July 16th, 2009 by nakjaDimande

sawah sebelah ruanganku di puskesmas sudah selesai panen.. dan minggu lalu dibajak kemudian ditanami lagi.. pemandangan yang berbeda, tapi masih sama menariknya buat aku.
sesekali para petani itu numpang berteduh di emper teras belakang puskes.. lelah, tapi wajah penuh harapan.. mereka membicarakan sawah dengan penuh cinta. sebaiknya begini atau begitu.. aku yang tak paham hanya mendengar saja dari balik jendela..
hmm, bahkan sawah pun mengalami siklus.. dibajak, ditanami, diberi pupuk, dijaga dari serangan burung, dan saat padi menguning, semua pun akan riang gembira mengisi waktu panen.. lalu setelah itu sawah kembali kosong.. untuk kemudian dibajak lagi.. bapak dan ibu petani lah yang menjaga dan memelihara sawah sehingga bisa bermanfaat buat orang banyak..
seumpama kita adalah petani itu, bertugas untuk menjaga hati.. mungkin hati kita jugalah sawah yang harus terus ditanami cinta, dipupuk dijaga dari serangan hawa nafsu.. untuk kemudian dipanen dan bermanfaat bagi sekeliling.. ada saatnya hati kosong, hampa.. tak mengapa.. teruslah bajak dan tanam lagi.. dengan daya yang dialirkanNYA.. InsyaAllah


May 21st, 2009 by nakjaDimande
Yang ada hanyalah batang labu siam yang merambat menutupi hampir semua pagar pembatas dengan kampung ujung.. ada sungai kecil pemisah.. dahulu sekali, aku menyeberang hati-hati melewati 5 batang bambu yang melintang di atasnya.. licin, apalagi setelah hujan
Sekarang sungai itu bertambah kurus.. rasanya dengan sekali lompat sampailah aku disebrang **tapi tak pernah kulakukan, karena aku tak pintar melompat
Kampung yang berada disebrang sungai itu disebut kampung ujung.. warganya pun kami sebuat ‘orang ujung’.. surau mereka, kami sebut ’surau ujung’.. ladang nenekku yang berada disana kami sebut ‘parak ujung’ disana ada sedikit tanaman wortel dan buncis..
sedangkan rumahku berada di kampung tengah.. jadi aku adalah ‘orang tengah’.., surau disebelah rumahku disebut ‘surau tangah’ padahal sudah lama diberi nama mushalla Darul Wustha.. tapi tetap saja disebut ‘surau tangah’.
tak mungkin ada padang ilalang dibelakang rumahku..
karena semuanya dipakai untuk sawah, tempat tinggal dan sedikit ladang.. dahulu sampai usiaku belasan tahun semua ladang masih berisi batang pisang dan rumpun bambu, itulah mengapa kampung kami disebut kampung Aur Kuning [Bambu = Aur] sekarang tak ada lagi, karena ladang sudah menjelma tempat tinggal. hmm.. entahlah, apakah ladang nenekku sebentar lagi juga hilang dari pandangan..?
Bukittinggi.., tanah disini mahal sungguh. Sehingga orang senang menjual sawahnya, lalu menjelmalah toko-toko besar itu.. sekarang sulit bagiku memandang langsung ke arah Marapi, harus pergi dulu kekamar atas agar bisa kulihat gunung dan sawah yang tersisa..
ahh.. aku hanya ingin memberitahumu bahwa dikebun belakang rumahku ada labu siam yang rimbun sekali.. dan semua dipersilahkan mengambilnya, bila tak punya sayur untuk makan siang nanti..
**hanya itu saja.. tak mau sakit hati bahas toko-toko tinggi besar itu.. semua orang memang perlu uang.. tak mengapa, hmm.. **tanpa ekspresi**
January 15th, 2009 by nakjaDimande

foto-foto hasil bidikan seorang senior, bapak erison j kambari.. yang piawai dan jeli mengulik hal-hal yang kecil ataupun yang besar.. yang dengannya harus berhati-hati bila berucap, tajam nanti beliau menebas leher kita..
