Archive for
May, 2010
May 27th, 2010 by nakjaDimande
Salah seorang pegawai baru di tempat kerjaku, Fina, merasa senang saat mengetahui ada yang gemar dengan drama Korea seperti dirinya, yaitu aku. Saat itu kami sedang menyaksikan saluran tv Korea.
“Wah, ternyata Mbak suka juga drama Korea ya… Kalo saya suka banget, Mbak… habisnya yang main ganteng banget sih… “ kata Fina dengan mata berbinar. Aku sih tersenyum aja mendengar ucapan Fina.
“Lihat deh, Fin.” Kutunjukkan pada Fina layar tv yang sedang memperlihatkan aktor dan aktris Korea yang berwajah cantik dan tampan, mata besar dan hidung mancung.
“Ada apa, Mbak?” Tanya Fina tak mengerti.
“Lihat bener-bener. Tampang mereka udah nggak original lagi. Misalnya yang ini…”Kataku sambil menunjuk tampang si aktor, “Matanya udah dilebarin, hidungnya dimancungin, dan bibirnya nih dibuat supaya tampak penuh dan seksi…”
“Hah??!! Yang bener, Mbak?”
“Iya, Fin. Udah jadi rahasia umum bahwa seleb Korea cenderung dipermak dulu sebelum debut. Atau kalau dirasa wajahnya masih kurang menjual, yah… dioperasi dulu sana-sini. Kalo muncul kerutan, di-botox dulu…Bahkan ada aktor yang ada ‘before and after’-nya di internet” kataku panjang lebar.
“Beneran, Mbak?? Jadi mereka ini pada operasi plastik?” suara Fina melemah. Dia tampak syok mendengar ucapanku.
Aku yakin ada rasa kecewa di hati Fina. Mungkin saja dia menganggap para egar yang menurutnya ganteng itu sangat sempurna. Apalagi bila drama yang dimainkan sangat seru, bertambahlah kegandrungannya. Namun kini ia merasa seperti didustai dengan kepalsuan idolanya.
Gini deh jadinya kalau meletakkan asa dan hati pada sesuatu yang bersifat semu. Mengeluk-elukkan seorang idola karena tampilannya yang sempurna, kemudian membuat kita luluh lantak saat mengetahui ternyata kesempurnaannya palsu belaka, hehe…
Nah, dari pada kita kecewa, mendingan kita mengambil sesuatu yang tidak semu dari apa yang kita tonton, yaitu sisi pembelajarannya, misalnya dari drama yang kita tonton kita bisa mempelajari adat budaya negara lain, atau mungkin dari ceritanya kita bisa petik hikmah, atau mungkin sekalian belajar bahasanya… why not
*****
Beberapa waktu yang lalu saat kutanya pada Fina bagaimana kini perasaannya mengenai aktor Korea yang oplas (operasi plastik), dia mengatakan “Memang sih saya merasa seperti dibohongi. Tapi sekarang saya udah ngerti, saya nggak usah lebay dalam menggemari mereka. Seperlunya aja…”
Hehehe… bener banget nih si Fina. Dan kini setiap kali kami menyaksikan tayangan Korea, kami selalu buat tebak-tebakan bagian apa aja yang dioperasi dari tampang seleb Korea
Bagaimana dengan Sahabat? Apakah selalu ada pembelajaran yang didapat pada setiap tayangan yang Sahabat tonton? Ataukah hanya menikmati unsur semunya saja??
