Si Rojak Dibebek ku Urang
March 4th, 2010 by nakjaDimande
Bahan :
Pisang batu [dua tiga iris], ubi, bengkuang, ketimun, nanas, jambu air dan kedondong. Semua dipotong kecil
Bumbu :
Cabai rawit, asam jawa, gula merah, terasi bakar, garam [karena aku suka rujak pake kacang, maka ditambahkan kacang tanah goreng]
Cara Membuat :
1. Tumbuk bumbu sampai halus. Masukkan pisang batu tumbuk sampai agak lembut.
2. Tambahkan buah-buahan yang sudah dipotong kecil.

Seharusnya bumbu dan buah dibebek (ditumbuk) di sebuah lumpang
berhubung tak punya, maka aku gunakan ulekan biasa
Rujak setelah dibebek
lebih enak dihidangkan bersama kerupuk
karena persediaan yang ada hanya opak singkong
dipaksa untuk disandingkan, ternyata enak juga
Fakta seputar Si Rojak anu dibebek ku urang :
1. Persyaratan dari Pakde bahwa resep yang diikutsertakan dalam Ladies Program Rujak Antar Nusa haruslah rujak khas dari daerah peserta. Hal tersebut sungguh bikin pusing sampai aku jatuh sakit memikirkannya. Pada kenyataannya rujak yang ada di Bukittinggi itu sama saja dengan rujak buah yang ada di seluruh nusantara, tidak ada yang khas. Mosok aku harus mengada-ngada bikin rujak rendang suir atau rujak sanjai balado
Akhirnya aku putuskan untuk menghidangkan rujak bebek yang sering aku jumpai di Bandung dulu. [boleh ya Dhe? awas ajah klo ngga boleh
]
2. Rujak hasil karya para Ladies yang sudah terlebih dahulu mendaftarkan diri sangat luar biasa. Dengan bermacam kreasi yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Aku sebenarnya sedikit minder dan cari alasan biar ndak usah ikutan acara ini.Tapi pakde sama sekali tidak percaya bahwa aku sedang sakit dan harus banyak istirahat, gara-garanya karena selama sakit itu kegiatan blogwalking-ku jalan terus. Menurut beliau klo mampu BW berarti aku juga kuat ngulek rujak.
3. Di Bukittinggi tidak ada yang jualan rujak bebek, karena bebek di sini biasanya dimasak gulai cabe ijo
Pengalaman dulu sewaktu masih jadi orang baru di Bandung, aku dan seorang teman yang sama-sama dari Bukittinggi mengira rujak bebek adalah semacam masakan dari bebek yang bisa untuk lauk makan nasi. Suatu kali kami memesan dan setelah melihat hasilnya kami hanya bisa berucap “Ooo rujak bebek tho, kirain rujak bebeekkkk..”
4. Memberi nama yang unik, begitu persyaratan selanjutnya dari pihak penyelenggara. Berhubung kemarin itu menyaksikan anggota dewan saling bebek [tumbuk] di ruang sidang, aku lumayan terprovokasi juga untuk ikutan ngabebek anggota dewan rujak. Pada akhirnya.. Si Rojak Dibebek ku Aing Urang.
5. Bebek = Tumbuk. Pengucapan ‘bebek’ tidak sama dengan bebek angsa, huruf ‘e’ dan huruf ‘k’ diucapkan dengan cara khas orang sunda tea, kudu belajar heula sama Ceuceu, Aa Pyan sareng Kang Yayat



