus berdoa
semoga tidak ada
tindakan balas dendam
February 20th, 2010 by nakjaDimande
Zani zani
Jantungku berdebar tiap kuingat padamu
Zani zani
Mengapa ada yang kurang saat kau tak ada
Zani zani
Melihatmu menyentuhmu itu yang kumau
Kau tak sempat tanyakan aku
Cintakah aku padamu
Reff:
Tiap kali aku berlutut aku berdoa
Suatu saat kau bisa cinta padaku
Tiap kali aku memanggil di dalam hati
Mana Zani mana Zaniku mana Zaniku
Zani zani
Apa kabarmu kabarku baik baik saja
Zani zani
Begitu banyak cerita tak habis tentangmu
Zani zani
Salamku untukmu dari hati yang terdalam
[Sunny-Sani-Sanny Zani – Bunga Citra Lestari]


Lagu di atas dipersembahkan buat Zani yang sedang meringkuk lemah di rumah karena diare. Gara-gara konsumsi cabe rawit yang berlebihan, walaupun dia senang dengan diare ini berharap berat badannya turun satu dua kilo. Cepat sembuh ya Zan, merana aku di ruangan ini tanpa dirimu
Buat Julie, yang semalam dirawat di rumah sakit.. istirahat ya jul, banyak sabar dalam sakitmu.
Spesial untuk Ceuceu, Selamat Ulang Tahun. Semoga berkah Allah SWT senantiasa mengiringi langkahmu, amiin.
February 18th, 2010 by nakjaDimande
akulah siput lamban itu//yang butuh 296 dudukan untuk selesai mengeja makna//entahlah mengapa harus lama sekali
seringnya hanya melongo takjub//menyaksikan ulat menggeliat di ranting kurus//menunggu menjadi kupu-kupu tujuh warna//dan menggerutu karena kupu-kupu itu bukan aku
kuabaikan tugas membaca yang terus menunggu//membaca jejak siputku sebelum terhapus sekawanan macan//membaca lambaian ilalang menunggu matahari pagi//membaca nada ibu mengaji sewaktu malam menepi//membaca tentang negeriku yang gusar dan berkeringat dingin
mengapa kuhabiskan waktu mengeja mantra
yang ditulis oleh peramal letih?
siput susah payah belajar membaca lagi
Bismillah.. [ingatkan jika salah mengeja]
February 16th, 2010 by nakjaDimande

Bhirawa dan Jombang, dua hal yang istimewa. Di ingatanku segala hal yang berasal dari Jombang pasti beken. Terkenalnya ngga bakalan nanggung, buktinya sudah banyak. Diantaranya ada Gus Dur, Cak Nun, Cak Nur, Inul [bukan inul yang ituh, ini Inul ponakannya Pakde
] dan tak dipungkiri juga kebekenan Ryan dan Ponari.
Takkan jauh-jauh, pada Bhirawa pun menitis bakat beken dari tanah Jombang ini. Didukung oleh sutradara Bhirawa yang memang sudah terlebih dahulu melejit di gemerlapnya panggung dunia maya. Dengan pengalaman dan usaha beliau yang tak kenal lelah, bisa dipastikan Bhirawa akan segera menyusul kemasyhuran BlogCamp.
Sesungguhnya aku tiada-lah sanggup mereview sebuah blog, apalagi itu Bhirawa. Tapi aku coba juga menuliskannya semampuku, daripada Pakde ganteng itu manyun [info dari Bude bahwa Pakde klo lagi manyun bumi bisa gonjang ganjing]
Yupz mari aku mulai sajah repiu ailopiu untuk Bhirawa!
Tampilan Bhirawa:
Halah, urusan ini aku paling gregetan sama Pakde, ganti theme itu bisa 3 kali sehari seperti minum obat. Tidur beliau tidak akan tentram bila dalam seminggu tidak gonta-ganti theme [info dari Emak bahwa ini adalah pelampiasan bakat playboy-nya Pakde sewaktu muda dulu, kali ini masih untung hanya gonta ganti theme]
Theme yang aku lihat hari ini, putih abu-abu. Aku suka sederhananya. Jika besok pagi Pakde ganti theme lagi silahkan saja, asalkan tetap pilih yang sederhana ya Dhe.
