May 11th, 2010 by nakjaDimande

“nDuuk, kalau makan jangan banyak-banyak. Saru. Malu-maluin. Cukup sedikit saja. Kalau makan banyak nanti tidak payu rabi, lho. Tidak ada yang mau mengawini kamu”
[Umar Kayam, Mangan Ora Mangan]
Pertama kali jatuh cinta pada Almarhum Umar Kayam adalah karena cerita yang satu ini.
Bahwa banyak atau sedikitnya orang makan adalah kontekstual. Di sumatera, baik laki-laki atau perempuan makan dengan lahap [saya banget], tidak seperti di jawa.. yang laki-laki makan secukupnya, apalagi yang perempuan.. cimak cimik [istilah UK] mencuil lauk sakuwir dan itu juga tak habis di makan.., Waah, jaan, orang jawa itu! [onde mande.. kata saya].
Semua berhubungan dengan ideologi budaya jawa.
Tak usahlah jauh-jauh ke jawa. Antara saya, seorang perempuan sumatera dan KD yang menganut ideologi budaya sunda, di awal pernikahan terlihat sekali perbedaan jumlah porsi makanan kami di atas piring [piring saya lebih penuh dibanding KD]. Walaupun perbedaan itu berusaha saya hilangkan bila harus makan bersama mertua, Tapi lama kelamaan belang saya ketauan, sekarang sudah tak bisa pura-pura sudah kenyang di depan bapak dan ibu, karena malah akan diledek habis2an. Jadi hantam sajalah..!
Yang menarik dari cerita Pak Kayam adalah saat beliau membawa pulang oleh-oleh nasi bungkus dari Rumah Makan Padang [seharusnya Rumah Makan Minang
] dengan porsi besar untuk dua putrinya, berikut kutipannya:
…Ayo makan!” Dan perintah ke-2 sang patriarch diikuti lagi. Mereka mulai makan.
Mata brayat saya pada kelihatan pating pendelik, melotot-melotot, tetapi tetap saja makan terus. Eh, angudubilah syaiton, habis lho, habis!
Padahal anggota brayat saya itu semuanya putri-putri Mantili dengan pendidikan putri-putri keraton. Eh, habis lho, bungkusan yang sakpetutuk itu…
Wqqq… putri keraton takluk dengan nasi bungkus..!!!
Pak Ageng.., Pak Ageng, I Love U..
Note:
Makaciy buat uni Ami penghuni kamar kost paling depan.. yang meminjami saya buku ini 16 tahun yang lalu..
Ini artikel lama setahun yang lalu, saat aku masih ber’saya’.. repost ahh 
August 13th, 2009 by nakjaDimande
kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tetapi belukar yang baik
yang tumbuh di tepi danau
kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
jadilah saja rumput
tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
jadilah saja jalan kecil
tetapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air
tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
jadilah saja dirimu…
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
::note:
seperti biasa.. puisi ini pasti ditulis Bapak Taufik Ismail untukku. terimakasih ya pak..
August 8th, 2009 by nakjaDimande
Nyamperin matahari
Dari satu sisi
Memandang insan
Dari segenap jurusan
~ Rendra ~
Potongan puisi diatas aku temukan di Argenteuil nya ibu NH Dini.. disana tak disebutkan judul puisi tersebut.. dan pernah cek di mbah google, potongan puisi itu mirip dengan yang terdapat pada puisi Pamflet Cinta - Rendra, hanya ada kalimat yang sedikit berbeda..
Ma, nyamperin matahari dari satu sisi
Memandang wajahmu dari segenap jurusan
Aku tak paham dengan sastra.. tak paham seni dan seringnya tak tahu menghargai seni.. namun dari bahasa awamku ini, aku memahami bahwa setiap pujangga langit punya kebiasaan memandang insan dari segenap jurusan.. memandang semesta lekuk demi lekuknya..
Pujangga Langit sebutanku untuk mereka, para budayawan.. yang memberi nyawa pada setiap kata.. turun dari langit singgasana kata-kata, untuk melakukan tindakan nyata..
yang mereka lakukan sama beraninya dengan para prajurit di medan juang..
salah satu Pujangga Langit itu.. Bapak W.S Rendra
Sang Burung Merak telah berpulang ke Rahmatullah..
aku rasa ini bukan kehilangan, karena jejaknya cukup jelas untuk diteruskan..
Terimakasih Rendra..
May 29th, 2009 by nakjaDimande
[syair oleh O.R Mandank.. judul syair tak kutemukan
]
Pujangga!, turunlah, O, Pujangga!
Dimanakah tuan lagi bertahta!
Saya hasrat hendak berjumpa
Menemui wajahmu, O pujangga!
Bukan pujangga pemain kata
Tetapi pujangga juru pencipta
Pembawa ujud bukti yang nyata
Yang bukan kata sekedar kata …
note:
karena mencari tentang Narumalina, bertemulah potongan syair O.R Mandank berpuluh tahun yang lalu.. itu adalah ungkapan hatinya.. untuk menyindir dirinya sendiri juga..
hmm, untunglah aku bukan pujangga.. aku hanya bisa tulis kata-kata kosong wahai Bapak Mandank.. tapi akan kucoba, agar tak terlalu banyak sampah.. terimakasih sudah ingatkan aku, walau aku bukan pujangga..
