Archive for the 'LorongdiKampungku' Category
July 17th, 2010 by nakjaDimande
antara biru dan kelabu..
Kupu di Ladang Jiwa
Kupu di Ladang Jiwa (KdLJ) adl bentuk kolaborasi antara biru yang disana & kelabu yang disini.
Tour de Bukittinggi
Rencana semula adalah meliput pesta ulang tahun, tapi ternyata semua tlah usai. Dua pesta besar usai digelar di Ladang Jiwa.
Konon kabarnya pesta yang lebih besar juga akan digelar, tapi hari dan tanggalnya belum pasti. Denger2 sich pesta nikah. Siapa yg mo nikah ya?
Selagi masih di Bukittinggi, maka waktu yang ada dipakai jalan-jalan keliling Ranah Minang. Berikut laporan lengkapnya.
Begadang di Jam Gadang
Pertama pastilah berkunjung ke jam gadang terlebih dahulu. Dibangun th 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh, merupakan hadiah dari Ratu Belanda. Jam Gadang berada satu komplek dengan taman Sabai nan Aluih dan juga Istana Bung Hatta

Biaya yg dikeluarkan mencapai 3.000 Gulden. Jam Gadang menjadi landmark kota Bukittinggi.
|
Meninjau Danau Maninjau
Zona berikutnya adalah Danau Maninjau, 36 kilometer dari Bukittinggi. Danau ini merupakan danau vulkanik dg ketinggian 461 meter

Bagi yang suka tantangan dapat jalan kaki menuruni lereng menuju Danau Maninjau atau melintasi hutan lindung ke Objek Wisata Embun.
Terhuyung Di Pagaruyung
Istana Paguruyung sdl peninggalan Raja Johan Iskandar (1851) yang mempunyai sembilan orang anak perempuan.
Berlokasi di Batusangkar Sumatra Barat. Istana ini sekarang dalam tahap pembangunan kembali setelah mengalami kebakaran beberapa kali.
|
Ingat Nok di Ngarai Sianok
Nama yg aneh, ngingatkan pada nama anak eMak yaitu Si Nok.

Nggak tau juga kenapa namanya aneh begitu. Saat ini nDuk baru balik dari mudik, semoga besok pagi genduk sudah bisa menjelaskan semua ini. Agar semua ini tidak lagi menjadi teka teki *halah!
Gue di Gua Jepang
Goa Jepang berada di pusat kota Bukittinggi. Merupakan salah satu bukti sejarah pendudukan Jepang yg masih tersisa hingga sekarang. Lubang gunung yg berdinding batu keras ini panjangnya puluhan meter.
Tempat yang angker karena ada penjara disitu **mungkin nDuk mau coba?
|
segala perbaikan pada koran KdLJ dilakukan atas bantuan MM
pakar HTML yang baik hati, murah senyum dan tidak sombong
© 2010 KdLJ
June 5th, 2010 by nakjaDimande
Tour de Singkarak 2010 akan berakhir besok, setelah berlangsung sejak 1 juni kemarin. Aku gak ikutan nonton secara langsung. Lebih enak lihat foto-foto dan videonya saja, gak capek dan gak usah panas-panasan
Ada banyak foto-foto unik dan cantik yang diikutsertakan dalam Photo Competition yang masih berlangsung, sehingga aku tidak bebas memasangnya disini. Namun syukurlah ada beberapa yang bisa dipinjam secara paksa.
The Racers di Danau Singkarak tempat perhelatan ini dimulai pada 1 juni 2010 dan berakhir besok 6 juni 2010
The Racers di kelok 21, salah satu kelok diantara 44 liukan luar biasa di Danau Maninjau
Mengintip The Racers dari kaca spion raksasa
The Racers melintasi puing-puing gempa di Pariaman
The Racers di antara hamparan sawah
The Racers pemenang etape 3 di Jam Gadang, Bukitinggi
Untuk sementara sekian dulu foto-foto The Racers, sehabis Photo Competition nanti pasti banyak foto bagus yang bisa aku pinjam dan pasang di sini [siapa tau nanti ketemu foto Kang Yayat dan si Tukang Becak di antara para pembalap
]
Sekarang tentang Mak Itam, apa hubungannya Mak Itam dengan TdS 2010..? rencananya hari ini Mak Itam akan digunakan untuk mengangkut sekitar 200 orang peserta Tour de Singkarak dari Sawahlunto menuju Muara Kalaban. Rute yang dilalui sejauh 7 Km dengan melalui terowongan sepanjang 800 meter.
Pada iklan Tour de Singkarak yang sudah ditayangkan di televisi, saat pembalap berpacu dengan sepeda, terlihat lokomotif uap “Mak Itam” menyusuri tepian Danau Singkarak dengan kepulan uap ke udara. Nah buat Pakde Cholik dan Pak Mars yang kemarin sempat menyangsikan tentang ada tidaknya Kereta Api di Ranah Minang ini, nanti sore harus nangkring di depan tv, wajiiiibbbb..!!!
Mak Itam menyusuri Lembah Anai
Christine Hakim Feature (CHF) bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Metro TV akan menayangkan film dokumenter ‘Mak Itam & Me’. Penayangan rencananya pada hari Sabtu tanggal 5 Juni 2010 pukul 15.30 WIB.
>>>Ok Dun, Jangan lewatkan ya.. klo gak punya acara kencan mendingan jalan-jalan ke Ranahnya Bundo entar sore, mudah-mudahan tidak ada penundaan siaran. Dan semoga di pagi ke-5 bulan juni ini dirimu semua bike-bike saja (Mas Zenteguh mode on)
pics taken from here
April 2nd, 2010 by nakjaDimande