Kinerja Bhirawa :
Sejauh ini Bhirawa bisa dengan mudah diakses, engga pake sesak napas. Aku tidak mengerti ukuran kecepatan loadingnya, yang jelas cukup cepat. Untuk menemukan artikel terdahulu juga cukup mudah, Pakde sangat memperhatikan hal-hal seperti ini. Karena beliau sangat paham ada banyak penggemar fanatik yang ingin tahu lebih banyak tentang Bhirawa. [Lebih tepatnya: banyak yang penasaran sama Pakde]
Artikel Bhirawa :
Seperti hampir di semua blog milik Pakde yang lain, artikelnya selalu sarat manfaat. Disuguhkan secara singkat dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Sentuhan humor yang kental tak pernah lupa mengiringi. Pokoknya Bhirawa beruntung sekali ditangani oleh sutradara yang tidak pernah kehabisan ide. Pengamatanku selama ini bahwa artikel di Bhirawa ditulis dengan serius. Sentuhan humor-nya pun dirancang sedemikian rupa oleh Pakde sehingga bisa menghilangkan kerutan di kening para pembaca Bhirawa..
>>>Kesimpulannya: Bhirawa adalah sebuah Blog yang tidak main-main, karena ditangani oleh seorang Narablog yang bukan main!
Note :
Meski ini bukan review sungguhan, tugasku untuk ikut memeriahkan Jambore on the Blog akhirnya kesampaian sudah.
February 16th, 2010 by nakjaDimande

7 hari sudah aku bersama A Lin, si bidadari kecil, kesempatan yang jarang kuperoleh tentu saja. A Ling, kadang kutambah huruf ‘g’ saat memanggil bidadari itu. Panggilan khusus dariku, berhubung ponakan ke-13 ini [hey! A Ling dapat angka cantik rupanya] memang punya cita rasa tionghoa yang mengalir dari keluarga uni Vie, iparku itu. Kayla si sulung bertanya, “kok nama dede, A Ling ciy bun?” belum sempat kujelaskan pada Kayla bahwa A Ling adalah nama tionghoa yang paling aku suka saat ini dan bahwa A Ling adalah kekasih platonis-nya Ikal, walau sedikit khawatir juga Kayla akan bertanya lagi, “platunyis, apaan tu bun?”
Kemarin sore A Lin tidak ada lagi di rumah Aur. Alhamdulillah si uni sudah diperbolehkan pulang setelah cukup lama menginap di rumah sakit. Senang melihat ibu dan anak bersatu kembali, itu yang paling penting. Aku tahu sedihnya kakakku itu setiap kali A Lin berkunjung ke RS, hanya bisa diciumnya saja tanpa bisa menggendong karena belum boleh banyak bergerak. Matanya berkaca-kaca setiap kali bilang, “Bun, titip si ade ya..” dan dia tau aku cengar-cengir kesenangan dapat kesempatan mengurus si kecil.
Sekarang tidak ada A Lin lagi di kamar, hanya wanginya saja yang tersisa. Aroma bayi yang bercampur ompol dan juga pup itu berhasil mengelabui penciumanku dengan menyimpulkan aroma seperti itu adalah wangi.
Semalam sudah tidak begadang membuatkan susu untuk A Lin, sehingga jam istirahat nanti aku tidak akan terlelap lagi di puskesmas seperti seminggu belakangan ini. [btw, tidur di puskesmas ternyata nikmat juga]
Tidak ada A Lin lagi, maka aku akan kembali setia pada si pinky. Membayar hutang bw yang seminggu sudah bertumpuk. Aku rindu pada nuansa beningku semua.
>>>Dan mungkin harus belajar arti cinta platonis yang sesungguhnya pada A Ling dan Ikal, agar aku tidak cengeng lagi setiap kali ingat A Lin.
