Archive for the 'LorongdiKampungku' Category
December 28th, 2009 by nakjaDimande
senyuman pagi di Bukit nan Tinggi
hadir diam-diam dari selimut beku bulan Desember
~oOo~
Mengenang Hari Jadi ke 225 Kampungku
Bukittinggi Tercinta

Jam Gadang di Pagi Hari

Ngarai Sianok

Istana Bung Hatta [dulu dikenal dengan sebutan Istana Tri Arga] menjadi saksi ketika Bukittinggi mengukir sejarah sebagai Ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948. Dan Istana tersebut ikut dibumihanguskan pada tanggal 21 Desember 1948 sebelum Belanda sempat merebutnya.
Di belakang Istana Bung Hatta terlihat Ngarai Sianok dan Gunung Singgalang. Sedangkan Di depan Istana terdapat Taman Sabai nan Aluih tempat berdirinya Jam Gadang. Saat ini di sisi kanan terdapat pusat pertokoan yang bagiku membuat pemandangan menjadi sangat terganggu

Sisi kiri Taman Sabai nan Aluih

Jam Gadang dibidik dari arah pusat pertokoan modern. Terlihat Pasar Atas yang menjual beraneka hasil kerajinan rakyat. Pasar Atas sudah berulang kali hangus terbakar. Alhamdulillah berkat Rahmat dari Allah SWT, para pedagang pun berhasil bangkit kembali.

Jembatan Limpapeh
yang menghubungkan Taman Puti Bungsu dengan Benteng Fort de Kock
[ Semua foto milik uda Erison J Kambari ]
============================
~oOo~
Ngakunya hiatus tapi posting juga
ingin sedikit menyapa Duncayku semua yang sedang menghabiskan liburan akhir tahun. Pada Liburan kemana? jangan ke Bukittinggi yaaa, soale Bukittinggi penuh! jalanan macet. Ga asyik pokoknya
Bundo masih berstatus hiatus niyh, jadi belum bisa BW
Kerjaan Bundo tinggal dikit lagi, Insya Allah tahun baru sudah selesai semua.
Teruntuk Pakde Cholik tersayang, yang merindukan Bundo. Sebagai penebus rasa bersalah karena kemarin ndak ikutan Pantun Ngakak Antar Nusa maka kali ini Bundo akan menjawab pantun dari Pakde [hasil nyontek juga
]
Esuk mancing sore ya mancing
Sing mancing arek suroboyo
Esuk eling sore ya eling
Sing di eling-eling ora rumongso
Pantun milik Pakde, entah ditujukan untuk siapa?
kuanggap untukku saja, dan inilah jawabannya
ehm, ehm..
koto kaciak koto nan ampek
marantak kudo sikumbang jati
hati sadiah lah batambah larek
lah lamo taragak si jantuang hati
artinya
gW kanGEn juGaaaa…!!!
December 5th, 2009 by nakjaDimande
Peringatan lagi: Tulisan ini tak elok bagi anda yang alergi terhadap rendang dan juga bagi anda yang doyan rendang tapi tidak mendapatkan kiriman rendang dari Bukittinggi, hal ini bisa membuat perasaan anda menjadi tidak tentram. Lebih baik gunakan waktu anda untuk mendaftarkan diri pada acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu dan program PPC: Parade Puisi Cinta. Sekarang juga!
Minum Teh Bersama Ibu
Ramaikan dan ikuti Karnaval Blog “Minum Teh Bersama Ibu”
www.guskar.com
Parade Puisi Cinta (PPC)
Ungkapkan rasa cinta Anda dalam bentuk puisi, lalu ikutkan!
www.abdulcholik.com
Tau tentang Pak dan Bu Mars?
Segera hubungi kami jika anda tau banyak tentang mereka berdua
www.nakjadimande.com
[kyaine sudah bisa belum ya memposisikan iklan Pak Mars di tengah?]
~oOo~
Hari Raya Idul Adha di Bukittinggi tentu saja sama dengan di daerah lain, ada suatu kemeriahan karena itu adalah Hari Raya Kurban saat di setiap rumah akan merasakan nikmatnya masakan daging kurban pada hari tersebut.
Ketika di Bandung dulu pemandangan yang lazim terlihat adalah acara bakar sate, sehingga udara seharian akan beraroma sate. Berbeda di kampungku Bukittinggi, selama dua hari berturut-turut akan ada wangi rendang setiap melintasi di rumah-rumah penduduk.
Tipikal masakan di kampungku jarang sekali yang menggunakan daging kambing, satu-satunya yang aku tahu hanyalah gulai cancang, semacam kari. Bahkan sate pun di sini menggunakan daging sapi. Sehingga pada pemilihan hewan kurban selalu diusahakan untuk berkurban sapi, caranya adalah dengan patungan. Biasanya panitia di surau dan masjid yang mengatur satu sapi untuk 6-7 orang. Sedangkan bagi yang telat menyetorkan uang kurban sehingga bisa jadi sudah tak ada teman patungan untuk beli sapi, maka dibelikanlah kambing. Namun biasanya itu hanya satu dua ekor saja. Dan sudah menjadi tradisi bahwa kambing yang disembelih akan dimasak menjadi gulai cancang untuk acara makan bersama warga kampung di mesjid pada hari itu, sedangkan yang dibagikan tetaplah daging sapi.
Setiap lebaran haji. ibuku seperti juga ibu yang lain akan memasak daging yang diantarkan oleh panitia menjadi rendang, untuk kemudian dikirimkan ke seluruh penjuru. Hehhe, emangnya rendang seberapa banyak siyh? Lumayanlah, biasanya ibu menambahnya dengan daging dari pasar agar bisa mencukupi.
~oOo~

