Archive for the 'nakjagastrOnOmikz' Category
March 4th, 2010 by nakjaDimande
Bahan :
Pisang batu [dua tiga iris], ubi, bengkuang, ketimun, nanas, jambu air dan kedondong. Semua dipotong kecil
Bumbu :
Cabai rawit, asam jawa, gula merah, terasi bakar, garam [karena aku suka rujak pake kacang, maka ditambahkan kacang tanah goreng]
Cara Membuat :
1. Tumbuk bumbu sampai halus. Masukkan pisang batu tumbuk sampai agak lembut.
2. Tambahkan buah-buahan yang sudah dipotong kecil.

Seharusnya bumbu dan buah dibebek (ditumbuk) di sebuah lumpang
berhubung tak punya, maka aku gunakan ulekan biasa

Rujak setelah dibebek
lebih enak dihidangkan bersama kerupuk
karena persediaan yang ada hanya opak singkong
dipaksa untuk disandingkan, ternyata enak juga
Fakta seputar Si Rojak anu dibebek ku urang :
1. Persyaratan dari Pakde bahwa resep yang diikutsertakan dalam Ladies Program Rujak Antar Nusa haruslah rujak khas dari daerah peserta. Hal tersebut sungguh bikin pusing sampai aku jatuh sakit memikirkannya. Pada kenyataannya rujak yang ada di Bukittinggi itu sama saja dengan rujak buah yang ada di seluruh nusantara, tidak ada yang khas. Mosok aku harus mengada-ngada bikin rujak rendang suir atau rujak sanjai balado
Akhirnya aku putuskan untuk menghidangkan rujak bebek yang sering aku jumpai di Bandung dulu. [boleh ya Dhe? awas ajah klo ngga boleh
]
2. Rujak hasil karya para Ladies yang sudah terlebih dahulu mendaftarkan diri sangat luar biasa. Dengan bermacam kreasi yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Aku sebenarnya sedikit minder dan cari alasan biar ndak usah ikutan acara ini.Tapi pakde sama sekali tidak percaya bahwa aku sedang sakit dan harus banyak istirahat, gara-garanya karena selama sakit itu kegiatan blogwalking-ku jalan terus. Menurut beliau klo mampu BW berarti aku juga kuat ngulek rujak.
3. Di Bukittinggi tidak ada yang jualan rujak bebek, karena bebek di sini biasanya dimasak gulai cabe ijo
Pengalaman dulu sewaktu masih jadi orang baru di Bandung, aku dan seorang teman yang sama-sama dari Bukittinggi mengira rujak bebek adalah semacam masakan dari bebek yang bisa untuk lauk makan nasi. Suatu kali kami memesan dan setelah melihat hasilnya kami hanya bisa berucap “Ooo rujak bebek tho, kirain rujak bebeekkkk..”
4. Memberi nama yang unik, begitu persyaratan selanjutnya dari pihak penyelenggara. Berhubung kemarin itu menyaksikan anggota dewan saling bebek [tumbuk] di ruang sidang, aku lumayan terprovokasi juga untuk ikutan ngabebek anggota dewan rujak. Pada akhirnya.. Si Rojak Dibebek ku Aing Urang.
5. Bebek = Tumbuk. Pengucapan ‘bebek’ tidak sama dengan bebek angsa, huruf ‘e’ dan huruf ‘k’ diucapkan dengan cara khas orang sunda tea, kudu belajar heula sama Ceuceu, Aa Pyan sareng Kang Yayat
January 31st, 2010 by nakjaDimande
Hari minggu bersama si kembar, dengan agenda utama mengunjungi Niang. Niang begitulah panggilan sayang kami pada beliau tanpa embel-embel maktuo, nenek atau yang lainnya. Beliau tinggal di pinggir ngarai sianok di seberang Bukittinggi, dahulu kala Ibuku harus berjalan kaki melewati lembah untuk sampai di rumah Niang. Sekarang cukup 15 menit saja bila naik kendaraan bermotor.
Apa yang istimewa di rumah Niang? Sudah pasti Niang adalah yang paling istimewa, beliau seorang ibu yang penuh perhatian. Memiliki Ilmu agama yang cukup dalam, karena beliau adalah lulusan Pesantren Parabek *dulu itu sudah yang paling keren buat seorang perempuan. Menyenangkan bercanda dengan Niang, walau sering juga bikin telinga kita kebakaran dengan omelannya. Kali ini si kembar yang kena omel gara-gara sholat mereka yang super kilat **Niang ga liat aku lagi sholat.