kepada singgalang bertanya aku
wahai gunung masa kanakku
di lututmu kampung ibuku
kenapa indahmu dari dahulu
tak habis-habis jadi rinduku?…
Kalimat indah itu tertulis di sebuah dinding pada komplek Rumah Puisi milik Bapak Taufiq Ismail.
Rumah Puisi tersebut bisa dicapai hanya 15 menit dengan menggunakan motor dari rumah aur. Dalam rangka mencari tempat semedi yang baru, maka sesorean tadi aku dan KD — lebih tepatnya aku memaksa KD melakukan Blitztrip [aha! Kutu, akhirnya istilahmu itu bundo pinjam]
Dan karena aku mengantuk, sebaiknya aku hanya pasang foto saja yaaa.. cerita tentang rumah puisi lain kali akan ku bahas, sekarang tak sanggup bercerita secara detil. Bila ada yang penasaran silahkan mengunjungi rumahpuisi.com terlebih dahulu.
~oOo~

plang petunjuk itu sangat berguna, karena keberadaan rumah puisi agak tersembunyi dari jalan raya.. aku dulu tak menyangka di sisi bukit sebelah kiri tersebut terdapat sebuah rumah puisi yang sangat indah.
di dinding rumah terpajang puisi Pak Taufiq tentang gunung Marapi dan Singgalang, dari rumah puisi ini kita bisa melihat kedua gunung indah tersebut. Hanya saja tadi sore dua-duanya tertutup kabut, gerimis.

perhatikan kata-kata yang aku tunjuk, lebih jelasnya lihat di sebelah kanan.
KD lagi gangguin Feby, gadis cilik penulis dan pembaca puisi. Namun tak berhasil membujuk gadis itu membaca puisi karena feby sedang asyik sekali makan kripik balado.

yang istimewa di halaman rumah puisi adalah bunga-bunga yang tumbuh sangat indah, di sisi kanan adalah kebun sayur.. pemandangan yang membuat mata pun ikut berpuisi.