Tahap pertama adalah memanaskan santan dan segala bumbu [semua bumbu dapur masuk, aku rasa
] daging jangan dimasukkan dulu, karena dikhawatirkan hancur karena proses memasaknya cukup lama. Ibuku menggunakan kompor minyak tanah bersumbu banyak, ditaroh di lantai agar lenganku tak terlalu pegal saat mengaduknya [aku bagian pengadukan secara lenganku cukup perkasa karena sudah biasa untuk ekstraksi ]

Tahap kedua terlihat santan mulai berkurang dan mengeluarkan minyak, pada tahap ini daging pun dimasukkan. Jangan pernah lengah dalam mengaduk karena akan mengakibatkan bagian bawah wajan hangus dan lengket.

Tahap ketiga rendang sudah semakin coklat, kewaspadaan harus semakin ditingkatkan. Pada tahap ini aku beberapa kali kena omel oleh ibuku, karena aku lengah gara-gara blogwalking yang kulakukan di dapur.

Tahap akhir, rendang sudah mengering dan ibuku menambah potongan singkong berukuran kecil yang sudah digoreng garing.. t.o.p.b.g.t pokoknya!

Rendang dibungkus plastik lalu dimasukkan kedalam dus, aku tak sempat lagi untuk membungkusnya dengan cantik. Nanti di Tiki saja minta bungkus dengan kertas coklat!
~oOo~

Sejak hari minggu tiki beroperasi dari jam 6 pagi, senin itu aku datang cukup pagi tapi antrian sudah panjang. Yang mengantri kebanyakan adalah ibu-ibu, hmm,,. hampir semuanya mengirimkan paket cinta berupa rendang untuk buah hati yang jauh di rantau.

Seorang wartawan meliput kegiatan ini dan mewawancarai beberapa ibu. Bila beberapa hari lalu dirimu melihat tayangan di TV tentang aktivitas pengiriman rendang di Bukittinggi, akan terlihat seorang ibu-ibu setengah baya berpakaian dinas yang berusaha menyembunyikan wajahnya takut tertangkap satpol pp karena ngantri di tiki pada jam dinas, nah itu adalah aku..!!!
Mungkin karena traffic pengiriman rendang begitu tinggi, kali ini tiki kurang menepati janjinya dalam pengiriman. Mamaw di bandung dan Ibu di jakarta lapor bahwa mereka baru menikmati rendangnya kemarin sore, seharusnya hari Rabu sudah sampai.
>>>duncay semua, maafkan ya.. karena tenyata narablog tak termasuk dalam daftar pengiriman rendang ibuku
October 25th, 2009 by nakjaDimande

