July 12th, 2009 by nakjaDimande

semalam disuguhi Le grand voyage oleh metro tv..
bagi kami penghuni kampung yang kebanyakan tak berlangganan tv kabel, tentu saja mau tak mau menikmati program tv yang seadanya, bersyukur ada metro tv yang senantiasa putar film-film bagus, walau hanya malam minggu saja
kisah perjalanan ayah dan anak menuju tanah suci mekah, menurutku itu adalah hubungan yang sangat kaku antara ayah dan anak.. tak banyak dialog, entahlah mungkin karena aku tak punya ayah, merasa seharusnya bisa lebih hangat lagi..
diawali dengan Reda (si anak ) yang kesal harus mengantar ayahnya dengan menggunakan mobil, seharusnya perjalanan itu bisa ditempuh dengan pesawat terbang.. tapi sang ayah punya prinsip bahwa setiap perjalanan panjang adalah proses memurnikan diri, dia mencontohkan air laut yang meninggalkan garam dalam perjalanannya menuju langit.. **smoga aku tak salah paham, begitulah kira-kira** jadi beliau memilih perjalanan dengan mobil daripada pesawat karena yakin perjalanan panjang itu akan membuang ‘garam-garam’ dalam diri mereka..
mungkin karena latar kehidupan eropah berbeda dengan disini.. di situ diperlihatkan ayahnya tak pernah lalai sholat, sedangkan reda tak pernah ikut dan ayahnya tak sekalipun mengajaknya sholat..
perjalanan yang penuh kemarahan.., bergantian amarah antara ayah dan anak. menarik sewaktu reda berteriak pada ayahnya, “tidakkah diajarkan untuk memaafkan dalam agamamu..!!?” yang langsung membuat ayahnya tersentak **hmm, berarti redha tak ikut agama ayahnya**
membuat luluh aku.. adalah setelah mereka sampai ditanah suci.. redha menunggui ayahnya menunaikan haji dan setelah beberapa hari menemukan sang ayah sudah tiada.. adegan dia menangis dan memandikan ayahnya, sungguh berkesan bagiku.. mungkin juga karena lagu pengiring itu.. suara perempuan yang sangat indah dan pilu
perjalanan itu sebenarnya adalah perjalanan milik Reda.., perjalanan panjang dan pahit.. yang ternyata dibutuhkan agar kelak bisa seperti air laut , menuju langit dengan membawa dirinya yang sejati.. tanpa garam..
::note :
# buat nico : perjalanan panjang ini adalah milik nico bersama Allah SWT.. nikmati-lah.. dan Allah sudah berjanji bahwa takkan dipisahkanNYA setiap jiwa yang saling mencintai karena Allah.. InsyaAllah nico nanti ketemu mama etty, disini ataupun disana.. sekarang nico titipkan saja mama kepada Allah, mohon dijaga dunia dan akhiratnya, amiin
tugas selanjutnya? teruslah berjalan dan belajar.. jadilah pemimpin, setidaknya buat diri nico sendiri, karena itulah tugas kita didunia.. **bundo bawel yaaa**
# ada yang ketinggalan! adegan terakhir Reda menjulurkan kepalanya dijendela taxi, bagi aku itu seolah Reda sedang menghirup dan memandang air laut yang sedang dalam perjalanannya menuju langit.. nice.
June 2nd, 2009 by nakjaDimande
Perempuan dalam adat Minangkabau diungkapkan sebagai Limpapeh [tiang] rumah nan gadang, sumarak dalam nagari, hiasan di dalam kampuang, umbun puro pegangan kunci, kok hiduik tampek banasa, jiko mati tampek baniat, ka unduang-unduang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo.
Hmm, tak hendak menjelaskan makna kata diatas.. barisan kata-kata yang seharusnya indah itu sudah sangat biasa didapati disetiap pembahasan tentang perempuan minang..
Tak hendak pula membahas bahwa bangsa yang paling nyata menganut paham matrilinial ialah masyarakat Minangkabau. Keturunan yang dihitung menurut garis ibu. Garis keturunan ini amat penting **katanya** dalam menentukan suku dan urusan pewarisan pusaka suatu kaum yang disebut sako dan pusako.