Rumah Niang berada di kampung yang agak di pedalaman, namanya kampung Guguak Tinggi [artinya Bukit Tinggi juga]. Yang menyenangkan bila memasuki kampung ini adalah suasananya yang masih alami. Begitu juga di rumah Niang segalanya masih serba tradisionil, terutama dapurnya. Dapur Niang paling aku suka, dengan kitchen set yang super klasik!
Sampai saat ini Niang tak berkeinginan mengganti kitchen set-nya dengan kompor gas atau kompor minyak tanah. Beliau tidak mau karena merasa hasil masakan menjadi tidak selezat bila memasak dengan kayu bakar. Untuk hal ini aku setuju dengan Niang, segala sesuatu yang dimasak di atas tungku itu [tigo tungku sajarangan] hasilnya selalu lebih nikmat. Alasannya menurutku karena memasak dengan kayu bakar jauh lebih sulit, butuh seorang koki yang penuh cinta untuk bertahan di dapur klasik itu. Sehingga hasil masakannya pun pasti penuh cinta gitu deehhh.
Yang paling asyik adalah sebelum bara apinya padam, aku paling suka membakar ubi jalar di sana. Cukup benamkan di antara bara itu, tunggu sesaat.. tinggal dinikmati *hehe dasar cangok!
Semoga Dapur itu akan terus bertahan, tapi entahlah bila nanti Niang sudah ndak kuat memasak lagi, mungkin penerus Niang akan beralih memasak dengan kompor. Sementara ini Niang masih sehat aku bersyukur masih bisa menikmati pemandangan dapur yang penuh nostalgia itu.
Dan Niang teramat paham bahwa masakannya yang penuh cinta itu selalu membawa kami anak dan cucunya kesana lagi.. dan lagi..!!! Makasi Niang Sayang, semoga Allah SWT senantiasa menyayangimu. Amiin
yuk, makan.. makan.. makan..!
foto hasil masakan sengaja dengan warna aslinya
biar ngabibita ncep Pyan ‘ma Ulil, ngacaaiiiii
December 5th, 2009 by nakjaDimande
Peringatan lagi: Tulisan ini tak elok bagi anda yang alergi terhadap rendang dan juga bagi anda yang doyan rendang tapi tidak mendapatkan kiriman rendang dari Bukittinggi, hal ini bisa membuat perasaan anda menjadi tidak tentram. Lebih baik gunakan waktu anda untuk mendaftarkan diri pada acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu dan program PPC: Parade Puisi Cinta. Sekarang juga!
Minum Teh Bersama Ibu
Ramaikan dan ikuti Karnaval Blog “Minum Teh Bersama Ibu”
www.guskar.com
Parade Puisi Cinta (PPC)
Ungkapkan rasa cinta Anda dalam bentuk puisi, lalu ikutkan!
www.abdulcholik.com
Tau tentang Pak dan Bu Mars?
Segera hubungi kami jika anda tau banyak tentang mereka berdua
www.nakjadimande.com
[kyaine sudah bisa belum ya memposisikan iklan Pak Mars di tengah?]
~oOo~
Hari Raya Idul Adha di Bukittinggi tentu saja sama dengan di daerah lain, ada suatu kemeriahan karena itu adalah Hari Raya Kurban saat di setiap rumah akan merasakan nikmatnya masakan daging kurban pada hari tersebut.
Ketika di Bandung dulu pemandangan yang lazim terlihat adalah acara bakar sate, sehingga udara seharian akan beraroma sate. Berbeda di kampungku Bukittinggi, selama dua hari berturut-turut akan ada wangi rendang setiap melintasi di rumah-rumah penduduk.
Tipikal masakan di kampungku jarang sekali yang menggunakan daging kambing, satu-satunya yang aku tahu hanyalah gulai cancang, semacam kari. Bahkan sate pun di sini menggunakan daging sapi. Sehingga pada pemilihan hewan kurban selalu diusahakan untuk berkurban sapi, caranya adalah dengan patungan. Biasanya panitia di surau dan masjid yang mengatur satu sapi untuk 6-7 orang. Sedangkan bagi yang telat menyetorkan uang kurban sehingga bisa jadi sudah tak ada teman patungan untuk beli sapi, maka dibelikanlah kambing. Namun biasanya itu hanya satu dua ekor saja. Dan sudah menjadi tradisi bahwa kambing yang disembelih akan dimasak menjadi gulai cancang untuk acara makan bersama warga kampung di mesjid pada hari itu, sedangkan yang dibagikan tetaplah daging sapi.
Setiap lebaran haji. ibuku seperti juga ibu yang lain akan memasak daging yang diantarkan oleh panitia menjadi rendang, untuk kemudian dikirimkan ke seluruh penjuru. Hehhe, emangnya rendang seberapa banyak siyh? Lumayanlah, biasanya ibu menambahnya dengan daging dari pasar agar bisa mencukupi.
~oOo~