semua sudut penuh bunga berwarna warni.
>>>Dun, udah dulu ya foto-fotonya.. Insya Allah akan kulanjutkan lagi lengkap dengan cerita tentang rumah puisi ini, perpustakaan impian. Keren abiz..!
March 31st, 2010 by nakjaDimande

Perempuan Selubung Hitam menikmati semedi
dalam sejuknya air terjun Lembah Anai

Keindahan Lembah Anai dari kejauhan
[...]
[.....]
….dan inilah yang terjadi kemarin sore

Kawasan ini sudah rawan terhadap longsor sejak peristiwa gempa September 2009 yang lalu. Hujan yang turun deras dari kemarin siang menyebabkan longsor dan jembatan pun rusak dihantam air bah. Alhamdulillah pada peristiwa ini tidak ada korban jiwa.
>>>Hanya saja aku tak kan bisa lagi bersemedi di sana, karena kondisinya yang sangat rawan.
___________
ps. Uda Erison.. makasi fotonya, itu foto dipasang ndak nunggu dapat ijin dulu :wajahbersalah:
December 28th, 2009 by nakjaDimande
senyuman pagi di Bukit nan Tinggi
hadir diam-diam dari selimut beku bulan Desember
~oOo~
Mengenang Hari Jadi ke 225 Kampungku
Bukittinggi Tercinta

Jam Gadang di Pagi Hari

Ngarai Sianok

Istana Bung Hatta [dulu dikenal dengan sebutan Istana Tri Arga] menjadi saksi ketika Bukittinggi mengukir sejarah sebagai Ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948. Dan Istana tersebut ikut dibumihanguskan pada tanggal 21 Desember 1948 sebelum Belanda sempat merebutnya.
Di belakang Istana Bung Hatta terlihat Ngarai Sianok dan Gunung Singgalang. Sedangkan Di depan Istana terdapat Taman Sabai nan Aluih tempat berdirinya Jam Gadang. Saat ini di sisi kanan terdapat pusat pertokoan yang bagiku membuat pemandangan menjadi sangat terganggu

Sisi kiri Taman Sabai nan Aluih

Jam Gadang dibidik dari arah pusat pertokoan modern. Terlihat Pasar Atas yang menjual beraneka hasil kerajinan rakyat. Pasar Atas sudah berulang kali hangus terbakar. Alhamdulillah berkat Rahmat dari Allah SWT, para pedagang pun berhasil bangkit kembali.