February 8th, 2010 by nakjaDimande
Sepelemparan Sendal
oleh: Rein
aku coba mengukur jarak antara kita
paling hanya sepelemparan batu katamu
[hey! mana aku tega melemparmu dengan batu]
mungkin harus ganti batu dengan sendalku ini
sendal melayang lebih indah daripada batu
dan pasti lebih sepelemparan sendal jauhmu dariku
[tapi aku tak berniat melemparkan sendal ke arahmu]
jadi kucoba mengukur lagi
tidak dengan batu, tidak juga sendal
ternyata kamu hanya sepelemparan hati
disini, tak lebih.
[ini hasil pengukuran yang jauh lebih presisi]

>>>hey kamu! iya kamu..! mau aku lempar pake batu, sendal atau hati?
February 6th, 2010 by nakjaDimande

Aihh.. malam minggu begini si Bundo ngajakin belajar seni tradisional, nape bun? kesambet juga tampaknya gara-gara Opera van Padeblogan dalam episode Sepatu Kaca Cinderella yang bercita rasa tradisional itu
Terus terang sejak ditawari peran oleh Pakde Cholik pada sebuah pertunjukan kethoprak, membuat aku ingin tahu lebih banyak tentang bermacam kesenian nusantara. Bukan hanya seni tradisional jawa, aku pun sebenarnya belum paham lebih jauh tentang seni teater dari ranah minang yang dikenal dengan randai, seni bertutur pada rabab dan saluang, juga ingin menelusuri pengisahan sejarah ranah minang lewat tambo.
Tadi pagi sembari mengikuti perjalanan para punggawa kerajaan mencari sang pemilik sepatu kaca, aku sempatkan bertanya pada Inyiak Gugel tentang bermacam-macam contoh teater rakyat yang terdapat di Indonesia.
Hasilnya sebagai berikut :
Bangsawan (Sumatra Utara); Randai (Sumatra Barat); Dermuluk (Sumatra Selatan); Makyong, Mendu (Riau, Kalimantan Barat); Mamanda (Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur); Ubrug, Longser, Bonjet (Jawa Barat); Lenong, Topeng, Blantik (Betawi); Mansres (Indramayu); Sintren (Cirebon); Kethoprak (Yogya, Solo, Jawa Tengah, Jawa Timur); Wayang (Kulit atau Purwa, Orang, Topeng, Golek, Sungging, Gedog, Kidang Kencana, Menak; Klitik atau Krucil, Kulit Perjuangan, Kulit Kancil, Potehi, Cina, atau Thithi, Beber, Madya, Tasripin, Suluh, Wahana, Pancasila, Wahyu) tersebar hampir di seluruh Jawa; Dadung Awuk (Yogya); Kuda Lumping (Yogya, Solo, Jawa Tengah, Ponorogo, Jawa Timur); Srandul (Jawa Tengah, Jawa Timur); Ludrug, Kentrung (Jawa Timur); Drama Gong, Gambuh, Arja, Topeng, Prembon (Bali); Topeng Dalang (Klaten, Jawa Tengah, Jawa Timur); Topeng (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura); Panji (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) (Satoto 1991:121—189).
Berdasarkan pengamatan awamku ini bahwa ternyata kesenian tiap daerah di nusantara sebenarnya memiliki kemiripan, walaupun karakternya berbeda. Karakter seni Melayu tentu berbeda dengan kesenian Batak, berbeda dengan kesenian Jawa dan juga Kalimantan. Tapi semuanya indah, karena mengandung nilai luhur yang luar biasa, dengan cara penyajian yang tentu saja mempunyai keunikan masing-masing.
Kembali pada tawaran peran dari pakde Cholik, ehm 
Berhubung peran yang diminta oleh beliau nanti adalah sebagai perempuan jawa tentu saja itu adalah tantangan yang cukup berat bagiku. Karakter gemulainya itu loh yang ndak yakin bisa, karena berdasarkan informasi dari pakde bahwa lakon perempuan di pewayangan seperti Srikandi, meski jagoan tetap saja harus gemulai dan bila tertawa tidak boleh ngakak.
Hmm, meski naskah untuk pertunjukan tersebut sampai saat ini belum dikirimkan kepadaku, kontrak juga sama sekali belum ditandatangani, serta permintaan atas DP 50 % belum tentu disetujui. Tak ada salahnya aku tetap bersiap-siap dari sekarang!