_______________________________
O My, Akiiiinnn..!!! jadi Tao Ming Tse juga dioplos oplas? [tapi gpp dink, Bundo tetap bisa menerima Jerry Yan apa adanya
]
Artikel tamu di akhir bulan mei ini dikirimkan oleh kakak kita, Kaka Akin alias Akin atau bila di Puskesmas dikenal dengan nama yang indah, Mariatul Kibtiah. Seorang perawat berpengalaman dari sebuah puskesmas di Samarinda, seorang pemerhati drama korea yang juga bisa berbahasa korea. Akin sangat menakjubkan bagi bundo karena disela-sela kesibukannya bertugas di Puskesmas, ia masih sempat mengelola dua blog yang cukup aktif dan sempat menduduki posisi atas di Indonesia Matters. Yang lebih mengagumkan lagi Akin masih sempat menonton serial drama korea yang menghabiskan waktu berjam-jam itu, Akin biasa menontonnya sambil jaga malam di UGD. Tapi walaupun Akin mencintai drama korea, katanya ia tetap lebih mencintai produk dalam negeri
Terima kasih buat Akin yang sudah kirimkan artikel tamu untuk LJ, makasi juga sudah membuat bundo tersadar bahwa ketampanan Jerry Yan hanyalah semu belaka. Klo sudah selesai nonton jangan lupa balesin komeng yaaa..
May 26th, 2010 by nakjaDimande
sang cahaya itu telah pergi menghadap-Nya..
cahaya yang selalu berusaha menghilangkan kegelapan [QS. 2:17]
yang ucapan dan pesannya adalah cahaya [QS. 14:1]
pengabdiannya adalah cahaya [QS. 24:35]
nafasnya adalah cahaya [QS. 42:52]
detak jantung kehidupannya adalah cahaya [QS. 57:28]
Allah menciptakan si mata indah menjadi cahaya Bumi [QS. 71:16]
dan kini ia menghadap-Nya bagai cahaya Allah [QS. 24:35]
Selamat jalan pejuang cahaya.. selamat jalan Ibu Ainun Habibie
cahaya cinta sejati dan kasih sayangmu akan menginspirasi kami
sampai nanti saat kita dipertemukan lagi di kehidupan mendatang
yang lebih bercahaya lagi.. amin
_______________________
Masih tentang Ibu Ainun..
Kali ini oleh Bundaku dari Surabaya, Bunda Heru menyampaikan ungkapan cintanya untuk Ibu Ainun melalui tulisan indah ini. Sangat indah karena disertai angka-angka penuh makna.
Sayang sekali Bundaku ini gak punya blog, aku sering mendapatkan pesan indahnya lewat SMS.. dulu beliau sudah pernah punya FB tapi sekarang jarang disentuh karena kesibukannya. Bunda sayang, makaciy yaaaa
May 25th, 2010 by nakjaDimande

Sejuta bintang di angkasa
Sinarnya mempesona
Sebutir bintang di taman seni cahayanya berseri
Biar bertahun masa beredar
Satu wajah satu nama takkan pudar
Setiap gerak gaya bergetaran merdu sinar
Di persada budaya hingga kini menjadi sebutan
Tetap terpahat namamu di ingatan
Kaulah satu satunya
Di antara berjuta Insan teristimewa
Patah tak tumbuh lagi hilang belum berganti
Kerana kau tersendiri
Kaulah satu satunya
Di antara berjuta Insan teristimewa
Kau kebanggaan kita
Kau budayawan bangsa
Engkau… legenda
[Legenda - Sheila Madjid]
Ladang Jiwa terlambat mencatat kepulangan beliau ke Rahmatullah pada 20 Mei 2010. Semoga amal ibadah Eyang Gesang terus mengalir sampai jauh.. menyejukkan beliau dalam pertemuan menghadap Sang Pencipta.
~oOo~

Juga, selamat jalan untuk seorang ibu yang wajahnya lembut dan senyumnya senantiasa menyejukkan. Ibu Ainun Habibie.. Aku sangat terkesan dengan beliau, pada kesederhanaan dan cara bicaranya yang selalu melalui senyum itu.

Yang berikutnya, selamat berjuang, selamat berkarya di belahan bumi yang baru untuk seorang Sri yang tangguh. Sering kulihat dia menjadi flamboyan yang kokoh, kadang gayanya centil seperti ABG (aku ingat aksinya sewaktu pelantikan dulu, sibuk foto sana sini dengan kamera hapenya
) dan kemarin dia sempurna! karena beri aku kesempatan melihatnya menangis. Banyak kontroversi tentangnya, tapi aku tetap cinta Sri yang ini..