Jembatan Limpapeh
yang menghubungkan Taman Puti Bungsu dengan Benteng Fort de Kock
[ Semua foto milik uda Erison J Kambari ]
============================
~oOo~
Ngakunya hiatus tapi posting juga
ingin sedikit menyapa Duncayku semua yang sedang menghabiskan liburan akhir tahun. Pada Liburan kemana? jangan ke Bukittinggi yaaa, soale Bukittinggi penuh! jalanan macet. Ga asyik pokoknya
Bundo masih berstatus hiatus niyh, jadi belum bisa BW
Kerjaan Bundo tinggal dikit lagi, Insya Allah tahun baru sudah selesai semua.
Teruntuk Pakde Cholik tersayang, yang merindukan Bundo. Sebagai penebus rasa bersalah karena kemarin ndak ikutan Pantun Ngakak Antar Nusa maka kali ini Bundo akan menjawab pantun dari Pakde [hasil nyontek juga
]
Esuk mancing sore ya mancing
Sing mancing arek suroboyo
Esuk eling sore ya eling
Sing di eling-eling ora rumongso
Pantun milik Pakde, entah ditujukan untuk siapa?
kuanggap untukku saja, dan inilah jawabannya
ehm, ehm..
koto kaciak koto nan ampek
marantak kudo sikumbang jati
hati sadiah lah batambah larek
lah lamo taragak si jantuang hati
artinya
gW kanGEn juGaaaa…!!!
December 5th, 2009 by nakjaDimande
Peringatan lagi: Tulisan ini tak elok bagi anda yang alergi terhadap rendang dan juga bagi anda yang doyan rendang tapi tidak mendapatkan kiriman rendang dari Bukittinggi, hal ini bisa membuat perasaan anda menjadi tidak tentram. Lebih baik gunakan waktu anda untuk mendaftarkan diri pada acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu dan program PPC: Parade Puisi Cinta. Sekarang juga!
Minum Teh Bersama Ibu
Ramaikan dan ikuti Karnaval Blog “Minum Teh Bersama Ibu”
www.guskar.com
Parade Puisi Cinta (PPC)
Ungkapkan rasa cinta Anda dalam bentuk puisi, lalu ikutkan!
www.abdulcholik.com
Tau tentang Pak dan Bu Mars?
Segera hubungi kami jika anda tau banyak tentang mereka berdua
www.nakjadimande.com
[kyaine sudah bisa belum ya memposisikan iklan Pak Mars di tengah?]
~oOo~
Hari Raya Idul Adha di Bukittinggi tentu saja sama dengan di daerah lain, ada suatu kemeriahan karena itu adalah Hari Raya Kurban saat di setiap rumah akan merasakan nikmatnya masakan daging kurban pada hari tersebut.
Ketika di Bandung dulu pemandangan yang lazim terlihat adalah acara bakar sate, sehingga udara seharian akan beraroma sate. Berbeda di kampungku Bukittinggi, selama dua hari berturut-turut akan ada wangi rendang setiap melintasi di rumah-rumah penduduk.
Tipikal masakan di kampungku jarang sekali yang menggunakan daging kambing, satu-satunya yang aku tahu hanyalah gulai cancang, semacam kari. Bahkan sate pun di sini menggunakan daging sapi. Sehingga pada pemilihan hewan kurban selalu diusahakan untuk berkurban sapi, caranya adalah dengan patungan. Biasanya panitia di surau dan masjid yang mengatur satu sapi untuk 6-7 orang. Sedangkan bagi yang telat menyetorkan uang kurban sehingga bisa jadi sudah tak ada teman patungan untuk beli sapi, maka dibelikanlah kambing. Namun biasanya itu hanya satu dua ekor saja. Dan sudah menjadi tradisi bahwa kambing yang disembelih akan dimasak menjadi gulai cancang untuk acara makan bersama warga kampung di mesjid pada hari itu, sedangkan yang dibagikan tetaplah daging sapi.
Setiap lebaran haji. ibuku seperti juga ibu yang lain akan memasak daging yang diantarkan oleh panitia menjadi rendang, untuk kemudian dikirimkan ke seluruh penjuru. Hehhe, emangnya rendang seberapa banyak siyh? Lumayanlah, biasanya ibu menambahnya dengan daging dari pasar agar bisa mencukupi.
~oOo~

Tahap pertama adalah memanaskan santan dan segala bumbu [semua bumbu dapur masuk, aku rasa
] daging jangan dimasukkan dulu, karena dikhawatirkan hancur karena proses memasaknya cukup lama. Ibuku menggunakan kompor minyak tanah bersumbu banyak, ditaroh di lantai agar lenganku tak terlalu pegal saat mengaduknya [aku bagian pengadukan secara lenganku cukup perkasa karena sudah biasa untuk ekstraksi ]

Tahap kedua terlihat santan mulai berkurang dan mengeluarkan minyak, pada tahap ini daging pun dimasukkan. Jangan pernah lengah dalam mengaduk karena akan mengakibatkan bagian bawah wajan hangus dan lengket.

Tahap ketiga rendang sudah semakin coklat, kewaspadaan harus semakin ditingkatkan. Pada tahap ini aku beberapa kali kena omel oleh ibuku, karena aku lengah gara-gara blogwalking yang kulakukan di dapur.

Tahap akhir, rendang sudah mengering dan ibuku menambah potongan singkong berukuran kecil yang sudah digoreng garing.. t.o.p.b.g.t pokoknya!