Kick Andy beberapa minggu lalu menampilkan Kiboud Maulana, seorang gitaris jazz dan blues senior era 70-an. Pada acara tersebut kiboud bercerita kisahnya ketika manggung di Amerika, saat BB King sang legenda blues dunia memperkenalkan kiboud sebagai gitaris blues dari Bali..! [“dari Bali” bukan “dari Indonesia”]
Hihi mau cerita tentang “Padang” kok dimulai dari kiboud maulana siyh? Karena hampir mirip kasusnya. Di luar negeri Indonesia itu adalah Bali, demikian pula bila di perantauan.. bagi orang lain Minang itu adalah Padang. Setumpak kecil kota Padang mewakili bentangan luas Ranah Minang.
Tidak peduli bahwa aku adalah warga Bukittinggi yang tak pernah merasakan menetap di kota Padang, aku tetap saja dikenal sebagai orang Padang ketika sedang berada di Jakarta atau Bandung.
Bila tiba saatnya aku pulang ke Bandung, teman-teman akan bertanya bagaimana kabar keluarga di Padang? hehhe, kadang terasa ingin menjelaskan, tapi ya sudahlah..
kecuali keluarga KD yang memang sudah paham dan selalu bilang kalau menantu kesayangan ini adalah orang Bukittinggi bukan orang Padang
Kebanyakan orang luar minang seperti di Jakarta dan Bandung, akan menyamakan semua penghuni Ranah Minang ini dengan sebutan orang Padang, seperti pertanyaan “kapan pulang lagi ke Padang?” padahal bila aku naik pesawat, letak Bandara Internasional Minangkabau itupun sama sekali bukan di kota Padang. Sehingga setelah mendarat aku akan langsung pulang ke Bukittinggi tanpa harus melewati kota Padang.
Trus kenapa? ndak masalah toh? Hehhe ngga siyh hanya iseng saja mendata istilah Padang yang banyak digunakan oleh teman-temanku saat di Bandung dahulu, yang kadang justru membuat aku kasihan sama orang Padang karena harus menanggung beban atas semua pencitraan warga ranah minang
>> Orang Padang itu pelit. wkwkkwkkkk padahal yang pelit itu adalah aku! yang jelas-jelas adalah orang Bukittinggi
>> Orang Padang suka lebay.. gara-gara pedagang kaki lima di Pasar Baru Bandung yang kebanyakan orang minang, suka lebay kasih harga
padahal si uda itu bisa jadi adalah warga Payakumbuh yang berada cukup jauh dari kota padang **malah mungkin si uda belum pernah ke padang**
>> Klo mau nikah sama cowok Padang harus bayar mahal, hihiihi keciaaannnn deh yang jadi lelaki Padang karena kebiasaan bayar mahal itu terjadi bukanlah di kota Padang
>> Adat padang itu ribet ya? lagi-lagi huahahhahhha.. karena masyarakat di Padang sebenarnya cukup longgar dalam menjalankan adat, mungkin karena perkembangannnya sebagai kota yang cukup besar. Justru Adat Kurai Bukittinggi yang cukup bikin pusing
Selain banyak dirugikan karena harus menanggung image warga ranah minang secara keseluruhan, kota Padang juga diuntungkan karena ada beberapa hal positif yang justru dikenal dengan embel-embel Padang.
# Rumah Makan Padang. Padahal bila dicoba cari di pelosok kota Padang dan seluruh Ranah Minang tak kan bertemu yang namanya Rumah Makan Padang. Karena yang ada adalah Masakan Kapau atau Masakan khas Minang.
# Sate Padang. Justru disini tak ada yang judulnya sate padang karena yang ada adalah Sate Pariaman, Sate danguang-danguang atau sate Padang Panjang [sate pariaman paling enak, tanyain shige klo ga percaya
]
# Perempuan Padang pinter masak. Aku selalu bilang iya atas pernyataan ini.. jangan bilang aku berbohong, karena aku kan perempuan Bukittinggi jadi ndak apa-apa kalau aku ndak pandai memasak
Cukuplah sekian dulu ya daftarnya, kapan-kapan aku tambahi lagi 
Hanya saja aku minta tolong jangan sampai ada yang berucap: “Bagaimana kabar Padang, Bundo…? pengen deh ke Jam Gadang dan Ngarai Sianoknya…!”
karena Jam Gadang dan Ngarai Sianok itu berada 92 km dari kota padang, OK..!!!
========
ps. tulisan di atas terinspirasi dari note dan foto karya uda Erison J Kambari
October 18th, 2009 by nakjaDimande
Bila tidak karena berjanji kepada shige, aku mungkin tak kan masuk ke rumah ini. Melewatinya sudah hampir setiap hari, karena letaknya tak begitu jauh dari puskesmas tempat aku bekerja. Dan seperti yang sering terjadi, sesuatu yang dekat biasanya akan terlewat dari pengamatan.. Begitulah aku, sudah 4 tahun menetap di sini belum sekalipun masuk ke dalam Rumah Kelahiran Bung Hatta [RKBH] tersebut **terimakasih shige secara tak langsung sudah mengingatkan bundo

Berdua KD, berangkat dari rumah pukul 9 pagi. Hanya sekitar 5 menit pake motor sampailah kami di rumah itu, letaknya sangat dekat dengan Pasar Bawah tepatnya di Jl. Soekarno Hatta no 37 **cukup mengherankan bila kemarin jejaka petualang tak bisa menemukan rumah itu

