Siput Belajar Membaca [Lagi]
February 18th, 2010 by nakjaDimande


daripada tiap hari ditanyain hapdet.. ya sudah kali ini hapdet sajalah.
karena tak punya bahan, seperti biasa aku akan meniru atasanku yang rutin mengadakan evaluasi 3 bulanan untuk semua program di Puskesmas.
akhir juli ini bisalah dikatakan 9 bulan sudah aku bersama blog nakjaDimande.. bila dilihat ke awal cukup geli juga membacanya kembali. semula bertutur dengan gaya “saya” yang cukup sok iye.. juga puisi-puisi sok iye itu.. tak habis pikir, bagaimana bisa?
dulu, terinspirasi sebuah tulisan dari dewi ‘dee’ lestari tentang membangunkan macan tidur didalam diri.. aku mulai meyakini bahwa banyak kata-kata terkurung dalam diriku, mungkin karena dalam kenyataannya aku adalah seorang yang sering gagal mengutarakan isi pikiranku. Gagap, begitulah menurutku.. **terimakasih KD, Hutrie dan Jo.. yang berperan penting mengurangi kegagapan itu.
pertama mengenal blog, aku print beberapa postingan punya teman.. lalu di puskes sambil nunggu pasien aku amati tulisan itu satu persatu.. dan sampai pada kepahaman, oo.. beginilah caranya menulis di blog.. baru setelah itu aku menulis dengan membabi buta.. cukup bernafsu sekali nunjukin bahwa aku bisa menulis..
dan aku mengira sang macan sudah bangun dan keluar dari kurungannya..
tapi ternyata.. sejalannya waktu aku menyadari sang macan itu masih dirantai, rantai yang cukup pendek.. sehingga walau ia sudah bolak balik berdiri dan jalan keluar kurungan tetap saja terhalang oleh rantai pendek itu
begitulah mungkin gambaran kemajuanku dalam menulis, baru sebatas membangunkan si macan.. tapi belum ajak si macan jalan jauh.. rantai itu mungkin adalah Ilmu.. semakin dalam dan luas ilmu yang kugali maka akan semakin panjang rantai yang mengendalikan si macan.. sehingga sang macan bisa melanglang lebih jauh dan akan bertutur tengan hal-hal yang lebih luas lagi
sekarang aku rasa, macannya mulai jenuh dengan rantainya yang pendek itu.. sehingga ia malas mencoba tuk jalan keluar
dan memilih, bobo lagi aja ahhh..
::note: bundo masih terus belajar qo.. biar rantai si macan bisa lebih panjang.
Buat anak-anak bundo yg lagi cape nulis.. gpp istirahat bentar biar besok bangun semangat lagi.. kangen menulis lagi..
juni pun berlalu..
kemarin itu, juni datang hanya untuk memberitahuku
tentang cinta yang tak kusadari, lewat begitu saja..terimakasih juni, telah hapus segala langkah ragu
bahwa cinta tak boleh dibiarkan menunggumemang seharusnya, akulah yang menghampiri cinta..
dan saat juni telah berlalu, takkan pernah aku menutup jendela
masih akan kusaksikan hujan sore hari dari balik bingkainyahujan yang selalu menghantarkan cinta..
::note: terimakasih untuk semua yang telah mengunjungiku di bulan juni..
“Ibuuuu.., nenek saya juga suka duduk depan jendela, itu kan kerjaannya orang tua..!” begitulah biasanya teriakan Supriyono supir ambulans di puskesmasku yang lama, setiap mendapati aku memandang agak lama keluar jendela.
Jendela dan orang lanjut usia, membuat aku teringat nenek. Supriyono memang benar, karena bagi nenekku jendela adalah kehidupannya sekarang.
Lokasi favorit beliau adalah dekat meja setrikaan, di sanalah satu-satunya jendela yang langsung menghadap jalan raya. Beberapa jam sehari beliau akan duduk di sebuah kursi rotan, mengawasi hilir mudik warga kampung. Bila ada orang yang beliau kenali lewat, maka sesekali nenekku akan keluar memanggil orang itu kemudian mengajaknya bicara.