Rendang dibungkus plastik lalu dimasukkan kedalam dus, aku tak sempat lagi untuk membungkusnya dengan cantik. Nanti di Tiki saja minta bungkus dengan kertas coklat!
~oOo~

Sejak hari minggu tiki beroperasi dari jam 6 pagi, senin itu aku datang cukup pagi tapi antrian sudah panjang. Yang mengantri kebanyakan adalah ibu-ibu, hmm,,. hampir semuanya mengirimkan paket cinta berupa rendang untuk buah hati yang jauh di rantau.

Seorang wartawan meliput kegiatan ini dan mewawancarai beberapa ibu. Bila beberapa hari lalu dirimu melihat tayangan di TV tentang aktivitas pengiriman rendang di Bukittinggi, akan terlihat seorang ibu-ibu setengah baya berpakaian dinas yang berusaha menyembunyikan wajahnya takut tertangkap satpol pp karena ngantri di tiki pada jam dinas, nah itu adalah aku..!!!
Mungkin karena traffic pengiriman rendang begitu tinggi, kali ini tiki kurang menepati janjinya dalam pengiriman. Mamaw di bandung dan Ibu di jakarta lapor bahwa mereka baru menikmati rendangnya kemarin sore, seharusnya hari Rabu sudah sampai.
>>>duncay semua, maafkan ya.. karena tenyata narablog tak termasuk dalam daftar pengiriman rendang ibuku
October 25th, 2009 by nakjaDimande