tentu berbeda jauh dengan saya yang cendrung melihat sesuatu sesuai yang terlihat saja **suka telat mikir memang** makanya saya lebih suka bila jendela terbuka lebar, karena jadi lebih mudah memandang bunga di seberang halaman.. suatu hal yang sulit bagi saya untuk membayangkannya dalam keadaan jendela tertutup.. **kenapa topiknya jadi jendela..?**
Jam gadang ditengah kota.., ditutup kain pada malam pergantian tahun. suatu langkah yang diambil oleh pemda.. setelah peristiwa tahun lalu, ada banyak kekacauan terjadi.. saat perayaan tersebut
sehingga diputuskan untuk menutup jam gadang dan taman yang berada disekitarnya. Dengan himbauan agar bersama-sama berbuat untuk kemaslahatan umat. Keputusan ini tentu saja.. seperti keputusan2 yang lain, selalu memancing pro dan kontra. Ada yang senang karena segala hal yang dikhawatirkan akan dapat diminimalisir **siapa yang jamin kota bebas kekacauan?** ada yang bersedih, para pedagang dan pengusaha penginapan mungkin.. karena Bukittinggi sepi pengunjung
hmm.. bingung juga.. begini atau begitu..???
saya dimalam tahun baru..? halah..halah.., ikut terjebak dengan 20 orang mahasiswanya KD.. mereka seperti kebanyakan anak muda pengennya kumpul sesama mereka, semangat bikin acara bakar ayam di kampus.. tak mungkin untuk melarang kata KD… alhasil KD, aby, dewi, dan saya.. nongkrongin anak2 itu sampai jam satu malam.. muhasabah..
saat menuju pulang, kami berusaha lewat disekitar jam gadang.. tapi ternyata susah untuk menembusnya karena mobil dilarang masuk kesana.. disepanjang jalan kami lihat cukup banyak remaja duduk dipinggir jalan.. tak terjadi kekacauan tampaknya.. sampai hari ini, tak ada berita miring **atau saya yang tak baca koran**

lewat berapa hari, tak lagi saya mengingat jam gadang terbungkus kain itu, sampai saat bapak erison j kambari **kekeuh.. tulis nama lengkap** posting hasil bidikannya di FB.. dalam hati saya berkata “ouww.. cantik juga..” secara saya adalah pecinta warna hitam, merah dan kuning.. hehhhe karena yang terbayang semula oleh saya adalah jam gadang dibungkus seperti pocong.. mengkhawatirkan sekali **dasar kurang daya khayal**..
setelah lihat fotonya.. “Ooooo begini thoo…”
,
,
peristiwa dibungkusnya jam gadang ini, bagi saya cukup indah.. dari segi tampilan ataupun dari sudut makna **sok iye saya** membuat saya melihat kedalam diri.. sudah berbuat apa saya untuk kota ini..? sudahkah saya ikut untuk saling mendukung dan saling menolong demi kebaikan bersama..?
TANDA TANYA..
note:
Da son… makaciiiii atas foto2 cantik ini
January 8th, 2009 by nakjaDimande
Berkunjung ke kamar sebelah hari ini.., ada koment terbaru tentang tulisan lama beliau ‘tour de Bukittinggi’. walaupun sampai sekarang belum ada bayangan bahwa akan dicalonkan menjadi walikota Bukittinggi, tapi tulisanya cukup menggelitik saya untuk membuat semacam review, versi saya tentunya..
Los Lambuang:
Los itu apa sih.. lorong kali ya..? saya sedang malas mencari maknanya.. kira2 begitulah **semoga ga dimarahin Yus Badudu**, sedangkan lambuang, ya lambung.. tempat makanan diperut kita. hampir semua makanan yang dijual disini berasal dari kampung kapau.. sebuah kampung dipinggir kota bukittinggi.. yang indahnya.. dahsyat gile..!!! **subhanallah.. maksudnya**
Katupek kapau.., hmm..
pernah saya sebut sekilas ditulisan tentang hari pekan.. sejenis warung yang mempunyai 4 sisi, si ibu (sang penjual) duduk disatu sisi menghadap kepada para pembeli yang mengisi bangku di 3 sisi lainnya.. ditengah-tengah semua itu ada sebuah meja dengan segala macam pernak-pernik keperluan, untuk menciptakan sepiring ketupat yang lezat..