Aku tak pernah peduli dengan kata-kata diatas.. karena sudah terlalu sering kubaca dan seringnya ditulis sebagai hiasan saja.. dan digunakan pada saat situasi menguntungkan bagi “satu pihak”
** sebenarnya aku malas bila harus menulis tentang suatu yang bernada tuduhan.. bisa merusak nuansa cinta bulan Juni ku
namun ingin berbagi kisah tentang Lian.. Lianku..
***
“ibu, sekarang Amak sudah tak ada.. Apak sudah menikah lagi, aku sudah berani bu.. aku akan pergi apapun tantangannya”
tak peduli lagi ancaman Rumah Gadang akan dibakar
bila dia berani tinggalkan rumah.. **ancaman dari para penguasa Lian
dulu.. ah rasanya sudah lama sekali 2 tahun berlalu
Lian harus putuskan kekasihnya, karena persyaratan itu
si gadis sama sekali tak diijinkan pergi tinggalkan kampung
sakit pasti.. rajutan masa depan hancur didepan mata
masihkah semua alasan itu berlaku..
alasan bahwa dia adalah limpapeh rumah gadang..
tak bolehkan dia menjadi tiang dirumah yang ingin dibangunnya sendiri
siapakah sebenarnya pemilik diri..???
Pergilah Lian.. pergilah.. aku, ibumu selalu doakan..
***
sedikit lemas karena membuatku teringat dakota fanning [lewellen] di hounddog **sama sekali tak usah kau tonton film itu.. gadis kecil yang terpenjara di rumah yang bukan ‘rumah’ dan semua biarkan jiwanya tersobek-sobek.. untuk kemudian membawanya pergi..
aku mengenal Lian, seorang Lewellen yang seharusnya biarkan dia pergi dari awal..
berbeda dengan Narumalina yang justru tolak tinggalkan lereng bukitnya.. aku juga mengenal seorang Narumalina lain, yang tak pernah bisa tinggalkan bukitnya terlalu lama, hmm.. hmm..
***
mengapa tak biarkan saja setiap diri memilih tempatnya sendiri
mengapa kita selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya
padahal dia bukanlah milik kita.. bukan milik siapa-siapa..
dan tak perlulah ku banyak bertanya, karena skenarioNYA memang selalu yang terbaik..
May 28th, 2009 by nakjaDimande
bersama Richard Gere semalam, ehm.. 
**walau mendadak kedatangan pasukan 7 orang bocah yang siap bergadang mau tonton Bola.. mereka aku ungsikan menonton di TV belakang
sudah tua dia sekarang.., bagaimana bisa? O..o.. aku juga sudah tua ternyata 
berkisah tentang seorang dokter bedah berpengalaman.., yang diluar dugaan pasiennya tewas di meja operasi
Hal seperti ini, seorang dokter yang sudah bedah ratusan pasien.. tiba tiba tersandung pada sebuah operasi biasa.. operasi yang sangat biasa, hanya perlu membuang bisul yang ada di wajah seorang wanita. Dan dia kehilangan pasien itu di meja operasi karena ada kelainan yang tak terdeteksi, berhubungan dengan anestesi..
ffiiuuuhhh.., sekian lama hal yang sama menghantui aku
Sering berpikir, dari sekian pasien yang aku hadapi setiap hari.. adakah satu yang akan membuat aku tersandung.. setiap melakukan anesthesi yang walaupun hanya lokal.. tetap membuat aku bertanya-tanya..
Bila sedang paranoid seperti itu, rasanya mau berhenti saja.. 
Tapi tak bisa begitu, jalankan tugas ini adalah butiran tasbihku
Aku hanya perlu mohon perlindungan pada Yang Maha Menjaga, apapun itu takkan pernah diluar KehendakNYA, yang pasti selalu untuk kebaikkan hambaNYA
Tugasku adalah terus belajar, selalu hati-hati dan teliti ** uuuhhh inilah tantangannya.. hati-hati dan teliti.. harus.. harus..
“Ya Rabb.. bimbinglah aku dan semua teman-teman lakukan tugas sebaik-baiknya, amiin..”
Kembali ke Richard Gere semalam
**Diane Lane juga deng.. 
Film ini tak membahas banyak tentang hal kematian pasien tersebut, lebih banyak tentang pendekatan sang dokter kepada keluarga pasien , hubungan ayah dan putranya, ibu dan putrinya.. lalu sisanya, melulu drama romantic.. my favorite, hehhhee
**dan KD pun tersenyum sambil gelengkan kepala, takjub melihatku berderai air mata.. halah