~oOo~
>>>Selamat hari selasa Dun, apa kabarmu semua? hmm, libur posting itu ternyata asik loh.. bikin grogi ketika mau menulis lagi
o,ya penjaga ladang masih menunggu artikel tamu darimu semua, kirimkan ke ladangjiwaku@gmail.com. Diterbitkan tiap hari kamis.. ditunggu yaaa!
May 23rd, 2010 by nakjaDimande
Kota Bandung selalu ngangeni, meskipun pergi ke sana sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi. Saya tidak pernah ada rasa kapok mengunjungi setiap sudut kotanya.
Syahdan, awal perkenalan saya dengan Bandung terjadi pada tahun 1990an lalu. Paling tidak, sebulan dua kali saya ke sana untuk urusan tugas kantor. Pada saat itu awal berdirinya korporat tempat saya bekerja saat ini, sehingga memerlukan beberapa perizinan tingkat provinsi di mana kantor-kantor pemerintah berada di Kota Bandung, seperti kantor gubernuran di Gedung Sate, atau sebuah kantor dinas yang berada di Jl. Braga atau di Jl. Dago atau di Jl. Sumatera atau di Jl. Gatot Subroto atau yang berada di Jl. Soekarno-Hatta.
Ketika itu rute Jakarta - Bandung saya tempuh melalui Purwakata - Padanglarang, dan ketika pulangnya saya mengambil rute Lembang - Purwakarta. Untuk variasi pengalaman saja. Maklum, tol Cipularang belum ada. Dan, jika melakukan tugas kantor ke Bandung menjadi sangat istimewa. Bukan untuk saya, tetapi juga bagi teman-teman kantor.
Biasanya, seminggu sebelum saya pergi, berita sudah menyebar ke mana-mana. Lalu ada seseorang yang merelakan tenaganya berkeliling ke seluruh kantor dengan membawa selembar kertas kosong.
“Hayoo siapa yang mau nitip kue, besok pak Guskar mau ke Bandung!” Kira-kira beginilah woro-woronya. Dalam waktu relatif singkat, kertas kosong sudah penuh dengan kue pesanan. Bandung sangat istimewa dengan oleh-olehnya.
Sebenarnya, untuk urusan ke ibukota provinsi Jabar itu saya hanya memerlukan paling lama 3 jam. Tetapi, jika ditambah dengan waktu tempuh perjalanan, total bisa seharian. Tak jarang, saya menginap semalam di Bandung hanya untuk menjaga kesegaran tubuh keesokan harinya. Semenjak tol Cipularang dibuka waktu tempuh kantor saya ke pintu tol Pasteur hanya satu jam saja, sehingga jika tugas kantor ke Bandung bisa pulang-balik, tidak menginap lagi.
Setelah urusan perizinan-perizinan selesai apakah saya masih sering ke Bandung? Masih. Tapi tidak sesering dulu. Dan kebiasaan yang tidak berubah adalah membelikan kue khas Bandung titipan teman-teman kantor, meskipun cara titipnya ada sedikit perubahan perilaku. Sebagian masih menggunakan cara manual dengan menuliskan pada selembar kertas, sementara yang lain via SMS.
Nah, yang melalui SMS ini yang membuat kepala suka nyut-nyut, soalnya mereka akan bayar belakangan!
_________________________
Ini tentu saja bukan artikel tamu, my lovely brother mengirimkannya tadi pagi karena prihatin melihat penjaga ladang manyun melulu gak bisa posting secara normal. Beliau akan berbaik hati membalas semua komeng dari sahabat LJ.. Buat Pak Mars yang udah kangen reply komeng warna pink, tenang aja nanti semua reply komengnya akan aku kasih warna pink.. ok.
May 23rd, 2010 by nakjaDimande
dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
[dalam doaku - sapardi djoko damono]
untuk yang tersayang, maafkan aku..
karena aku ternyata bukanlah ibu sejati
tak sekuat jati yang kau butuhkan untuk menyanggamu
aku lemah, ikut merapuh dalam sakitmu
hanya bisa biarkan hujanku turun semalaman
dan menitipkanmu pada Yang Maha Menjaga
Allah SWT, yang selalu menjagamu dengan segenap cinta
sayang,
tak mengapa bila kau tak lagi memanggilku, ibu..