85 tahun sudah nenekku tinggal di rumah ini, rumah tua yang sudah sedikit direnovasi. Pemandangan dari jendela itu tentu saja sudah banyak berubah. Tak ada lagi penjaja pisang goreng dan ketan yang keliling kampung [waktu aku SMP masih ada], tak banyak lagi delman/bendi yang hilir mudik [dulu hanya sedikit angkutan umum ke jalur ini, sehingga pulang dari pasar orang biasa menumpang bendi, perginya cukup jalan kaki saja..] Aku selalu takut bila di tengah malam buta terdengar ringkik kuda di depan rumah, gara-gara sobatku shanty bilang bahwa kuda suka tiba-tiba mogok dan meringkik bila bertemu makhluk ‘lain’
Dan sudah lama berlalu, kolam di depan itu menghilang sejak aku kelas 5 SD untuk keperluan pelebaran jalan raya. Dulu kegiatan pagi warga kampung berada disana, cuci pakaian, cuci piring, mandi. Sekarang pun masih ada kolam-kolam yang digunakan untuk itu. Di kampung Ujung kebanyakan rumah masih mempunyai kolam.
Kembali ke jendela.
Jendela bagi nenekku mungkin sama dengan mengenang, mengenang adalah hak nenekku sebagai seseorang yang sudah melalui begitu banyak episode kehidupan. Dan pasti banyak kenangan yang sudah aku rampas dari nenek, karena aku tidak bisa menjaga semuanya tetap sama seperti dulu.
Bila aku menjadi nenek, pasti aku akan marah dan sedih bila segala sesuatu yang kucinta berubah atau hilang, Namun mungkin itulah sebabnya bila usia kita bertambah akan ada beberapa ingatan yang menghilang dari bagian-bagian kenangan. Aku rasa begitulah cara Allah SWT menjaga kita agar tetap bisa tersenyum sampai di usia senja.
…suatu saat bila aku sempat menjadi tua seperti nenek, di balik jendela yang manakah aku akan duduk?

::note: bahkan pemandangan di jendela yang ini pun sudah berubah. Euphorbia di pot itu minggu lalu dipindahkan semua oleh ibuku ke tanah di halaman. Pertumbuhannya tak lagi bagus, karena akarnya sudah memenuhi pot.
anjing itu menggonggong keras ke arahku
dan kami saling bertatapan
kuberikan bermacam isyarat untuk mengusirnya
anjing itu masih menggonggong
saat coba kuhardik, gonggongannya malah semakin keras..
disaat buntu.. aku menjerit memanggil si pemilik anjing
yang sekejap datang, memberikan isyarat dengan jentikan jari
anjing itu langsung diam dan pergi..
begitulah mungkin perumpamaan
bila suatu saat hati dilanda resah..
semakin dipikir semakin gundah
dicari-cari sumbernya malah semakin runyam
kenapa tak minta tolong saja pada Sang Pemilik semua rasa itu
minta bawa pergi semua resah yang mengganggu
juga bila suatu saat **mungkin sekarang**
ribuan setan datang dihatiku..
menggonggong keras, menggangguku
sekuat hati kulawan, semakin mereka mengganggu
mengapa aku tak menjerit saja pada Sang Pemilik semua makhluk
[menurutku pemilik setan adalah Allah SWT] untuk usir semua setan dihatiku
dan DIA kemudian hanya beri sedikit isyarat pada para setan itu
untuk diam dan pergi..
kedengarannya cukup mudah..
tak kubagi makanan pada yang menahan lapar
sebenarnya siapa yang kubiarkan lapar..
tak kuulurkan tangan sejuk pada yang sakit
sesungguhnya siapa yang kubiarkan sakit..
masih tak kusapa jiwa yang sepi..
entah siapa yang tak kupedulikan itu..
aku membiarkan diriku lapar
aku membiarkan diriku sakit
aku membiarkan jiwaku sepi
kau tahu.., aku menyakiti diriku sendiri..