perlu saya jelaskan segala pernak-pernik itu.., ada sayur lobak singgalang yang diiris halus, mie kuning, jantung pisang rebus diiris halus, bihun goreng, kerupuk merah, kripik talas pedas yang super renyah dan ketupat yang digantung pada sudut belakang meja, sedang pilihan kuahnya ada dua macam.. kuah gulai kuning yang berisi nangka, ‘kamumu’ (batang keladi) plus rebung ataukah kuah pical/saos kacang yang pekat itu, favorite saya adalah ketupat dengan bihun goreng disiram kuah gulai plus sedikit kuah pical.. lalu diatasnya dihiasi kripik talas **halah.. keliatan nggragasnya**
ehhmm.., ada ga ya.. yang sekitar tahun 80-an akhir, pdkt atau kencan diwarung ketupat ini (wuoii.. istilah pdkt jaman sekarang apaan seehh..).. lucu kali ya.. pdkt didepan ibu penjual yang jaraknya hanya sekitar 1 meter dari kita, dan yang pasti dipelototin terus sama si ibu warung.. hihihi…
sayang sekali masa remaja saya, tak sempat merasakan apa itu ‘pdkt’ **tepu..**. jadi saya ke warung ketupat itu selalu rame-rame dengan teman satu gank yang hebohnya bukan main.. hehhe, segitu juga makan diwarung ketupat los lambuang adalah hal yang cukup ‘gaul’ pada saat itu
ada yang hampir terlupa, bagian terluar pembeli ditutupi dengan kain putih yang cukup lebar di tiga sisi diikatkan dengan menggunakan tali rafia, sedangkan sisi penjual dibiarkan terbuka.. karena masih harus menyimpan peralatan masak seperti kompor dan lainnya.. sayangnya saya tak mempunyai foto warung ketupat ini.. di los lambuang sekarang sudah mulai berubah bentuk sedangkan di Pasar Aur Kuning mereka masih menggunakan style lama.. dimana pada saat datang kita harus menyibakkan dulu kain putih yang menutupi tenda..

Nasi Kapau
masih satu los dengan ketupat.., warungnya pun segi empat.. hanya saja lebih luas.. dan ibu penjual duduk disatu sisi dengan posisi yang lebih tinggi dari pembeli.. sedangkan ditengahnya diletakkan segala macam lauk pauk yang disusun bertingkat. Bila kita hendak memesan.., si ibu akan mengambil lauk dengan menggunakan sanduak (sendok panjang dari batok kelapa).. saking panjangnya sanduak itu sehingga dapat menjangkau bagian terjauh dari tempat si ibu duduk..
sejatinya makan nasi kapau, haruslah dicampur semua kuah dan samba ladonya.. jadi bila cuman makan nasi plus ayam bumbu saja tanpa guyuran bermacam pernak-pernik itu, bukan nasi kapau namanya. secara warna, Nasi Kapau itu indah.. setidaknya harus ada 6 warna diatas piring.. putih dari nasi, kuning dan hijau dari gulai sayur kapau (kacang panjang, rebung, nangka), merah dari samba lado, hitam dari bubuk rendang (biasanya ada kentang kecil atau singkong yg dipotong dadu), coklat muda dari bumbu lengkuas ayam goreng, coklat tua dari kuah cancang dan kalio.. **fiuuhh.. cape dee..**
nah apapun lauk yang anda minta.. seharusnya warna warni itu adalah standar bakunya.. barulah anda tau apa itu sesungguhnya nasi kapau.. seperti misalnya nasi rames, nasi campur.. ya.. sebenarnya kudu meriah.. tapi jaman sekarang, banyak orang yang perutnya tak sanggup **termasuk KD**
bagi saya bukan masalah sebenarnya.. asal saya tak memakannya ditempat.. karena bisa memancing kepanikan.. coba anda bayangkan diposisi duduk yang sangat mepet dengan pembeli lain **duduk bersebelahan** karena menggunakan bangku, bukan kursi..apalagi klo hari pekan bakal dempetan banget.. saya pasti sibuk mengurusi hidung saya yang meler terus, bisa menghabiskan berlembar2 tissue.. ahh hilanglah semua kenikmatan itu 
so.., take away sajalah..
tapi jangan khawatir, jaman sekarang sudah banyak nasi kapau yang berkonsep ala restoran.. tapi saya tetap memilih beli bungkus agar lebih tenang menikmatinya pelan-pelan dan tahukah anda porsi sebungkus nasi kapau..? bisa dimakan oleh 3 orang.. tapi tentu saja harus lauk ekstra
lagi-lagi di los lambuang bentuk kedai nasinya sudah banyak dirombak.. ciri khas kain putihnya sudah mulai hilang.. kalo ingin ketemu yang masih gaya lama yaa.., ke pasar Aur lagi..
tapi khusus disana nasi Kapau hanya ada dihari Pekan saja..
di dekat pintu masuk Los Lambuang sebelah belakang.. ada penjual gulo-gulo tare.. ahh saya juga tak punya fotonya.. itu sejenis permen tradisional yang terbuat dari gula enau **kira-kira neehh** trus istimewanya adalah dilumuri tepung yang sudah disangrai, saya paling suka sensasi tepungnya.. tapi sekarang saya sudah ga bisa lagi memakannya karena tenggorokan saya gampang banget meradang setiap makan yang manis-manis.., dipikir2 apakah amai (ibu) yang jualan itu masih punya pelanggan.. secara dijaman sekarang jajanan anak2 sudah modern semua.. ahh, bukankah Allah selalu adil dalam membagi rezeki hambaNYA..