May 29th, 2009 by nakjaDimande
narumalina nama gadis cilik itu
rambutnya panjang lurus, muka bulat dengan mata yang sedikit sipit
tinggal di lereng bukit bersama ibu.. ayah tak pernah dikenalnya, pergi entah kemana
narumalina dan ibu hidup dari hasil ladang di lereng bukit
sekali sepekan turun ke desa menjual hasil ladang
sampai suatu hari..
narumalina turun ke desa sendirian
hati bertanya..? ternyata ibu telah pergi untuk selamanya
sekian hari narumalina terus hidup sendiri, lalu datang seorang bibi hendak membawanya pergi
si gadis kecil menolak, menangis tak henti.., tak bisa tinggalkan lereng bukit dan ladang.. tak bisa tinggalkan pusara ibunda
[sayangnya.., tak ada yang mengerti narumalina.. semua berfikir untuk membawanya pergi]
dan tibalah saat itu,
beberapa orang menjemputnya ke lereng bukit
[aku sungguh tak tega bercerita bagian akhir ini..]
karena Narumalina ternyata sudah terbujur kaku disamping pusara ibunda
NARUMALINA takkan pernah tinggalkan lereng bukit itu..
note:
1. Narumalina, buku karya O.R Mandank [tahun 1932]
2. Aku membacanya saat kelas 3 SD.. sekitar tahun 1983.. buku yang mengguncang keceriaan kanak-kanak aku.. endingnya itu cukup lama mempengaruhi aku. ‘Ama yang bawakan buku itu, dan ‘Ama menganggap cerita itu cocok untuk aku baca..
3. Aku tak menemukan buku itu lagi.. sudah bongkar-bongkar lemari tak bertemu.. sudah pindah tangan ke tukang loak, mungkin.. padahal ingin aku ulang baca lagi untuk memastikan jalan ceritanya.. gambaran cerita diatas.. hanya berdasarkan tangkapan seorang anak kecil.. dan gambaran fisik Narumalina itu adalah aku..
4. Sudah cek ke om google, tak bertemu apa-apa kecuali tahun terbit.. dan aku baru tahu nama lengkap O.R Mandank adalah Oemar gelar Datuk Radjo Mandonk dilahirkan di Kota Panjang, Suliki, 1 Januari 1913.. hmm usia belasan beliau sudah jd penulis Balai Pustaka
5. Sekarang.. diusia 9 tahun anak-anak tak lagi memegang buku cerita.. sibuk membuat PR dan diselingi menonton sinetron-sinetron aneh..
May 9th, 2009 by nakjaDimande
Tak Sepadan (Chairil Anwar-Februari 1943)
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
Pertama kali temukan puisi ini diblog si penyair tua sahabatku.. entah mengapa membaca ini, serasa menyumpah-nyumpah dengan cantik.. **maafkan aku, wahai Bapak chairil anwar
Dan hari ini aku teringat lagi dengan kutuk sumpah serapah yang tertulis indah ini..
Ah.., sudah terlalu lelah Eros bila harus mengutuk sumpahi kau terus..!!!
,
,
March 7th, 2009 by nakjaDimande
tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak, dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif, dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu..
note:
hmm.., juni memang selalu indah
bisa dipastikan pak sapardi buat puisi itu untuk saya.. makacii pak..
February 26th, 2009 by nakjaDimande

Yang manakah dahulu itu…????
Bagi bapak mertua saya yang asli sunda, Bandung tempo dulu mungkin saja adalah saat Bandung masih jadi lautan api.., lagu kenangan bapak tentang kota ini pasti sekitaran keroncong ‘Bandung selatan di waktu malam’.. bener ga ya judulnya..? lagunya sih saya tau.. hmm syahdu..
Buat KD.., Bandung tempo dulu adalah sekitar pertengahan tahun 1980, setelah numpang lahir di kalimantan dan TK SD di sumatera.. kenangan paling melekat bagi KD tentu saja SDnya yang di cijagra itu.. masa SMPnya yang cukup jaya **karena jd ketua osis
** dan masa SMA yg cukup membanggakan, karena diakui pernah jadi anggota vokal grup SMA 5 yg terkenal itu.. wqqq
Buat saya…?? panjang neehh urusannya 
Bandung tempo dulu itu.., sekitar tahun 1993.. bentar yaa.. saya bayangkan dulu wangi udara bandung saat dini hari pertama saya memasuki gerbang kota… hmmm.., masih bisa terbayangkan dengan lengkap.. **hanya saja tak bisa dituliskan
**
Tak pernah bisa ceritakan semuanya.. sebagian kecil pernah saya tuliskan.. tapi tak menggambarkan dgn sempurna perjalanan tempo dulu saya di kota ini..
cukuplah kisah suatu pagi, di hari pertama jadi anak kost di sebuah gang kecil, tak jauh dari gedung sate…
saat membuka jendela dikamar atas.. terdengar petikan gitar dibawah sana
“..oh indahnya suasana, bila ku tau siapa namanya..”
vina panduwinata..!!! uuuhhh masa remaja…
,
, 
**KD suka meledek dengan lagu ini, karena merupakan kisah paling sering saya ceritakan**
Dan..
Kota adalah seorang ibu,
dari rahim siapa lahir dirimu yang kedua
Sekali kau pernah mengembara disana,
bagai urat ditapak tangan
kauhafal silangan segala gangnya
Sekali kau bersatu dengan suka dukanya,
dan dia selamanya akan hidup didarahmu..
Saini K.M. (”Kota Suci” 1968)
February 2nd, 2009 by nakjaDimande
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata…
[kami bertiga, sapardi djoko damono]
note:
kemana pisauku..
masihkah akan berdarah..?