Tahap pertama adalah memanaskan santan dan segala bumbu [semua bumbu dapur masuk, aku rasa
] daging jangan dimasukkan dulu, karena dikhawatirkan hancur karena proses memasaknya cukup lama. Ibuku menggunakan kompor minyak tanah bersumbu banyak, ditaroh di lantai agar lenganku tak terlalu pegal saat mengaduknya [aku bagian pengadukan secara lenganku cukup perkasa karena sudah biasa untuk ekstraksi ]

Tahap kedua terlihat santan mulai berkurang dan mengeluarkan minyak, pada tahap ini daging pun dimasukkan. Jangan pernah lengah dalam mengaduk karena akan mengakibatkan bagian bawah wajan hangus dan lengket.

Tahap ketiga rendang sudah semakin coklat, kewaspadaan harus semakin ditingkatkan. Pada tahap ini aku beberapa kali kena omel oleh ibuku, karena aku lengah gara-gara blogwalking yang kulakukan di dapur.

Tahap akhir, rendang sudah mengering dan ibuku menambah potongan singkong berukuran kecil yang sudah digoreng garing.. t.o.p.b.g.t pokoknya!

Rendang dibungkus plastik lalu dimasukkan kedalam dus, aku tak sempat lagi untuk membungkusnya dengan cantik. Nanti di Tiki saja minta bungkus dengan kertas coklat!
~oOo~

Sejak hari minggu tiki beroperasi dari jam 6 pagi, senin itu aku datang cukup pagi tapi antrian sudah panjang. Yang mengantri kebanyakan adalah ibu-ibu, hmm,,. hampir semuanya mengirimkan paket cinta berupa rendang untuk buah hati yang jauh di rantau.