>>>Duncay, mohon saran agar si Bundo ngga malu-maluin dalam pementasan nanti
juga sudilah berbagi sedikit cerita tentang seni tradisional yang menarik di daerahmu..
February 5th, 2010 by nakjaDimande
Semua kita pasti pernah mengalami yang namanya marah, salah paham, jengkel dengan orang-orang yang berada di sekeliling. Dalam hubungan antar manusia, pertengkaran wajar saja terjadi. Namun perlu diupayakan agar perbedaan pendapat itu tidak membuat hubungan menjadi semakin buruk atau malah membuat dendam. Ighh benar-benar tidak nyaman kalau punya dendam atau didendamkesumati oleh orang lain. Seringnya pertengkaran yang menimbulkan dendam ini terjadi antara orang-orang yang tadinya sangat akrab [pengalaman pribadi
]
Segala macam seni dalam bertengkar pernah aku dengar, dan ternyata tak ada yang sehebat satu kata : MAAF. Meminta maaf dan ikhlas memaafkan, hanya itulah kuncinya.
[Sudah jelas postingan si Bundo kali ini ngga akan jauh-jauh.. ujung-ujungnya curcol]
Dua gadis remaja yang berada di bawah payung ungu itu adalah Aku dan Di, dua sahabat yang tadinya tak terpisahkan. Pada suatu hari — setelah bertahun-tahun bersama — kami bertengkar. Pertengkaran antara dua orang yang keras kepala tentang satu hal yang tak seharusnya dipertengkarkan.
Meluas dari masalah yang dipertengkarkan, melibatkan emosi sehingga mulailah saling tuduh. Aku menuduh Di mencampakkan aku, sedangkan Di menganggap aku membuang dia dari hidupku. Itulah pertengkaran terhebat dalam hidupku. Akibat kemarahan yang hanya sehari itu akhirnya aku harus kehilangan sahabatku, orang yang sangat aku sayang, my Lady Di [Di lahir persis 1 juli]
Tak ada yang bisa mendamaikan kami waktu itu, tak ada yang sudi meminta maaf terlebih dahulu. Padahal sebenarnya kemarahan itu sudah lama menghilang, yang tersisa hanyalah rindu untuk bercanda lagi bersamanya. Entahlah bodohnya aku membiarkan waktu berlalu hanya dengan menulisi surat yang sama sekali tidak aku sampaikan padanya [aku memang lebay sedari dulu].
Aku ingat hal lucu setiap Ibunda Di datang dari Bukittinggi, aku akan tidur di rumah mereka [yang berada di daerah sukaluyu] walaupun aku dan Di tidak saling bertegur sapa. Aku tetap tidur di kamar Di, di atas dipan sedangkan Di akan tidur di lantai. Hebatnya kami bertahan untuk terus diam. Begitu terus hampir setahun lamanya.
Alhamdulillah suatu waktu Allah SWT membukakan hati. Walau perlu waktu lama bagi aku dan Di mengembalikan persahabatan kami seperti sedia kala, menyesali segala kebodohan. Ketika berbaikan itu aku tak bisa banyak bicara karena sudah lupa cara bicara padanya, aku hanya memberikan surat yang kutulis dahulu dan Di menyimpannya [Di termasuk orang yang memaklumi kelebay-an ku dalam hal ini]
Aku belajar bahwa sungguh takkan dipisahkanNYA bila aku mau menyayangi orang-orang terkasih hanya karena Allah SWT.
Terus belajar, semoga waktu akan mendewasakan diri.
>>>Duncay, jangan pernah tiru kesalahanku. Bila kemarin atau hari ini dirimu bertengkar dengan seseorang segeralah minta maaf. Tidak ada kalah menang dalam sebuah silaturrahim
____
note: kualitas foto tersebut ternyata kurang bagus sehingga wajah kami berdua terhapus dimakan waktu
dan di lapangan basket babakan siliwangi itu kami adalah wasit penghitung waktu yang sangat sering mencurangi pihak lawan, tapi ngga pernah ketauan.
« Previous Page