Jam 9 ukuran Bukittinggi masihlah terlalu pagi, sehingga belum ada pengunjung lain, hanya ada petugas kebersihan dan seorang petugas yang menjaga rumah tersebut. Cukup surprise, karena ternyata ndak usah bayar! setelah berbicara sebentar dengan petugas tentang letak semua ruangan, kami dipersilahkan menjelajahi rumah itu tanpa pengawasan

Rumah Kelahiran Bung Hatta ini sempat dijual kepada orang lain, kemudian dibeli oleh Pemda Bukittinggi dan pada tahun 1995 dilakukan perbaikan. Rumah tersebut berusaha dikembalikan kepada bentuk aslinya. Hmm, setelah melihat hasilnya, aku salut atas usaha tersebut..!
o,ya maaf, aku pasang fotonya kecil-kecil saja. kalau mau lihat foto berukuran besar ada banyak di mbah gugel, lihat sendiri yaa

Cukup mudah untuk memahami setiap ruangan dan barang walaupun tidak ditemani petugas, karena semuanya sudah diberi nama. Ruangan yang ada jendela seperti pic diatas ini adalah kamar kelahiran Bung Hatta, berada dilantai dua. Untuk naik keatas kita harus melewati ruang makan yang kecil mungil..
Sedangkan kamar untuk bung Hatta ketika sudah bujang berada di belakang, di sebelah dapur dan kamar mandi. layaknya anak laki-laki yang sudah akil baligh akan sering tidur di surau, sehingga posisi kamar bujangnya pun berada di luar rumah utama. Agar mudah untuk keluar masuk tanpa mengganggu penghuni rumah lainnya.
Dahulu adalah hal yang memalukan bila laki-laki akil baligh masih tinggal bersama-sama orang tua, namun sekarang sudah tak ada lagi bujangan yang tidur di surau kecuali garin

Eitss, lupa.. masuk ke dalam rumah harus melepas alas kaki, dan bila kita ingin berkeliling di halaman belakang sudah disediakan tangkelek.. hehhhe aku sudah lama ndak pakai tangkelek
Di halaman belakang ada lumbung padi, kandang kuda kamar mandi dan dapur. Dapur itu sungguh membangkitkan memori pada dapur nenekku dahulu, rak piring yang dari kayu dan piring-piring loyangnya itu. Perlengkapan memasak tradisional seperti belanga sampai sekarang masih digunakan oleh warga Bukittinggi, karena ada jenis masakan tertentu yang hanya nikmat bila dimasak menggunakan belanga

Bagiku cukup menyenangkan berada di rumah itu, ada banyak foto di dinding yang belum selesai aku amati satu persatu.. mungkin besok-besok saat jam istirahat di puskesmas aku akan singgah lagi ke sana untuk memperhatikan lebih detil
Karena masih ada kegiatan lain, aku dan KD mengakhiri kunjungan di RKBH. Sebelum pulang kita diminta mengisi buku berisi kesan dan saran, dan dengan tulus aku menulis “pengen banget deh tinggal disini..” **sayang sekali tak ada emoticon yang bisa dibubuhkan
Dan di dekat meja itu ada kotak sumbangan, aku rasa para pengunjung cukup senang hati untuk memasukkan uang ke kotak itu, karena suasana disini sangat menyenangkan.
Demikianlah laporan singkat yang tak lengkap ini, lagi-lagi di mbah gugel sudah banyak yang membahas RKBH jadi para sahabat bisa cari sumber lain yang tentu saja lebih lengkap.
maafkan aku yang sedang kehabisan ruh untuk menulis, benar-benar habis.. **emoticon minta dikasihani ada ga siyh?
============================================================= 
Rayya sayang, terimakasih untuk kejutannya
jilbab merah itu sudah bundo pakai tadi pagi saat ke RKBH.
**dapat bocoran dari mana tentang warna favorit bundo?
=============================================================
September 13th, 2009 by nakjaDimande
baru saja lihat program METRO 10, sepuluh kota favorit untuk dijadikan tempat tinggal.. hiks huaaaa!!! BUKITTINGGI ndak termasuk..
niyh dia daftar urutannya 
1. Yogyakarta
2. Bandung
3. Semarang
4. Solo
5. Bogor
6. Surabaya
7. Malang
8. Medan
9. Bali
10. Makassar
hmm, bandung dan yogya.. memang oke! **maka judul kali ini agak KLA mode on
lagian Bukittinggi kan hanya sebuah kampung.. huuu ngaku-ngaku kota
**klo di peta, Bukittinggi keliatan ga siyh..?
tak mengapa bila Bukittinggi bukan kota favorit.. jadi para turis lokal dan interlokal itu ga usah terlalu rame kesini.. maceeetttt tauuu..!!! dari hari ini saja sudah sulit untuk muter” bagi yang mengendarai mobil **untung bundo pakenya motor
hmm, lebaran.. saatnya MUDIK..!!
selamat menikmati perjalanan pulang buat anak-anak bundo semua, yang di jawa, kalimantan, sumatera, dimanaaapun berada.. hati-hati dijalan.. nikmatilah debar jantungmu yang tak sabar untuk segera sampai di rumah
Pulang ke kotamu..
dan tak lupa bundo ucapkan selamat kembali pulang wahai anak rantau.. peluklah Bukittinggimu yang mungkin tak lagi sedingin dulu.. semoga masih mampu menyejukkan hatimu..