Kick Andy beberapa minggu lalu menampilkan Kiboud Maulana, seorang gitaris jazz dan blues senior era 70-an. Pada acara tersebut kiboud bercerita kisahnya ketika manggung di Amerika, saat BB King sang legenda blues dunia memperkenalkan kiboud sebagai gitaris blues dari Bali..! [“dari Bali” bukan “dari Indonesia”]
Hihi mau cerita tentang “Padang” kok dimulai dari kiboud maulana siyh? Karena hampir mirip kasusnya. Di luar negeri Indonesia itu adalah Bali, demikian pula bila di perantauan.. bagi orang lain Minang itu adalah Padang. Setumpak kecil kota Padang mewakili bentangan luas Ranah Minang.
Tidak peduli bahwa aku adalah warga Bukittinggi yang tak pernah merasakan menetap di kota Padang, aku tetap saja dikenal sebagai orang Padang ketika sedang berada di Jakarta atau Bandung.
Bila tiba saatnya aku pulang ke Bandung, teman-teman akan bertanya bagaimana kabar keluarga di Padang? hehhe, kadang terasa ingin menjelaskan, tapi ya sudahlah..
kecuali keluarga KD yang memang sudah paham dan selalu bilang kalau menantu kesayangan ini adalah orang Bukittinggi bukan orang Padang
Kebanyakan orang luar minang seperti di Jakarta dan Bandung, akan menyamakan semua penghuni Ranah Minang ini dengan sebutan orang Padang, seperti pertanyaan “kapan pulang lagi ke Padang?” padahal bila aku naik pesawat, letak Bandara Internasional Minangkabau itupun sama sekali bukan di kota Padang. Sehingga setelah mendarat aku akan langsung pulang ke Bukittinggi tanpa harus melewati kota Padang.
Trus kenapa? ndak masalah toh? Hehhe ngga siyh hanya iseng saja mendata istilah Padang yang banyak digunakan oleh teman-temanku saat di Bandung dahulu, yang kadang justru membuat aku kasihan sama orang Padang karena harus menanggung beban atas semua pencitraan warga ranah minang
>> Orang Padang itu pelit. wkwkkwkkkk padahal yang pelit itu adalah aku! yang jelas-jelas adalah orang Bukittinggi
>> Orang Padang suka lebay.. gara-gara pedagang kaki lima di Pasar Baru Bandung yang kebanyakan orang minang, suka lebay kasih harga
padahal si uda itu bisa jadi adalah warga Payakumbuh yang berada cukup jauh dari kota padang **malah mungkin si uda belum pernah ke padang**
>> Klo mau nikah sama cowok Padang harus bayar mahal, hihiihi keciaaannnn deh yang jadi lelaki Padang karena kebiasaan bayar mahal itu terjadi bukanlah di kota Padang
>> Adat padang itu ribet ya? lagi-lagi huahahhahhha.. karena masyarakat di Padang sebenarnya cukup longgar dalam menjalankan adat, mungkin karena perkembangannnya sebagai kota yang cukup besar. Justru Adat Kurai Bukittinggi yang cukup bikin pusing
Selain banyak dirugikan karena harus menanggung image warga ranah minang secara keseluruhan, kota Padang juga diuntungkan karena ada beberapa hal positif yang justru dikenal dengan embel-embel Padang.
# Rumah Makan Padang. Padahal bila dicoba cari di pelosok kota Padang dan seluruh Ranah Minang tak kan bertemu yang namanya Rumah Makan Padang. Karena yang ada adalah Masakan Kapau atau Masakan khas Minang.
# Sate Padang. Justru disini tak ada yang judulnya sate padang karena yang ada adalah Sate Pariaman, Sate danguang-danguang atau sate Padang Panjang [sate pariaman paling enak, tanyain shige klo ga percaya
]
# Perempuan Padang pinter masak. Aku selalu bilang iya atas pernyataan ini.. jangan bilang aku berbohong, karena aku kan perempuan Bukittinggi jadi ndak apa-apa kalau aku ndak pandai memasak
Cukuplah sekian dulu ya daftarnya, kapan-kapan aku tambahi lagi 
Hanya saja aku minta tolong jangan sampai ada yang berucap: “Bagaimana kabar Padang, Bundo…? pengen deh ke Jam Gadang dan Ngarai Sianoknya…!”
karena Jam Gadang dan Ngarai Sianok itu berada 92 km dari kota padang, OK..!!!
========
ps. tulisan di atas terinspirasi dari note dan foto karya uda Erison J Kambari
October 18th, 2009 by nakjaDimande
Bila tidak karena berjanji kepada shige, aku mungkin tak kan masuk ke rumah ini. Melewatinya sudah hampir setiap hari, karena letaknya tak begitu jauh dari puskesmas tempat aku bekerja. Dan seperti yang sering terjadi, sesuatu yang dekat biasanya akan terlewat dari pengamatan.. Begitulah aku, sudah 4 tahun menetap di sini belum sekalipun masuk ke dalam Rumah Kelahiran Bung Hatta [RKBH] tersebut **terimakasih shige secara tak langsung sudah mengingatkan bundo

Berdua KD, berangkat dari rumah pukul 9 pagi. Hanya sekitar 5 menit pake motor sampailah kami di rumah itu, letaknya sangat dekat dengan Pasar Bawah tepatnya di Jl. Soekarno Hatta no 37 **cukup mengherankan bila kemarin jejaka petualang tak bisa menemukan rumah itu

Jam 9 ukuran Bukittinggi masihlah terlalu pagi, sehingga belum ada pengunjung lain, hanya ada petugas kebersihan dan seorang petugas yang menjaga rumah tersebut. Cukup surprise, karena ternyata ndak usah bayar! setelah berbicara sebentar dengan petugas tentang letak semua ruangan, kami dipersilahkan menjelajahi rumah itu tanpa pengawasan

Rumah Kelahiran Bung Hatta ini sempat dijual kepada orang lain, kemudian dibeli oleh Pemda Bukittinggi dan pada tahun 1995 dilakukan perbaikan. Rumah tersebut berusaha dikembalikan kepada bentuk aslinya. Hmm, setelah melihat hasilnya, aku salut atas usaha tersebut..!
o,ya maaf, aku pasang fotonya kecil-kecil saja. kalau mau lihat foto berukuran besar ada banyak di mbah gugel, lihat sendiri yaa