Seorang wartawan meliput kegiatan ini dan mewawancarai beberapa ibu. Bila beberapa hari lalu dirimu melihat tayangan di TV tentang aktivitas pengiriman rendang di Bukittinggi, akan terlihat seorang ibu-ibu setengah baya berpakaian dinas yang berusaha menyembunyikan wajahnya takut tertangkap satpol pp karena ngantri di tiki pada jam dinas, nah itu adalah aku..!!!
Mungkin karena traffic pengiriman rendang begitu tinggi, kali ini tiki kurang menepati janjinya dalam pengiriman. Mamaw di bandung dan Ibu di jakarta lapor bahwa mereka baru menikmati rendangnya kemarin sore, seharusnya hari Rabu sudah sampai.
>>>duncay semua, maafkan ya.. karena tenyata narablog tak termasuk dalam daftar pengiriman rendang ibuku
October 15th, 2009 by nakjaDimande
Tumis Taoge Teri Kejar Tayang
itulah judul masakan yang akan aku ikutkan pada Ladies Program: cuisson du poisson et des legumes di rumahnya pakde cholik. mengapa Kejar Tayang? karena memasaknya hanya sekejap. Sedap Sekejap dong? hehhe ngga janjiii..
sesuai persyaratan bahwa masakan harus berbasis ikan dan sayuran. cukup menyulitkan, karena ibuku dua minggu ini tak ada rencana pulang ke Bukittinggi, sehingga aku tak mungkin mengandalkan beliau untuk memasakkannya kali ini
masakan minang yang berbasis ikan dan sayuran sebenarnya cukup banyak, seperti pangek ikan mas kacang panjang atau gulai masin ikan tongkol dengan buncis.. tapi hampir semua memakai santan. karena aku masih dalam suasana malas, aku pilih yang gampang saja.. lagian KD tak terlalu suka masakan bersantan **alesan
teri? memangnya teri termasuk ikan..? lha iya kan pakdhee, jangan sampai aku terancam diskualifikasi gara-gara pake ikan teri. walau imut begitu ikan teri kaya dengan kalsium..
ok, tak baik bila terlalu panjang kata sambutannya.. mari kita mulai saja memasak TuTaoTe Kejar Tayang ini.
bahan:
> minyak untuk menumis
> bawang putih, memarkan
> kecap ikan [tau lah kan, beli di supermarket ada..]
> teri medan goreng kering [boleh ganti dengan ikan asin lainnya]
> tauge, buang akarnya kata ibuku [kataku, cuek aja yang penting bersih
]
> daun bawang dan cabe merah di iris miring
cara:
1. tumis bawang putih sampai harum, masukkan kecap ikan, cabai merah, daun bawang dan tauge, masak dengan api besar
2. begitu taoge mulai layu masukkan ikan asin, angkat dan sajikan

catt:
# tak usah pakai garam lagi, karena ikan terinya sudah asin
# semua ukuran sepedenya saja 
# mengenai rasa, di luar tanggung jawabku.. karena aku hanya berpedoman dengan prinsip KD bahwa yang penting masakan itu sehat dan halal istrinya mau memasak.. mengenai rasa, nomer sekian..
August 23rd, 2009 by nakjaDimande
sengaja judulnya lebay begitu.. biar lebih semangat
pernah dengar tentang gulai bebek cabe ijo dari ngarai sianok..? itu adalah masakan khas koto gadang, sebuah kampung kecil di lembah sianok, sudah sering sekali diliput di tv.. Pak Bondan Winarno si raja kuliner pun sudah pernah menyempatkan diri kesana untuk menyicipi masakan khas yang disediakan oleh warung sederhana yang terletak di pinggir jalan kecil menuju lembah ini..
buat yang dari luar kota bisa bawa pulang si bebek cabe ijo ini karena sudah disediakan bebek yang sudah dibekukan.. dan bagi yang ga kuat pedas.. harus menyiapkan diri untuk sedikit melilit.. hehhhee..
berbuka puasa hari pertama dirumahku, kemarin.. dimeriahkan oleh masakan cabe ijo bikinan kakak. rasanya mirip, hanya saja sibebek ditukar dengan ayam.. karena bebek lebih sulit penanganannya.
hidangan cabe ijo untuk berbuka puasa. Bagi KD hal itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan nekad..
.. tapi berhubung di rumah lagi rame dengan pasukan nekad, semuanya setuju bahwa menu istimewa berbuka hari itu adalah ayam cabe ijo.. niyh bundo tuliskan resepnya.. tapi mohon jangan terlalu nekad untuk mencobanya di bulan puasa ini
bahan:
• 1 ekor ayam ukuran sedang
• ½ kg cabe ijo digiling halus *kebayang kan pedesnya 
• 6 butir bawang merah diiris tipis
• 5 siung bawang putih dihaluskan
• jahe, lengkuas, kunyit secukupnya dan dihaluskan
• merica, ketumbar dan pala secukupnya dan dihaluskan
• daun kunyit, daun salam, sereh, daun jeruk, masing” satu lembar
• ¼ kg minyak goreng **masakan ini memang memakai banyak minyak goreng
• 500 cc air kelapa
cara:
• tentu saja baca Bismillah dulu 
• panaskan ¼ kg minyak goreng, tumis bawang merah iris sampai harum, tambahkan semua cabe ijo dan bumbu halus beserta semua daun
• tunggu sampai tumisan ini terlihat matang dan harum.. masukkan ayam.. aduk sampai berubah warna.
• masukkan air kelapa, kecilkan api.. tunggu sampai mengering aduk terus.. bila ayam belum empuk boleh tambahkan sedikit air putih.. tunggu kering lagi
::note:
# proses memasaknya agak lama, karena api harus kecil agar si cabe ini jangan terlalu pedas
# air kelapanya boleh ditukar dengan santan kental
# karena aku pengertian terhadap KD yang sunda.. biasanya aku beri sedikit kecap agar tak terlalu pedas.. tapi tetap saja, KD berkata bahwa perlu keimanan yang kuat untuk bisa menikmati ayam cabe ijo tersebut tanpa mengundang tim pemadam kebakaran