semua foto kepunyaan uda erison j kambari
August 23rd, 2009 by nakjaDimande
pada dua tulisan terakhir, aku sedikit menyinggung tentang ngarai sianok.. maka dipostingan yang ini aku ingin suguhkan gambar ngarai sianok.. bukan dengan tema betapa indahnya ngarai itu.. tapi tentang si lembah cantik yang ternoda.. siapa yang menodai..? bisa jadi adalah AKU..!!!
tulisan shige tentang sampah di tempat wisata, membuat aku teringat dengan sampah yang berada di dinding lembah sianok. duh , gawat bila dibiarkan berlarut-larut..!




bukan hendak membahas siapa pihak yang salah atau apa yang sebaiknya dilakukan.. hanya hendak berbagi foto aktifitas peduli Ngarai Sianok, kolaborasi LSM Matahari, off roader, crosser dan pemanjat tebing, dalam tajuk “Save Our Canyon.. salut untuk mereka semua..!!!



=============================================================

foto-foto diatas adalah hasil rekaman lensa uda erison j kambari.. seorang fotografer senior yang rendah hati. tadi aku mengirimi beliau message, minta ijin mau pakai foto.. dan seperti biasa jawabnya: “ah, butet.. gaya sekali minta ijin segala.. pakailah sepuas hatimu..”
hahha, iyolah uda.. bedolah biko kalau si butet ini seenaknya pasang foto punya senior, bisa dipecat jadi warga Bukittinggi..
tahun baru kemarin aku juga pakai hasil bidikan beliau
=============================================================
August 22nd, 2009 by nakjaDimande
selamat siang semua..!!! bagaimana puasanya.., haus? sudah mau pingsan..? hehhhe.. sabar yaa
seperti biasa sehari sebelum ramadhan.. kakak dan adikku berkumpul di rumah Aur, untuk ziarah ke makam ayah dan mengunjungi dua pamanku yang tinggal di Bukittinggi, sahur pertama dan buka puasa hari pertama bersama-sama.. dan tidur berdesak”an
ke makam ayah yang terletak persis dibibir ngarai sianok, disitulah kampung ayahku.. karena dulu ayah adalah seorang pemimpin adat, maka beliau harus dimakamkan kembali dikampungnya, bukan dikampung Aur tempat kami tinggal.. tak mengapa karena hikmahnya kami jadi sering mengunjungi ngarai itu..

saat gempa hebat tahun 2007.. area makam itu tak boleh dikunjungi karena tebing ngarai terus menerus runtuh setiap kali gempa datang.. penduduk yang rumahnya berada dipinggir ngarai harus mengungsi, tapi sekarang mereka sudah kembali lagi walau masih terus was-was setiap kali gempa kecil terjadi..
foto ini aku ambil dulu sewaktu gempa tahun 2007, hanya beberapa meter dari bibir ngarai disitulah makam ayah berada..
Ramadhan hari pertama, puskesmas sepi..! pasien tampaknya paham kalau petugas sedang beradaptasi dengan suasana Ramadhan.. hehhe Alhamdulillah berarti hari pertama ini masyarakat sehat semua..
jadi sekarang bundo bw dulu ah.., hmm banyak sekali yang belum bundo kunjungi..
July 16th, 2009 by nakjaDimande