May 20th, 2010 by nakjaDimande
Pada suatu perkuliahan, pernah saya ditanyai oleh dosen perihal maksud dari puisi Dongeng Sebelum Tidur karya Goenawan Mohamad. Ketika itu, saya masih tak tahu benar maksud puisi tersebut. Maka, saya hanya bisa menjawab bahwa puisi tersebut mengisahkan Anglingdarma dan istrinya yang berakhir tragis.
Mendengar jawaban itu, dosen saya pun mengerutkan dahi. Tampak guratan rasa tak puas atas jawaban saya. “Cuma itu saja?” tanyanya. Ketika itu, saya hanya menunduk tak menjawab. Lantas, saya pun ditugasi untuk mempelajari kisah tentang legenda Prabu Anglingdarma.
***
Dongeng Sebelum Tidur
(Goenawan Mohamad)
“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.
“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.
Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia
“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’
***
Puisi di atas sebenarnya mengisahkan satu framen kehidupan rumah tangga Anglingdarma bersama seorang istrinya, Setyawati. Tentunya kita paham bahwa Anglingdarma adalah sosok raja yang sakti. Dan salah satu kesaktiannya adalah mampu memahami bahasa hewan. Namun, kesaktian itu harus dirahasiakan. Tak boleh seorang pun tahu, walaupun itu adalah istrinya.
Dalam fragmen tersebut, diceritakan bahwa pada suatu malam, Anglingdarma yang sedang bermesraan dengan istrinya memperhatikan percakapan sepasang cicak hingga membuatnya tertawa. Sontak istri tercintanya pun terkejut dan bertanya perihal tawa itu. “Kenapa baginda tertawa? Bukankah di kamar ini hanya ada kita berdua?”
Dengan spontan, Anglingdarma pun menjawab, “Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita ….” Belum selesai berbicara, dia tiba-tiba terdiam. Dia tersadar bahwa hampir saja ia membuka rahasia ilmunya. Maka, selanjutnya sang baginda pun berucap, “Yaitu nonsens.”
Mendengar jawaban itu, sang permaisuri justru semakin penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh suaminya. Namun, sang suami tak juga mau membuka rahasia sehingga malam yang seharusnya berlangsung indah itu berubah menjadi dingin. Karena, nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei. Mereka saling diam.
Karena malam telah berubah tak kondusif, Anglingdarma pun angkat bicara dan meyakinkan istrinya dengan berkata, “Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.” Selanjutnya, Anglingdarma menutupkan kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Sang permaisuri pun tak mampu membendung air matanya. Malam itu, ia merasa telah disakiti oleh suaminya sendiri. “Inikah balasan dari kesetiaanku selama ini, duhai cintaku?” batinnya.
Alih-alih dilupakan, tampaknya rasa sakit itu masih dibawanya hingga terbitnya sang mentari. Karena merasa sangat tersakiti, permaisuri membunuh diri dalam api.
Melihat kejadihan pahit itu, sebenarnya Anglingdarma hampir saja ikut menyusul istrinya untuk terjun di dalam jilatan api (Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia). Namun, niatan itu diurungkannya karena mendengar percakapan sepasang kambing yang berkata bahwa keputusan untuk ikut bunuh diri adalah satu keputusan konyol.
Akhirnya, Anglingdarma hanya bisa mencurahkan isi hatinya yang tak menentu itu kepada kawan dan sekaligus patih setianya, Batik Madrim. “Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?”
Mendapat pertanyaan yang demikian, Batik Madrim hanya membeku, diam. Tampak kesedihan yang mendalam di raut wajahnya. Karena, permaisuri dari rajanya itu adalah adik kandung dia sendiri.