foto ini diambil tadi pagi, saat si ayam cabe ijo sudah tinggal sisanya saja..
January 8th, 2009 by nakjaDimande
Berkunjung ke kamar sebelah hari ini.., ada koment terbaru tentang tulisan lama beliau ‘tour de Bukittinggi’. walaupun sampai sekarang belum ada bayangan bahwa akan dicalonkan menjadi walikota Bukittinggi, tapi tulisanya cukup menggelitik saya untuk membuat semacam review, versi saya tentunya..
Los Lambuang:
Los itu apa sih.. lorong kali ya..? saya sedang malas mencari maknanya.. kira2 begitulah **semoga ga dimarahin Yus Badudu**, sedangkan lambuang, ya lambung.. tempat makanan diperut kita. hampir semua makanan yang dijual disini berasal dari kampung kapau.. sebuah kampung dipinggir kota bukittinggi.. yang indahnya.. dahsyat gile..!!! **subhanallah.. maksudnya**
Katupek kapau.., hmm..
pernah saya sebut sekilas ditulisan tentang hari pekan.. sejenis warung yang mempunyai 4 sisi, si ibu (sang penjual) duduk disatu sisi menghadap kepada para pembeli yang mengisi bangku di 3 sisi lainnya.. ditengah-tengah semua itu ada sebuah meja dengan segala macam pernak-pernik keperluan, untuk menciptakan sepiring ketupat yang lezat..
perlu saya jelaskan segala pernak-pernik itu.., ada sayur lobak singgalang yang diiris halus, mie kuning, jantung pisang rebus diiris halus, bihun goreng, kerupuk merah, kripik talas pedas yang super renyah dan ketupat yang digantung pada sudut belakang meja, sedang pilihan kuahnya ada dua macam.. kuah gulai kuning yang berisi nangka, ‘kamumu’ (batang keladi) plus rebung ataukah kuah pical/saos kacang yang pekat itu, favorite saya adalah ketupat dengan bihun goreng disiram kuah gulai plus sedikit kuah pical.. lalu diatasnya dihiasi kripik talas **halah.. keliatan nggragasnya**
ehhmm.., ada ga ya.. yang sekitar tahun 80-an akhir, pdkt atau kencan diwarung ketupat ini (wuoii.. istilah pdkt jaman sekarang apaan seehh..).. lucu kali ya.. pdkt didepan ibu penjual yang jaraknya hanya sekitar 1 meter dari kita, dan yang pasti dipelototin terus sama si ibu warung.. hihihi…
sayang sekali masa remaja saya, tak sempat merasakan apa itu ‘pdkt’ **tepu..**. jadi saya ke warung ketupat itu selalu rame-rame dengan teman satu gank yang hebohnya bukan main.. hehhe, segitu juga makan diwarung ketupat los lambuang adalah hal yang cukup ‘gaul’ pada saat itu
ada yang hampir terlupa, bagian terluar pembeli ditutupi dengan kain putih yang cukup lebar di tiga sisi diikatkan dengan menggunakan tali rafia, sedangkan sisi penjual dibiarkan terbuka.. karena masih harus menyimpan peralatan masak seperti kompor dan lainnya.. sayangnya saya tak mempunyai foto warung ketupat ini.. di los lambuang sekarang sudah mulai berubah bentuk sedangkan di Pasar Aur Kuning mereka masih menggunakan style lama.. dimana pada saat datang kita harus menyibakkan dulu kain putih yang menutupi tenda..

