tembang di ladang jiwa…
May 1st, 2009 by nakjaDimande
Halaman ini akan berisi puisi-puisiku yang bertema ilalang.
Persembahan untuk seluruh nuansa bening yang telah singgah di ladang jiwa.
MERAH PIPI PEREMPUAN DIENG
ku bertanya tentang perempuan Dieng itu
yang miliki pipi merah bersemu
namun kau hanya membisu
kisahkan ia kau tak mau
dongengkan aku kaupun tak sudi
tentang gemulainya Dewi Banowati
dan garangnya Srikandi, kala menyatu dalam diri
perempuan penguasa dataran tinggi
ku mulai bertanya pada ilalang liar ladang kentang
pernahkah ia rasa genggam jemari sang srikandi?
kutanyakan juga pada kabut Dieng
yang cumbu gemulai sang Banowati sepanjang pagi
dan penghujung ragu bertanya ku pada Matahari
tentang pipi nan memerah karena beku
Mengapa beku? bukankah ada kau, Matahari.
[Bukittinggi, 3 Maret 2010]
::note: matahari tak sudi bercerita, padahal ia menyaksikan semua..
MENCINTA SUNGAI SAAT MASIH DI HULU
aku mencintai sungai saat masih di hulunya
adalah satu aliran tenang bening
hingga bisa kupijak dasar bebatuan
adalah gemericik di ruang hening
hingga bisa kurenungi arah alunansungguh aku takut, desir gelisah
bila tiba saat sungai bertemu aliran sungai lain
dimuara.. harus menyatu dengan lautan
dan menjelma arus.. ombak.. gelombang
yang tak lagi mudah untuk aku tebaknamun aliran sungai tak mungkin terus diam di hulu sini
ada saatnya ia harus pergi jauhjauh dari pandangan dan hatiku..
[Bukittinggi, 18 juni 2009]
::note: tak ada kata ilalang di puisi ini, tapi sebenarnya ia ada.. ilalang tumbuh disepanjang pinggiran sungai saat masih dihulu..
SENYUMAN MANIS SUGIMIN
kala sugimin tersenyum, ilalang dan belalang pun akan berseri
kala sugimin tersenyum, terutama hatiku akan bernyanyi
berbelas tahun senyum seperti itu tak kutemui
dikota manapun diseluruh negerisugimin tidaklah penting tanpa senyumannya itu
senyuman yang menyampaikan seribu makna padakuitu adalah senyuman yang sama belasan tahun lalu
senyuman yang juga diterima orang lain selain aku
tiada pernah berubah kelusatu yang disampaikan oleh senyumannya itu
bahwa hidup takkan pernah berjalan hampa
bila aku mau mencari arti.[Bukittinggi, 7 feb 2006]
::note: apakah Sugimin ilalang juga..? hmm, menurutku dia adalah sejenis pohon kayu manis, karena senyumnya yang fenomenal itu
![]()
akhir-akhir ini aku khawatir bila bertemu Sugimin, khawatir bila dia menyadari bahwa aku membuatkan dia puisi ini.. **smoga sugimin tak sempat kenal internet..
![]()
dan mohon pada kalian agar tak beritahu Sugimin, karena tentu akan membuatku salah tingkah setiap harus melewati portal itu.
KINANTI DAN MENANTI
kau panggil saja aku, kinanti
tentu bukan dengan nama itu ibu memanggilku
tak mengapa, panggil saja aku kinantikarena aku kinanti, memang selalu menanti
menanti hujan untuk bisa berbisik pada pasir
menanti kata yang dialirkan oleh Sang Pemilik Kata
untuk kemudian kualirkan lagi kepadamu‘kinanti’ yang kukenal
adalah sebuah tembang jawa yang aku sendiri tak paham
aku hanya mengerti bahwa tembang itu bernada datar
hingga sulit kubedakan dengan tembang jawa yang lainnyaseperti itulah aku, datar..
sampai kau kebingungan mencari maknaaku kinanti, masih menanti
ada yang berkata aku menanti cinta datang menghampiri
aku ragu, karena seharusnya aku yang menghampiri cintaseharusnya aku yang menghampirimu..
[Bukittinggi, April 2009]
::note: kinanti adalah ilalang.. aku sering melihatnya diladang ini.