sawah sebelah ruanganku di puskesmas sudah selesai panen.. dan minggu lalu dibajak kemudian ditanami lagi.. pemandangan yang berbeda, tapi masih sama menariknya buat aku.
sesekali para petani itu numpang berteduh di emper teras belakang puskes.. lelah, tapi wajah penuh harapan.. mereka membicarakan sawah dengan penuh cinta. sebaiknya begini atau begitu.. aku yang tak paham hanya mendengar saja dari balik jendela..
hmm, bahkan sawah pun mengalami siklus.. dibajak, ditanami, diberi pupuk, dijaga dari serangan burung, dan saat padi menguning, semua pun akan riang gembira mengisi waktu panen.. lalu setelah itu sawah kembali kosong.. untuk kemudian dibajak lagi.. bapak dan ibu petani lah yang menjaga dan memelihara sawah sehingga bisa bermanfaat buat orang banyak..
seumpama kita adalah petani itu, bertugas untuk menjaga hati.. mungkin hati kita jugalah sawah yang harus terus ditanami cinta, dipupuk dijaga dari serangan hawa nafsu.. untuk kemudian dipanen dan bermanfaat bagi sekeliling.. ada saatnya hati kosong, hampa.. tak mengapa.. teruslah bajak dan tanam lagi.. dengan daya yang dialirkanNYA.. InsyaAllah


May 21st, 2009 by nakjaDimande
Yang ada hanyalah batang labu siam yang merambat menutupi hampir semua pagar pembatas dengan kampung ujung.. ada sungai kecil pemisah.. dahulu sekali, aku menyeberang hati-hati melewati 5 batang bambu yang melintang di atasnya.. licin, apalagi setelah hujan
Sekarang sungai itu bertambah kurus.. rasanya dengan sekali lompat sampailah aku disebrang **tapi tak pernah kulakukan, karena aku tak pintar melompat
Kampung yang berada disebrang sungai itu disebut kampung ujung.. warganya pun kami sebuat ‘orang ujung’.. surau mereka, kami sebut ’surau ujung’.. ladang nenekku yang berada disana kami sebut ‘parak ujung’ disana ada sedikit tanaman wortel dan buncis..
sedangkan rumahku berada di kampung tengah.. jadi aku adalah ‘orang tengah’.., surau disebelah rumahku disebut ‘surau tangah’ padahal sudah lama diberi nama mushalla Darul Wustha.. tapi tetap saja disebut ‘surau tangah’.
tak mungkin ada padang ilalang dibelakang rumahku..
karena semuanya dipakai untuk sawah, tempat tinggal dan sedikit ladang.. dahulu sampai usiaku belasan tahun semua ladang masih berisi batang pisang dan rumpun bambu, itulah mengapa kampung kami disebut kampung Aur Kuning [Bambu = Aur] sekarang tak ada lagi, karena ladang sudah menjelma tempat tinggal. hmm.. entahlah, apakah ladang nenekku sebentar lagi juga hilang dari pandangan..?
Bukittinggi.., tanah disini mahal sungguh. Sehingga orang senang menjual sawahnya, lalu menjelmalah toko-toko besar itu.. sekarang sulit bagiku memandang langsung ke arah Marapi, harus pergi dulu kekamar atas agar bisa kulihat gunung dan sawah yang tersisa..
ahh.. aku hanya ingin memberitahumu bahwa dikebun belakang rumahku ada labu siam yang rimbun sekali.. dan semua dipersilahkan mengambilnya, bila tak punya sayur untuk makan siang nanti..
**hanya itu saja.. tak mau sakit hati bahas toko-toko tinggi besar itu.. semua orang memang perlu uang.. tak mengapa, hmm.. **tanpa ekspresi**
January 15th, 2009 by nakjaDimande

foto-foto hasil bidikan seorang senior, bapak erison j kambari.. yang piawai dan jeli mengulik hal-hal yang kecil ataupun yang besar.. yang dengannya harus berhati-hati bila berucap, tajam nanti beliau menebas leher kita..
tentu berbeda jauh dengan saya yang cendrung melihat sesuatu sesuai yang terlihat saja **suka telat mikir memang** makanya saya lebih suka bila jendela terbuka lebar, karena jadi lebih mudah memandang bunga di seberang halaman.. suatu hal yang sulit bagi saya untuk membayangkannya dalam keadaan jendela tertutup.. **kenapa topiknya jadi jendela..?**
Jam gadang ditengah kota.., ditutup kain pada malam pergantian tahun. suatu langkah yang diambil oleh pemda.. setelah peristiwa tahun lalu, ada banyak kekacauan terjadi.. saat perayaan tersebut
sehingga diputuskan untuk menutup jam gadang dan taman yang berada disekitarnya. Dengan himbauan agar bersama-sama berbuat untuk kemaslahatan umat. Keputusan ini tentu saja.. seperti keputusan2 yang lain, selalu memancing pro dan kontra. Ada yang senang karena segala hal yang dikhawatirkan akan dapat diminimalisir **siapa yang jamin kota bebas kekacauan?** ada yang bersedih, para pedagang dan pengusaha penginapan mungkin.. karena Bukittinggi sepi pengunjung
hmm.. bingung juga.. begini atau begitu..???
saya dimalam tahun baru..? halah..halah.., ikut terjebak dengan 20 orang mahasiswanya KD.. mereka seperti kebanyakan anak muda pengennya kumpul sesama mereka, semangat bikin acara bakar ayam di kampus.. tak mungkin untuk melarang kata KD… alhasil KD, aby, dewi, dan saya.. nongkrongin anak2 itu sampai jam satu malam.. muhasabah..
saat menuju pulang, kami berusaha lewat disekitar jam gadang.. tapi ternyata susah untuk menembusnya karena mobil dilarang masuk kesana.. disepanjang jalan kami lihat cukup banyak remaja duduk dipinggir jalan.. tak terjadi kekacauan tampaknya.. sampai hari ini, tak ada berita miring **atau saya yang tak baca koran**