Cukup mudah untuk memahami setiap ruangan dan barang walaupun tidak ditemani petugas, karena semuanya sudah diberi nama. Ruangan yang ada jendela seperti pic diatas ini adalah kamar kelahiran Bung Hatta, berada dilantai dua. Untuk naik keatas kita harus melewati ruang makan yang kecil mungil..
Sedangkan kamar untuk bung Hatta ketika sudah bujang berada di belakang, di sebelah dapur dan kamar mandi. layaknya anak laki-laki yang sudah akil baligh akan sering tidur di surau, sehingga posisi kamar bujangnya pun berada di luar rumah utama. Agar mudah untuk keluar masuk tanpa mengganggu penghuni rumah lainnya.
Dahulu adalah hal yang memalukan bila laki-laki akil baligh masih tinggal bersama-sama orang tua, namun sekarang sudah tak ada lagi bujangan yang tidur di surau kecuali garin

Eitss, lupa.. masuk ke dalam rumah harus melepas alas kaki, dan bila kita ingin berkeliling di halaman belakang sudah disediakan tangkelek.. hehhhe aku sudah lama ndak pakai tangkelek
Di halaman belakang ada lumbung padi, kandang kuda kamar mandi dan dapur. Dapur itu sungguh membangkitkan memori pada dapur nenekku dahulu, rak piring yang dari kayu dan piring-piring loyangnya itu. Perlengkapan memasak tradisional seperti belanga sampai sekarang masih digunakan oleh warga Bukittinggi, karena ada jenis masakan tertentu yang hanya nikmat bila dimasak menggunakan belanga

Bagiku cukup menyenangkan berada di rumah itu, ada banyak foto di dinding yang belum selesai aku amati satu persatu.. mungkin besok-besok saat jam istirahat di puskesmas aku akan singgah lagi ke sana untuk memperhatikan lebih detil
Karena masih ada kegiatan lain, aku dan KD mengakhiri kunjungan di RKBH. Sebelum pulang kita diminta mengisi buku berisi kesan dan saran, dan dengan tulus aku menulis “pengen banget deh tinggal disini..” **sayang sekali tak ada emoticon yang bisa dibubuhkan
Dan di dekat meja itu ada kotak sumbangan, aku rasa para pengunjung cukup senang hati untuk memasukkan uang ke kotak itu, karena suasana disini sangat menyenangkan.
Demikianlah laporan singkat yang tak lengkap ini, lagi-lagi di mbah gugel sudah banyak yang membahas RKBH jadi para sahabat bisa cari sumber lain yang tentu saja lebih lengkap.
maafkan aku yang sedang kehabisan ruh untuk menulis, benar-benar habis.. **emoticon minta dikasihani ada ga siyh?
============================================================= 
Rayya sayang, terimakasih untuk kejutannya
jilbab merah itu sudah bundo pakai tadi pagi saat ke RKBH.
**dapat bocoran dari mana tentang warna favorit bundo?
=============================================================
September 13th, 2009 by nakjaDimande
baru saja lihat program METRO 10, sepuluh kota favorit untuk dijadikan tempat tinggal.. hiks huaaaa!!! BUKITTINGGI ndak termasuk..
niyh dia daftar urutannya 
1. Yogyakarta
2. Bandung
3. Semarang
4. Solo
5. Bogor
6. Surabaya
7. Malang
8. Medan
9. Bali
10. Makassar
hmm, bandung dan yogya.. memang oke! **maka judul kali ini agak KLA mode on
lagian Bukittinggi kan hanya sebuah kampung.. huuu ngaku-ngaku kota
**klo di peta, Bukittinggi keliatan ga siyh..?
tak mengapa bila Bukittinggi bukan kota favorit.. jadi para turis lokal dan interlokal itu ga usah terlalu rame kesini.. maceeetttt tauuu..!!! dari hari ini saja sudah sulit untuk muter” bagi yang mengendarai mobil **untung bundo pakenya motor
hmm, lebaran.. saatnya MUDIK..!!
selamat menikmati perjalanan pulang buat anak-anak bundo semua, yang di jawa, kalimantan, sumatera, dimanaaapun berada.. hati-hati dijalan.. nikmatilah debar jantungmu yang tak sabar untuk segera sampai di rumah
Pulang ke kotamu..
dan tak lupa bundo ucapkan selamat kembali pulang wahai anak rantau.. peluklah Bukittinggimu yang mungkin tak lagi sedingin dulu.. semoga masih mampu menyejukkan hatimu..