Nasi Kapau
masih satu los dengan ketupat.., warungnya pun segi empat.. hanya saja lebih luas.. dan ibu penjual duduk disatu sisi dengan posisi yang lebih tinggi dari pembeli.. sedangkan ditengahnya diletakkan segala macam lauk pauk yang disusun bertingkat. Bila kita hendak memesan.., si ibu akan mengambil lauk dengan menggunakan sanduak (sendok panjang dari batok kelapa).. saking panjangnya sanduak itu sehingga dapat menjangkau bagian terjauh dari tempat si ibu duduk..
sejatinya makan nasi kapau, haruslah dicampur semua kuah dan samba ladonya.. jadi bila cuman makan nasi plus ayam bumbu saja tanpa guyuran bermacam pernak-pernik itu, bukan nasi kapau namanya. secara warna, Nasi Kapau itu indah.. setidaknya harus ada 6 warna diatas piring.. putih dari nasi, kuning dan hijau dari gulai sayur kapau (kacang panjang, rebung, nangka), merah dari samba lado, hitam dari bubuk rendang (biasanya ada kentang kecil atau singkong yg dipotong dadu), coklat muda dari bumbu lengkuas ayam goreng, coklat tua dari kuah cancang dan kalio.. **fiuuhh.. cape dee..**
nah apapun lauk yang anda minta.. seharusnya warna warni itu adalah standar bakunya.. barulah anda tau apa itu sesungguhnya nasi kapau.. seperti misalnya nasi rames, nasi campur.. ya.. sebenarnya kudu meriah.. tapi jaman sekarang, banyak orang yang perutnya tak sanggup **termasuk KD**
bagi saya bukan masalah sebenarnya.. asal saya tak memakannya ditempat.. karena bisa memancing kepanikan.. coba anda bayangkan diposisi duduk yang sangat mepet dengan pembeli lain **duduk bersebelahan** karena menggunakan bangku, bukan kursi..apalagi klo hari pekan bakal dempetan banget.. saya pasti sibuk mengurusi hidung saya yang meler terus, bisa menghabiskan berlembar2 tissue.. ahh hilanglah semua kenikmatan itu 
so.., take away sajalah..
tapi jangan khawatir, jaman sekarang sudah banyak nasi kapau yang berkonsep ala restoran.. tapi saya tetap memilih beli bungkus agar lebih tenang menikmatinya pelan-pelan dan tahukah anda porsi sebungkus nasi kapau..? bisa dimakan oleh 3 orang.. tapi tentu saja harus lauk ekstra
lagi-lagi di los lambuang bentuk kedai nasinya sudah banyak dirombak.. ciri khas kain putihnya sudah mulai hilang.. kalo ingin ketemu yang masih gaya lama yaa.., ke pasar Aur lagi..
tapi khusus disana nasi Kapau hanya ada dihari Pekan saja..
di dekat pintu masuk Los Lambuang sebelah belakang.. ada penjual gulo-gulo tare.. ahh saya juga tak punya fotonya.. itu sejenis permen tradisional yang terbuat dari gula enau **kira-kira neehh** trus istimewanya adalah dilumuri tepung yang sudah disangrai, saya paling suka sensasi tepungnya.. tapi sekarang saya sudah ga bisa lagi memakannya karena tenggorokan saya gampang banget meradang setiap makan yang manis-manis.., dipikir2 apakah amai (ibu) yang jualan itu masih punya pelanggan.. secara dijaman sekarang jajanan anak2 sudah modern semua.. ahh, bukankah Allah selalu adil dalam membagi rezeki hambaNYA..
seperti biasa.. semestinya masih banyak yang ingin saya uraikan.. tapi bila terlalu panjang saya khawatir anda kabur sebelum tuntas membacanya..
dan saya maklum bahwa pembahasan saya tentang katupek kapau dan gulo-gulo tare itu tak mungkin membawa saya menjadi calon walikota Bukittinggi, tapi cukuplah memenuhi hastrat nostalgia bagi saya sendiri.. krn meskipun telah kembali pulang sejak 3 tahun yang lalu.. tak selalu saya sempat menengok tempat2 kenangan itu
,
,
December 14th, 2008 by nakjaDimande