____________________________
______________

Sebagaimana terlihat pada foto di atas, bahwa artikel tamu kali ini ditulis oleh Jante Arkidam atau lebih dikenal dengan Andi Wicaksono atau bekennya Andi Masdeewee
Bila membaca tulisan Mas Andi banyak yang mengira bahwa beliau adalah seorang pengajar, termasuk aku tentu saja. Mas Andi konsisten berbagi ilmu tentang Pendidikan Bahasa Indonesia dengan cara yang menarik, jadi walaupun beliau tidak bekerja sebagai pengajar menurutku beliau adalah seorang guru yang baik bagi kita semua. Menyenangkan buatku yang awam ini bisa belajar sastra dari tulisan-tulisan beliau. O,ya sepengetahuanku Mas Andi sudah menerbitkan sebuah buku dan sering diundang keluar daerah sebagai pembicara.
Sastra-Solo-Jante Arkidam, itu 3 kata dariku untuk menggambarkan Mas Andi. Sekarang bersama kekasihnya Rie, sedang menunggu kelahiran sang buah hati. Mohon doa dari para sahabat agar semuanya berjalan lancar.
ok, Mas Jante.. terimakasih untuk Dongeng Sebelum Tidur ini, terimakasih juga untuk foto yang bikin penjaga ladang nyengir itu. Jangan lupa klo ada waktu balesin komeng yaaa..
May 19th, 2010 by nakjaDimande
… apakah ada bedanya ketika kita bertemu dengan saat kita berpisah sama-sama nikmat
tinggal bagaimana kita menghayati di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka
[Apakah Ada Bedanya - Ebiet G Ade]
Ebiet berusaha memberitahu bahwa bertemu dan berpisah itu sama-sama nikmat.
Lagu ini khusus untuk si penjaga ladang yang sedang mellow, yang sedang sibuk dengan dirinya sendiri… mohon dimaklumi.
Ingin menghibur si Penjaga Ladang? gampang..
Tulis Fiksi Mini-mu dan kirimkan pada ~Kontes Fiksi Mini~
yang diselenggarakan oleh ~Wi3nda~.
dilarang mengajukan pertanyaan, “bundo kenapa?”
May 17th, 2010 by nakjaDimande
Setelah tabrakan maut itu, Toro Sutiro menggelar jumpa pers mengumumkan kematiannya. Sayang, tak semua orang percaya perkataan sang aktor.
____________________
Note:
Fiksi Mini ini diikutsertakan dalam ~Kontes Fiksi Mini~
yang diselenggarakan oleh ~Wi3nda~.
May 14th, 2010 by nakjaDimande
Dari Wikipedia disebutkan bahwa pemberian nama jalan dan gang tergantung kepada pendekatan yang digunakan, kadang tidak gampang sehingga sering dikombinasi dengan nama jalan yang biasa digunakan
* Nama pahlawan biasanya ditetapkan pada jalan-jalan utama kota, contohnya Jl. Jendral Soedirman, Jl. Sukarno Hatta dan Jl. Prof M. Yamin SH (ini jalan utama di bukit nan tinggi).
* Nama hewan, bunga, tanaman. Di sekitaran Dipati Ukur Bandung ada jalan yang menggunakan nama burung semua, Tikukur, Merak, Dederuk, Titiran (Titiran Dalam I, kosan pertamaku), Titimplik, Caladi ( yang jualan kaos C59 itu), Gang Tilil (kosanku yang kedua, disini isinya mahasisiwi minang semua), Manyar, Gelatik (di sini kosan para mahasiswa minang, KKUMD-ku tersayang) Burung Gereja, ciung, Puyuh dan Gagak (jalan ini teramat penuh kenangan).
* Nama tokoh, disesuaikan dengan lokasinya. Seperti pemberian nama Pasteur sebagai nama jalan karena di situ ada Lembaga Pasteur (Biofarma) dan di sekelilingnya nama jalan para dokter seperti Eyckman, Otten, Rajiman dll.
* Nama tokoh yang tinggal dikawasan yang bersangkutan. Seperti JL. Inggit Ganarsih, atau biasa dikenal dengan JL. Ciateul. Aku suka lewat di jalan ini, memperhatikan rumah kenangan awal kisah cinta Bu Inggit dan Sukarno. Rumah bersejarah tempat Bu Inggit mengantarkan Sukarno ke gerbang cita-cita.