lewat berapa hari, tak lagi saya mengingat jam gadang terbungkus kain itu, sampai saat bapak erison j kambari **kekeuh.. tulis nama lengkap** posting hasil bidikannya di FB.. dalam hati saya berkata “ouww.. cantik juga..” secara saya adalah pecinta warna hitam, merah dan kuning.. hehhhe karena yang terbayang semula oleh saya adalah jam gadang dibungkus seperti pocong.. mengkhawatirkan sekali **dasar kurang daya khayal**..
setelah lihat fotonya.. “Ooooo begini thoo…”
,
,
peristiwa dibungkusnya jam gadang ini, bagi saya cukup indah.. dari segi tampilan ataupun dari sudut makna **sok iye saya** membuat saya melihat kedalam diri.. sudah berbuat apa saya untuk kota ini..? sudahkah saya ikut untuk saling mendukung dan saling menolong demi kebaikan bersama..?
TANDA TANYA..
note:
Da son… makaciiiii atas foto2 cantik ini
January 8th, 2009 by nakjaDimande
Berkunjung ke kamar sebelah hari ini.., ada koment terbaru tentang tulisan lama beliau ‘tour de Bukittinggi’. walaupun sampai sekarang belum ada bayangan bahwa akan dicalonkan menjadi walikota Bukittinggi, tapi tulisanya cukup menggelitik saya untuk membuat semacam review, versi saya tentunya..
Los Lambuang:
Los itu apa sih.. lorong kali ya..? saya sedang malas mencari maknanya.. kira2 begitulah **semoga ga dimarahin Yus Badudu**, sedangkan lambuang, ya lambung.. tempat makanan diperut kita. hampir semua makanan yang dijual disini berasal dari kampung kapau.. sebuah kampung dipinggir kota bukittinggi.. yang indahnya.. dahsyat gile..!!! **subhanallah.. maksudnya**
Katupek kapau.., hmm..
pernah saya sebut sekilas ditulisan tentang hari pekan.. sejenis warung yang mempunyai 4 sisi, si ibu (sang penjual) duduk disatu sisi menghadap kepada para pembeli yang mengisi bangku di 3 sisi lainnya.. ditengah-tengah semua itu ada sebuah meja dengan segala macam pernak-pernik keperluan, untuk menciptakan sepiring ketupat yang lezat..
perlu saya jelaskan segala pernak-pernik itu.., ada sayur lobak singgalang yang diiris halus, mie kuning, jantung pisang rebus diiris halus, bihun goreng, kerupuk merah, kripik talas pedas yang super renyah dan ketupat yang digantung pada sudut belakang meja, sedang pilihan kuahnya ada dua macam.. kuah gulai kuning yang berisi nangka, ‘kamumu’ (batang keladi) plus rebung ataukah kuah pical/saos kacang yang pekat itu, favorite saya adalah ketupat dengan bihun goreng disiram kuah gulai plus sedikit kuah pical.. lalu diatasnya dihiasi kripik talas **halah.. keliatan nggragasnya**
ehhmm.., ada ga ya.. yang sekitar tahun 80-an akhir, pdkt atau kencan diwarung ketupat ini (wuoii.. istilah pdkt jaman sekarang apaan seehh..).. lucu kali ya.. pdkt didepan ibu penjual yang jaraknya hanya sekitar 1 meter dari kita, dan yang pasti dipelototin terus sama si ibu warung.. hihihi…
sayang sekali masa remaja saya, tak sempat merasakan apa itu ‘pdkt’ **tepu..**. jadi saya ke warung ketupat itu selalu rame-rame dengan teman satu gank yang hebohnya bukan main.. hehhe, segitu juga makan diwarung ketupat los lambuang adalah hal yang cukup ‘gaul’ pada saat itu
ada yang hampir terlupa, bagian terluar pembeli ditutupi dengan kain putih yang cukup lebar di tiga sisi diikatkan dengan menggunakan tali rafia, sedangkan sisi penjual dibiarkan terbuka.. karena masih harus menyimpan peralatan masak seperti kompor dan lainnya.. sayangnya saya tak mempunyai foto warung ketupat ini.. di los lambuang sekarang sudah mulai berubah bentuk sedangkan di Pasar Aur Kuning mereka masih menggunakan style lama.. dimana pada saat datang kita harus menyibakkan dulu kain putih yang menutupi tenda..