Bila rabu dan sabtu menjelang.., pertanda saya harus melewati jalur lain untuk sampai ke puskesmas, karena jalur yang biasa saya lewati akan penuh sesak dengan aktivitas silaturrahim antara pedagang dan pembeli.
Hari pakan.., itulah sebutannya, setiap Rabu dan Sabtu. Pakan atau pekan disini berarti pasar, hendak ke pakan artinya hendak ke pasar. Pakan di bukittinggi adalah salah satu yang terbesar di wilayah sumatera barat, merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dan pembeli dari seluruh penjuru negeri.
Yang paling saya risaukan di hari pakan adalah hujan, karena diantara pedagang itu banyak ibu-ibu tua yang berjualan hasil kebunnya.., menggelar labu siam, daun singkong, pisang dipinggir jalan beralaskan karung bekas dan tentu saja tanpa tenda untuk berteduh.., bisalah dibayangkan bila hujan lebat turun. tapi kata kd, ibu-ibu tua itu sudah dikuatkan oleh air hujan.., tak perlulah dirisaukan, cukup titipkan saja mereka pada Yang Maha Mengurus
Seperti biasa perhatian saya akan lebih tertuju pada berbagai makanan yang dijajakan, meskipun ini tahun ke 3 saya tinggal dikampung halaman ini tapi tetap saja ada satu dua jenis makanan yang terlewatkan. Hmm.. nyam.. nyam.., ketupat kapau dengan berbagai macam pilihan, ada yang pake bihun goreng atau pake campuran pical mie (pecel), lupis, bubur ketan item dan bubur putih.
Juga berbagai macam kerupuk kampung khas bukittinggi.., sanjay balado, karak kaliang (yang angka 8), karupuak jariang (krupuk jengkol), rakik maco (krupuk yang ada udang kecil ditengahnya), bolu kering cetakan ikan, pinyaram (kue cucur), godok (campuran pisang dan terigu trus digoreng bulat)..,
bisa seharian saya bila harus menuliskan semua jenis makanan itu, yang saya sebutkan diatas itu hanyalah sebagian kecil makanan khas bukittinggi.., sedangkan di pakan itu ada buaaannnyyak makan dari luar daerah yang dijajakan, seperti palai rinuak (pepes ikan danau yg kecil-kecil) dari maninjau, yang tak boleh terlewat dari makanan khas danau ini adalah.. Pensi..!!! hahaha.., sejenis kerang danau berukuran kecil.. dimasak dengan bumbu yang cukup pedas, sehingga kadang yang merepotkan saya pada saat menikmatinya bukanlah cangkangnya, tapi justru pedasnya yang cukup keterlaluan.. tapi teteuupp.. t.o.p.b.g.t
selanjutnya kue pancuang.. ihh cukup menyeramkan juga namanya
.. sebenarnya di bandung juga ada yang mirip, bandros dengan bahan dasar kelapa muda.. hanya saja bandros ga pake gula jadi rasanya gurih sedangkan kue pancuang lebih manis dan setiap menggigit kerasa kelapa muda yang diparut.. enak..? sudah pasti..!!!
Berikutnya adalah buah2an kampung.. manggis mentah yang sudah dikupas, bagi saya lebih enak daripada manggis yang sudah matang karena bijinya bisa dikunyah habis.. ada juga kalimuntiang, hihihi lucu ya namanya.. saya ga tau pohonnya kaya apa, kemungkinan buah dari hutan.. berwana ungu tua, berukuran lebih kecil daripada kelereng dan bila kita membeli akan ditakar pake tabung bambu, rasanya.. manis sedikit kelat **duh.., kelat apaan sech..**
Untuk sementara.., cukuplah sedikit gambaran mengenai pakan di kota saya, bukittinggi.. lain kali disambung lagi. Mungkin sabtu ini saya akan singgah ke salah satu tenda katupek kapau, dan pasti hanya ada satu kesimpulan..
bahwa yang paling nikmat dari seluruh macam makanan kampung ini adalah biusan nostalgianya
,
,
December 8th, 2008 by nakjaDimande