Yang tak pernah aku duga bahwa ternyata pemerintah juga sudah sangat mengapresiasi keberadaan narablog di dunia nyata. Hal ini terbukti dengan digunakannya nama seorang narablog jenius peraih penghargaan Silverblog dari ISBA sebagai nama salah satu gang di wilayah Lengkong, Bandung.
Hanya saja sayang sekali pemberian nama ini kurang diketahui oleh orang banyak, Bahkan oleh orang-orang yang setiap hari keluar masuk gang tersebut.
”Punteun teteh, jujur saya mah nteu terang kalau nama jalan ini diambil dari nama narablog yang gugur saat bertempur meraih penghargaan silperblog tea. Saya malah sama sekali tak pernah dengar tentang Hari Mulya, saha eta teh?” ujar seorang pedagang cireng yang mangkal di depan gang tersebut.

Mungkin hanya masalah waktu saja, aku yakin pelan-pelan Hari Mulya akan dikenal oleh masyarakat luas. Meskipun sekarang namanya baru diabadikan sebagai nama sebuah gang tapi itu merupakan langkah besar untuk menyusul prestasi sang guru yang namanya sudah diabadikan sebagai nama jalan utama di Planet Mars sana.

[Dang Tuanku sengaja diutus ke Planet Mars khusus untuk membuat sketsa jalan tersebut]
May 13th, 2010 by nakjaDimande

Pernahkah para sahabat mendapati sebuah negeri yang senantiasa senja. Tak pernah siang tak pernah malam? Karena negeri senja adalah negeri dimana matahari tak pernah terbit dan tak pernah tenggelam. Yang ada matahari senantiasa semburat menjelang tenggelam, namun tetap tak pernah tenggelam. Dari ciri-ciri itulah dinamakan negeri senja.
Untuk dapat sampai ke negeri senja harus menyeberangi gurun selama dua minggu. Jangan berfikir menggunakan pesawat atau bus. Angkutan yang ada adalah unta, kuda atau keledai.
Dari jauh negeri senja, hanyalah bayangan hitam tembok-tembok beku perbentengan tua. Benteng yang tak lagi ada artinya, apalagi kini nyaris berupa reruntuhan, menjadi warisan sejarah yang tak terurus. Negeri senja hanyalah bayangan hitam karena latar belakangnya lempengan bola matahari raksasa jingga yang membara.
Berhati-hatilah jika hendak wisata ke negeri senja, karena penduduknya selalu berharap akan datangnya seorang pemunggang kuda dari selatan. Dan jangan coba-coba menipu dengan seolah-olah andalah yang telah ditunggu-tunggu itu karena nyawa taruhannya.
Negeri Senja dipimpin oleh seorang perempuan yang buta yang dipanggil dengan nama Tirana. Tirana naik ke puncak kekuasaan diselaputi misteri. Tidak ada saksi hidup yang bias berkisah tentangnya. Pada saat berkuasa Tirana juga menghapus jejak para pendahulunya, namun ia sendiri tidak memerintahkan untuk menulis apapun. Maka bagi Tirana tidak diperlukan sejarah. Bahkan sejak kapan Tirana buta tak seorangpun yang tahu.
Sas-sus yang beredar Tirana mampu membaca pikiran dan inilah yang membuat siapapun yang ingin melawan harus mengembangkan cara-cara yang bisa mengecoh kemampuan itu. Maka pantaslah kalau mengapa orang-orang Negeri Senja sangat jarang bicara.
Masih juga belum percaya kalau ada Negeri Senja? Jika tetap tak percaya silahkan bertanya kepada Seno Gumira Ajidarma.
_____________________
Mulai hari ini, setiap kamis Insya Allah LJ akan menayangkan artikel dari penulis tamu. Dan kamis pertama ini LJ mendapat kehormatan untuk menayangkan tulisan dari sahabat LJ bernama Sunarno Sahlan. Beliau adalah seorang Guru serba bisa, mengajar matematika, biologi, menulis puisi dan menulis cerpen pun adalah keahliannya. Salah satu tulisan Mas Narno pernah diterbitkan dalam sebuah buku bersama penulis lain dari Forum Lingkar Pena. Saat ini selain sibuk sebagai guru beliau juga adalah Dewan Redaksi dari majalah Husnul Khotimah milik yayasan tempat beliau mengajar.