Nasi Kapau
masih satu los dengan ketupat.., warungnya pun segi empat.. hanya saja lebih luas.. dan ibu penjual duduk disatu sisi dengan posisi yang lebih tinggi dari pembeli.. sedangkan ditengahnya diletakkan segala macam lauk pauk yang disusun bertingkat. Bila kita hendak memesan.., si ibu akan mengambil lauk dengan menggunakan sanduak (sendok panjang dari batok kelapa).. saking panjangnya sanduak itu sehingga dapat menjangkau bagian terjauh dari tempat si ibu duduk..
sejatinya makan nasi kapau, haruslah dicampur semua kuah dan samba ladonya.. jadi bila cuman makan nasi plus ayam bumbu saja tanpa guyuran bermacam pernak-pernik itu, bukan nasi kapau namanya. secara warna, Nasi Kapau itu indah.. setidaknya harus ada 6 warna diatas piring.. putih dari nasi, kuning dan hijau dari gulai sayur kapau (kacang panjang, rebung, nangka), merah dari samba lado, hitam dari bubuk rendang (biasanya ada kentang kecil atau singkong yg dipotong dadu), coklat muda dari bumbu lengkuas ayam goreng, coklat tua dari kuah cancang dan kalio.. **fiuuhh.. cape dee..**
nah apapun lauk yang anda minta.. seharusnya warna warni itu adalah standar bakunya.. barulah anda tau apa itu sesungguhnya nasi kapau.. seperti misalnya nasi rames, nasi campur.. ya.. sebenarnya kudu meriah.. tapi jaman sekarang, banyak orang yang perutnya tak sanggup **termasuk KD**
bagi saya bukan masalah sebenarnya.. asal saya tak memakannya ditempat.. karena bisa memancing kepanikan.. coba anda bayangkan diposisi duduk yang sangat mepet dengan pembeli lain **duduk bersebelahan** karena menggunakan bangku, bukan kursi..apalagi klo hari pekan bakal dempetan banget.. saya pasti sibuk mengurusi hidung saya yang meler terus, bisa menghabiskan berlembar2 tissue.. ahh hilanglah semua kenikmatan itu 
so.., take away sajalah..
tapi jangan khawatir, jaman sekarang sudah banyak nasi kapau yang berkonsep ala restoran.. tapi saya tetap memilih beli bungkus agar lebih tenang menikmatinya pelan-pelan dan tahukah anda porsi sebungkus nasi kapau..? bisa dimakan oleh 3 orang.. tapi tentu saja harus lauk ekstra
lagi-lagi di los lambuang bentuk kedai nasinya sudah banyak dirombak.. ciri khas kain putihnya sudah mulai hilang.. kalo ingin ketemu yang masih gaya lama yaa.., ke pasar Aur lagi..
tapi khusus disana nasi Kapau hanya ada dihari Pekan saja..
di dekat pintu masuk Los Lambuang sebelah belakang.. ada penjual gulo-gulo tare.. ahh saya juga tak punya fotonya.. itu sejenis permen tradisional yang terbuat dari gula enau **kira-kira neehh** trus istimewanya adalah dilumuri tepung yang sudah disangrai, saya paling suka sensasi tepungnya.. tapi sekarang saya sudah ga bisa lagi memakannya karena tenggorokan saya gampang banget meradang setiap makan yang manis-manis.., dipikir2 apakah amai (ibu) yang jualan itu masih punya pelanggan.. secara dijaman sekarang jajanan anak2 sudah modern semua.. ahh, bukankah Allah selalu adil dalam membagi rezeki hambaNYA..
seperti biasa.. semestinya masih banyak yang ingin saya uraikan.. tapi bila terlalu panjang saya khawatir anda kabur sebelum tuntas membacanya..
dan saya maklum bahwa pembahasan saya tentang katupek kapau dan gulo-gulo tare itu tak mungkin membawa saya menjadi calon walikota Bukittinggi, tapi cukuplah memenuhi hastrat nostalgia bagi saya sendiri.. krn meskipun telah kembali pulang sejak 3 tahun yang lalu.. tak selalu saya sempat menengok tempat2 kenangan itu
,
,
« Previous Page