semua foto kepunyaan uda erison j kambari
August 23rd, 2009 by nakjaDimande
pada dua tulisan terakhir, aku sedikit menyinggung tentang ngarai sianok.. maka dipostingan yang ini aku ingin suguhkan gambar ngarai sianok.. bukan dengan tema betapa indahnya ngarai itu.. tapi tentang si lembah cantik yang ternoda.. siapa yang menodai..? bisa jadi adalah AKU..!!!
tulisan shige tentang sampah di tempat wisata, membuat aku teringat dengan sampah yang berada di dinding lembah sianok. duh , gawat bila dibiarkan berlarut-larut..!




bukan hendak membahas siapa pihak yang salah atau apa yang sebaiknya dilakukan.. hanya hendak berbagi foto aktifitas peduli Ngarai Sianok, kolaborasi LSM Matahari, off roader, crosser dan pemanjat tebing, dalam tajuk “Save Our Canyon.. salut untuk mereka semua..!!!



=============================================================

foto-foto diatas adalah hasil rekaman lensa uda erison j kambari.. seorang fotografer senior yang rendah hati. tadi aku mengirimi beliau message, minta ijin mau pakai foto.. dan seperti biasa jawabnya: “ah, butet.. gaya sekali minta ijin segala.. pakailah sepuas hatimu..”
hahha, iyolah uda.. bedolah biko kalau si butet ini seenaknya pasang foto punya senior, bisa dipecat jadi warga Bukittinggi..
tahun baru kemarin aku juga pakai hasil bidikan beliau
=============================================================
August 22nd, 2009 by nakjaDimande
selamat siang semua..!!! bagaimana puasanya.., haus? sudah mau pingsan..? hehhhe.. sabar yaa
seperti biasa sehari sebelum ramadhan.. kakak dan adikku berkumpul di rumah Aur, untuk ziarah ke makam ayah dan mengunjungi dua pamanku yang tinggal di Bukittinggi, sahur pertama dan buka puasa hari pertama bersama-sama.. dan tidur berdesak”an
ke makam ayah yang terletak persis dibibir ngarai sianok, disitulah kampung ayahku.. karena dulu ayah adalah seorang pemimpin adat, maka beliau harus dimakamkan kembali dikampungnya, bukan dikampung Aur tempat kami tinggal.. tak mengapa karena hikmahnya kami jadi sering mengunjungi ngarai itu..

saat gempa hebat tahun 2007.. area makam itu tak boleh dikunjungi karena tebing ngarai terus menerus runtuh setiap kali gempa datang.. penduduk yang rumahnya berada dipinggir ngarai harus mengungsi, tapi sekarang mereka sudah kembali lagi walau masih terus was-was setiap kali gempa kecil terjadi..
foto ini aku ambil dulu sewaktu gempa tahun 2007, hanya beberapa meter dari bibir ngarai disitulah makam ayah berada..
Ramadhan hari pertama, puskesmas sepi..! pasien tampaknya paham kalau petugas sedang beradaptasi dengan suasana Ramadhan.. hehhe Alhamdulillah berarti hari pertama ini masyarakat sehat semua..
jadi sekarang bundo bw dulu ah.., hmm banyak sekali yang belum bundo kunjungi..
« Previous Page