Pernah kuceritakan bahwa Mas Narno adalah sahabatku di masa awal belajar menulis di blog ini. Sudah setahun lebih kami bersahabat, waktu yang cukup lama untuk ukuran jagad maya. Berinteraksi dengan beliau hampir setiap hari membuatku hapal di luar kepala senyumnya di gravatar itu. Gravatar yang tak pernah diganti sejak aku mengenalnya
. Ciri khas beliau bila berkomentar hanya berupa kalimat pendek, seperti juga puisi-puisinya yang kebanyakan singkat dan berisi. Bila sesekali mas Narno berkomentar panjang, itu kejadian langka bagiku .
Tadinya aku paling takut bercanda dengan pujangga satu ini, tapi ternyataaa.. Bagi anda yang pernah mengikuti aksi Mas Narno di blognya Adit si Kutu awal tahun ini, pasti ingat kekocakan beliau membuat komen yang berjumlah ratusan di sana dalam waktu singkat [beliau pasti tak suka aku kembali mengungkit hal ini].
Makasi ya Mas, sudah kirimkan tulisanmu untuk LJ. Bila mas Narno ada waktu hari ini atau besok tolong balesin komentar dengan kalimat-kalimat singkatmu itu..
May 11th, 2010 by nakjaDimande

“nDuuk, kalau makan jangan banyak-banyak. Saru. Malu-maluin. Cukup sedikit saja. Kalau makan banyak nanti tidak payu rabi, lho. Tidak ada yang mau mengawini kamu”
[Umar Kayam, Mangan Ora Mangan]
Pertama kali jatuh cinta pada Almarhum Umar Kayam adalah karena cerita yang satu ini.
Bahwa banyak atau sedikitnya orang makan adalah kontekstual. Di sumatera, baik laki-laki atau perempuan makan dengan lahap [saya banget], tidak seperti di jawa.. yang laki-laki makan secukupnya, apalagi yang perempuan.. cimak cimik [istilah UK] mencuil lauk sakuwir dan itu juga tak habis di makan.., Waah, jaan, orang jawa itu! [onde mande.. kata saya].
Semua berhubungan dengan ideologi budaya jawa.
Tak usahlah jauh-jauh ke jawa. Antara saya, seorang perempuan sumatera dan KD yang menganut ideologi budaya sunda, di awal pernikahan terlihat sekali perbedaan jumlah porsi makanan kami di atas piring [piring saya lebih penuh dibanding KD]. Walaupun perbedaan itu berusaha saya hilangkan bila harus makan bersama mertua, Tapi lama kelamaan belang saya ketauan, sekarang sudah tak bisa pura-pura sudah kenyang di depan bapak dan ibu, karena malah akan diledek habis2an. Jadi hantam sajalah..!
Yang menarik dari cerita Pak Kayam adalah saat beliau membawa pulang oleh-oleh nasi bungkus dari Rumah Makan Padang [seharusnya Rumah Makan Minang
] dengan porsi besar untuk dua putrinya, berikut kutipannya:
…Ayo makan!” Dan perintah ke-2 sang patriarch diikuti lagi. Mereka mulai makan.
Mata brayat saya pada kelihatan pating pendelik, melotot-melotot, tetapi tetap saja makan terus. Eh, angudubilah syaiton, habis lho, habis!
Padahal anggota brayat saya itu semuanya putri-putri Mantili dengan pendidikan putri-putri keraton. Eh, habis lho, bungkusan yang sakpetutuk itu…
Wqqq… putri keraton takluk dengan nasi bungkus..!!!
Pak Ageng.., Pak Ageng, I Love U..
Note:
Makaciy buat uni Ami penghuni kamar kost paling depan.. yang meminjami saya buku ini 16 tahun yang lalu..
Ini artikel lama setahun yang lalu, saat aku masih ber’saya’.. repost ahh 
« Previous Page