Perempuan dalam adat Minangkabau diungkapkan sebagai Limpapeh [tiang] rumah nan gadang, sumarak dalam nagari, hiasan di dalam kampuang, umbun puro pegangan kunci, kok hiduik tampek banasa, jiko mati tampek baniat, ka unduang-unduang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo.
Hmm, tak hendak menjelaskan makna kata diatas.. barisan kata-kata yang seharusnya indah itu sudah sangat biasa didapati disetiap pembahasan tentang perempuan minang..
Tak hendak pula membahas bahwa bangsa yang paling nyata menganut paham matrilinial ialah masyarakat Minangkabau. Keturunan yang dihitung menurut garis ibu. Garis keturunan ini amat penting **katanya** dalam menentukan suku dan urusan pewarisan pusaka suatu kaum yang disebut sako dan pusako.
Aku tak pernah peduli dengan kata-kata diatas.. karena sudah terlalu sering kubaca dan seringnya ditulis sebagai hiasan saja.. dan digunakan pada saat situasi menguntungkan bagi “satu pihak”
** sebenarnya aku malas bila harus menulis tentang suatu yang bernada tuduhan.. bisa merusak nuansa cinta bulan Juni ku
namun ingin berbagi kisah tentang Lian.. Lianku..
***
“ibu, sekarang Amak sudah tak ada.. Apak sudah menikah lagi, aku sudah berani bu.. aku akan pergi apapun tantangannya”
tak peduli lagi ancaman Rumah Gadang akan dibakar
bila dia berani tinggalkan rumah.. **ancaman dari para penguasa Lian
dulu.. ah rasanya sudah lama sekali 2 tahun berlalu
Lian harus putuskan kekasihnya, karena persyaratan itu
si gadis sama sekali tak diijinkan pergi tinggalkan kampung
sakit pasti.. rajutan masa depan hancur didepan mata
masihkah semua alasan itu berlaku..
alasan bahwa dia adalah limpapeh rumah gadang..
tak bolehkan dia menjadi tiang dirumah yang ingin dibangunnya sendiri
siapakah sebenarnya pemilik diri..???
Pergilah Lian.. pergilah.. aku, ibumu selalu doakan..
***
sedikit lemas karena membuatku teringat dakota fanning [lewellen] di hounddog **sama sekali tak usah kau tonton film itu.. gadis kecil yang terpenjara di rumah yang bukan ‘rumah’ dan semua biarkan jiwanya tersobek-sobek.. untuk kemudian membawanya pergi..
aku mengenal Lian, seorang Lewellen yang seharusnya biarkan dia pergi dari awal..
berbeda dengan Narumalina yang justru tolak tinggalkan lereng bukitnya.. aku juga mengenal seorang Narumalina lain, yang tak pernah bisa tinggalkan bukitnya terlalu lama, hmm.. hmm..
***
mengapa tak biarkan saja setiap diri memilih tempatnya sendiri
mengapa kita selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya
padahal dia bukanlah milik kita.. bukan milik siapa-siapa..
dan tak perlulah ku banyak bertanya, karena skenarioNYA memang selalu yang terbaik..
terdengar tarikan napas panjang dari seorang ibu lewat separuh baya, saat sampai di puncak tangga.. walaupun cukup lelah, namun salamnya terdengar cukup lantang, kami segera berdiri menyambutnya
ibu satu ini selalu bersemangat, walau datang sendirian tanpa ada yang mengantar.. tak membuatnya terhambat untuk datang belajar.. dan ga pernah terlambat dari waktu yang ditetapkan.. **huhu seringnya kita yang ngaret..
tapi ada yang lain pada kedatangannya kali ini. selain tas perlengkapannya, beliau membawa sebuah radio ditangan.. tanpa dikantongi..
radio itu, radio jaman dahulu.. aku ingat sewaktu SD nenekku juga punya radio seperti itu.. sebelum lohor muter drama radio “Butir-butir pasir di Laut..” dan abis Isya ada “Saur Sepuh”
setelah beliau duduk, kami tanya.. mau diapakan radio itu?
dan beliau bercerita, bahwa radio itu sudah seminggu rusak.. padahal radio itu adalah modal beliau untuk membangunkan anak-anak di pesantren kecil milik beliau..
wawww!!!, baru tahu beliau punya pesantren kecil khusus perempuan.. dan woww..!!! radio itulah yang membangunkan ank-anak itu shalat subuh.. Subhanallah..
beliau lah si cangkir kosong, yang selalu berikan ilmunya pada anak-anak pesantren itu.. kemudian mengisi cangkirnya kembali dengan ilmu, dari siapa saja..
walau di usia yang menjelang senja..
sungguh.., pokoknya aku suka gayamu, grandma..!!!