Sajak Ilalang kepada Ilalang
maafkan aku, Ilalang
karena dulu tak sempat menuliskan sebaris puisi untukmu
bila saja aku adalah hujan
yang bisa memberikan irama gerimis di helai daunmu
kurasa itu cukup menjadikan puisiku untukmu
seandainya saja aku adalah angin
yang sanggup melambaikan helai daunmu
mungkin bisa menjadi untaian sajakku padamu
tetapi diri hanyalah serumpun ilalang sepertimu
yang bisa kulakukan adalah tumbuh memenuhi ladang
bersamamu dan juga ilalang lain
sehingga ladangpun terlihat elok memukau
semoga cukup menjadi persembahan puisiku
bagimu..
[sajak ilalang kepada ilalang, Bukittinggi, 2 maret 2006]
note: terimakasih untuk Weiza, si penyair tua.. orang pertama didunia ini yang mencintai puisiku.
![]()
Ilalang: Menatapnya Lebih Dalam
bila kau tanya apa keinginanku
akan kujawab bahwa aku ingin menjadi ilalangkarena dia sanggup tumbuh dimanapun
mampu bertahan hujan, dan kemarau
tak pernah kecewa bila tak dikagumi
bahkan terinjakaku ingin menjadi ilalang
karena dia akan tampak indah
bila kau mau berhenti sejenak
dan menatapnya lebih dalam..[Salah satu coretanku di reinkhadija]
Jalan Setapak Duka
sebuah padang ilalang yang sangat luas
yang kau lalui setiap hari di tempat yang sama
akan meninggalkan jejak berupa jalan setapak
aku beri nama jalan setapak dukabiarkanlah ilalang tumbuh subur disana
jangan lagi kau injak setiap lewat
karena kau tak perlu lewati jalan setapak itu
untuk meraih bahagiamu[Jalan Setapak Duka.., 20 juli 2006]
note: puisi ini pernah numpang di hijau daun
3 pic ilalang cantik di atas adalah hasil karya Tony.. makaciy Tony






Sama sama teh, btw puisinya juga bagus bgt tuh…cocok sama pic nya….Cool…hehe
Alhamdulillah.. ilalang bila tumbuh bersama memang cool tony
all about ilalang… ^^
sungguh beruntung sang ilalang,, ga nyangka punya fans seperti bundo…
beruntunglah ilalang dikunjungi sunflower
saya hanya bisa berguman lagi .. hmmmmm …
hmm.., bundo harus hati-hati niy..
karena ‘hmm’ nya deni bisa punya banyak arti
Ck ck ck ck…sejuk nian puisinya bundo…
Membaca puisi mu membuatku laksana sedang berada di tengah padang ilalang nan luas membentang…
hijaunya ilalang laksana mata air yang menggenangi tanah jiwa yang gersang…
Suatu hari ingin rasanya bisa mengunjungi jalan setapak itu setiap waktu bila ku mau…
Mungkin kah itu…?
jalan setapak itu.. tentu saja boleh Rita..
asal jangan jalan setapak duka, nah klo yang itu forbidden
bundo tunggu kedatanganmu, selalu..
Indonesia emank kaya
Bundo jugo kaya kata-kata 
wah puisi yang indah bundo..
sajakmu
membuatku terhenyak kawan. indah
urang awak yo? salam kenal, mudah2an kemari lagi, asik tulisanyo
itu alamnya keren.
riak2 sungai dan hamparan rumput menyatu dalam hening…
hei, bundo mencuri obsesiku tentang hunian idaman.
alam itu. mungkin keterbatasan spek kamera yang hanya bisa menangkap gelombang cahaya terbatas. tapi sudah terbayang bahwa aslinya lebih indah dari apa yang bisa tertuangkan di sini.
ck..ck..ck…hebat banget puisinya
tembang di ladang jiwa…
adakah sukma tumbuh subur disana?
Saya suka sekali dengan dua puisi ini, MENCINTA SUNGAI SAAT MASIH DI HULU.. Sajak ilalang kepada ilalang…
Begitu hidup dan begitu menjiwai. Ada jiwa2 yang rindu kebebasan dan tertahan pada takdir. Itulah ketulusan dan keikhlasan untuk menerima dan menjalani. Salam kenal dan salam santun untuk bunda…
emang asli dri bukit tinggi yach
Salam
ngakunya baru belajar nulis puisi, nyatanya mantap
wah, puisi ny bgus2 ya,,
menyentuh hati dan pemikiran,
serta menuntut kesadaran akan kepedulian (aware to get awareness),,
nice post, Cuy!!
salam kenal ya..
puisinya indah-indah. punya makna yang dalam…
jadi pak sugimin itu tokoh real ya…:)
perlu memeriksa:)
[...] uni Wiend yang pada suatu hari baik nanti bakal ke Dieng, Bundo tadi nitip pesan jangan lupa foto perempuan Dieng dengan pipi merahnya [...]