Bahan:
1 ons cabe giling
1 ons teri digoreng selincam
1 papan petai digoreng
7 bawang merah diiris
4 bawang putih diiris
2 tomat ukuran sedang belah 4
2 asam kandis
200 ml air kerambil
Cara:
• Baca Bismillah dulu
• Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum
• Masukkan cabe giling.., masak sampe matang
• Setelah yakin cabenya matang (bukan angus lo ya), masukkan tomat
• Masukkan juga air kerambil dan asam kandis
• Tunggu sampe tomat rada ancur
• Masukin teri dan petai
• Hidangkan dengan rebusan japan dan pucuk perancis
• Lauk pendamping yg cocok adl telor dadar
• Nasi sebaiknya jenis badarai.. jangan yang pulen
Note:
Selincam : selewat.. sebentar.. artinya teri ga usah digoreng ampe garing perhatikanlah setiap kata yg dimulai dengan selin.. selalu berarti sebentar, contohnya selingkuhan, biasanya cuman bentar.. krn klo lama pasti nikah siri
,
, 
sedangkan selintas hampir sama dgn selincam bermakna selewat
Kerambil : berasal dr kata kera dan ambil. Sesuatu yang diambil dengan bantuan kera… yuppp… pinteeerr, Kelapa… air kelapa tidak sama dengan santan (kale aja situ g gaul..)
Asam kandis : ..asam gelugur.. kedua asam siriang-riang, lihat buku B.Indonesia kls 3 SD
Japan (labu siam) dan pucuk perancis (daun singkong), kemungkinan besar dua jenis sayuran ini diimpor dari jepang dan perancis. Jd levelnya samalah dgn sushi dan croissant
Badarai : berurai.., berderai.. (istilah di bdg beras pera’ lawannya pulen). Badarai aia mato, berurai air mata.. tp klo makan nasi jenis ini g akan badarai kok air matanya. Penggunaan minyak goreng jgn tll banyak.., juga jangan tll dikit (klo kedikitan nanti pedes)
Biasanya bundo ga pake garam lagi.. krn cabe giling yg beli dipasar ud asin, teri jg asin.. juga Jangan giling cabe sendiri.. kasian capek
Koki yang baik adalah koki yang PD abizz.. krn pasti g mau pake penyedap, kecuali keadaan darurat (klo darurat tiap hari..?? stt.. bundo jg sesekali pake). Bila masakan anda terasa ga jelas juntrungannya.., selamatkan dengan menambah sedikit kecap atau gula.. dijamin akan tetap ludes
Bila anda mempunyai suami dan anak2 yang indra perasanya tidak begitu peka, ucapkan Alhamdulillah.., itu artinya masakan anda takkan pernah tersia-sia
so.., selamat memasak..!!!