[sebenarnya mau ngomong “gw suka gaya lo, grandma..!!!” **ga berani**]
Ehm.., hanya ingin berbagi pemandangan ruang kerjaku yang baru.. berada persis disamping sawah. hampir sebulan aku bertugas disini.. **terlewat sudah kisah aku menangis terisak-isak tinggalkan Puskesmas lamaku yang berada ditengah rumpun bambu..
Semoga jadi penambah semangat.. dan pengingat bahwa disini aku dipinjamiNYA sajadah yang indah.. apakah aku masih setengah hati gulirkan butiran demi butiran tasbih..
la hawla wa la quwwata illa billah..
there is neither change nor power except by means of Allah.
there is no transformation or strength except through Allah.
there is neither progress nor might except through Allah.
sejujurnya aku ingin, ummi..!!!
ingin Bidadari Surga cemburu padaku
seperti yang kau inginkan untukkutapi ternyata kadang aku terpuruk,
saat telusuri jejak yang kuanggap benarUmmi, sudah ku baca surat itu dan saatnya ku mengakui
bahwa Bidadari Surga sama sekali tak cemburu padaku..
tadi siang ummi beri surat cinta untukku, panjang.. Ummi ingin Bidadari Surga cemburu padaku.. Tapi ternyata Bidadari Surga hanya cemburu pada wanita shalihah… aku masih jauh, ummi..
Ya Rabb.. masih bolehkah aku merayu, meminta waktu perbaiki diri..?
Note:
Hari ini adalah hari bertukar surat cinta
Nideww: tx sudah mengkritisi sekaligus memahami “dunia-ku”
Usai mengisi acara penyuluhan di pos yandu Lansia, saya membawa pulang sebuah buletin. Buletin Pos Pelayanan Terpadu Lansia kelurahan Belakang Balok yang diberi nama “sehati”.. saya paling senang dengan TTS nya karena besar dua halaman penuh dan benar-benar diundi pemenangnya, hanya saja bulan ini tak ada pemenang.. **hmm tau begitu saya ikutan kirim** hadiahnya lumayan.. voucher belanja di toko pakaian milik pimpinan pos yandu tersebut.. hehhhhee..
Di buletin ini berita duka adalah hal yang biasa **namanya juga buletin lansia** bahkan saat pemeriksaan kesehatan adalah hal yang biasa buat mereka menyahut saat kita memanggil “bu dokter.. bu rasimah sudah meninggal rabu kemarin..!!”
dulu pertama-tama terjun.. saya merinding mendengarnya.. cukup shock dengan kenyataan itu, para sepuh tersebut terlihat santai saja, ahh.. apakah sudah begitu biasanya ditinggalkan oleh teman yang kemarin masih duduk bergurau bersama..???
dan sudah bisa menerima kah mereka bahwa minggu depan mungkin giliran mereka yang meninggalkan para sahabat..
saya masih sulit untuk menerimanya..
kembali pada buletin, ada sesuatu yang istimewa kali ini.. sebuah kolom bertulis.. Ucapan Selamat atas Pernikahan Bapak Ramadhan dengan Ibu Yulizar..
Uuuuppffffff.. entah mengapa haru begitu dalam dihati ini, terimakasih ya Rabb.. KAU masih beri senyum untuk mereka..
berilah aku kesempatan mengalirkan senyum pada semua orang tuaku.. semua orang tua yang kutemui..
Ampuni aku ya Rabb.. bila selama ini sering membiarkan mereka hidup dalam sepi..
Padahal KAU ada pada orang-orang yang kesepian..
Padahal KAU lah yang tak ku acuh kan itu