seperti biasa.. semestinya masih banyak yang ingin saya uraikan.. tapi bila terlalu panjang saya khawatir anda kabur sebelum tuntas membacanya..
dan saya maklum bahwa pembahasan saya tentang katupek kapau dan gulo-gulo tare itu tak mungkin membawa saya menjadi calon walikota Bukittinggi, tapi cukuplah memenuhi hastrat nostalgia bagi saya sendiri.. krn meskipun telah kembali pulang sejak 3 tahun yang lalu.. tak selalu saya sempat menengok tempat2 kenangan itu
,
,
December 14th, 2008 by nakjaDimande

Bila rabu dan sabtu menjelang.., pertanda saya harus melewati jalur lain untuk sampai ke puskesmas, karena jalur yang biasa saya lewati akan penuh sesak dengan aktivitas silaturrahim antara pedagang dan pembeli.
Hari pakan.., itulah sebutannya, setiap Rabu dan Sabtu. Pakan atau pekan disini berarti pasar, hendak ke pakan artinya hendak ke pasar. Pakan di bukittinggi adalah salah satu yang terbesar di wilayah sumatera barat, merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dan pembeli dari seluruh penjuru negeri.
Yang paling saya risaukan di hari pakan adalah hujan, karena diantara pedagang itu banyak ibu-ibu tua yang berjualan hasil kebunnya.., menggelar labu siam, daun singkong, pisang dipinggir jalan beralaskan karung bekas dan tentu saja tanpa tenda untuk berteduh.., bisalah dibayangkan bila hujan lebat turun. tapi kata kd, ibu-ibu tua itu sudah dikuatkan oleh air hujan.., tak perlulah dirisaukan, cukup titipkan saja mereka pada Yang Maha Mengurus
Seperti biasa perhatian saya akan lebih tertuju pada berbagai makanan yang dijajakan, meskipun ini tahun ke 3 saya tinggal dikampung halaman ini tapi tetap saja ada satu dua jenis makanan yang terlewatkan. Hmm.. nyam.. nyam.., ketupat kapau dengan berbagai macam pilihan, ada yang pake bihun goreng atau pake campuran pical mie (pecel), lupis, bubur ketan item dan bubur putih.
Juga berbagai macam kerupuk kampung khas bukittinggi.., sanjay balado, karak kaliang (yang angka 8), karupuak jariang (krupuk jengkol), rakik maco (krupuk yang ada udang kecil ditengahnya), bolu kering cetakan ikan, pinyaram (kue cucur), godok (campuran pisang dan terigu trus digoreng bulat)..,
bisa seharian saya bila harus menuliskan semua jenis makanan itu, yang saya sebutkan diatas itu hanyalah sebagian kecil makanan khas bukittinggi.., sedangkan di pakan itu ada buaaannnyyak makan dari luar daerah yang dijajakan, seperti palai rinuak (pepes ikan danau yg kecil-kecil) dari maninjau, yang tak boleh terlewat dari makanan khas danau ini adalah.. Pensi..!!! hahaha.., sejenis kerang danau berukuran kecil.. dimasak dengan bumbu yang cukup pedas, sehingga kadang yang merepotkan saya pada saat menikmatinya bukanlah cangkangnya, tapi justru pedasnya yang cukup keterlaluan.. tapi teteuupp.. t.o.p.b.g.t
selanjutnya kue pancuang.. ihh cukup menyeramkan juga namanya
.. sebenarnya di bandung juga ada yang mirip, bandros dengan bahan dasar kelapa muda.. hanya saja bandros ga pake gula jadi rasanya gurih sedangkan kue pancuang lebih manis dan setiap menggigit kerasa kelapa muda yang diparut.. enak..? sudah pasti..!!!
Berikutnya adalah buah2an kampung.. manggis mentah yang sudah dikupas, bagi saya lebih enak daripada manggis yang sudah matang karena bijinya bisa dikunyah habis.. ada juga kalimuntiang, hihihi lucu ya namanya.. saya ga tau pohonnya kaya apa, kemungkinan buah dari hutan.. berwana ungu tua, berukuran lebih kecil daripada kelereng dan bila kita membeli akan ditakar pake tabung bambu, rasanya.. manis sedikit kelat **duh.., kelat apaan sech..**
Untuk sementara.., cukuplah sedikit gambaran mengenai pakan di kota saya, bukittinggi.. lain kali disambung lagi. Mungkin sabtu ini saya akan singgah ke salah satu tenda katupek kapau, dan pasti hanya ada satu kesimpulan..
bahwa yang paling nikmat dari seluruh macam makanan kampung ini adalah biusan nostalgianya
,
,